Articles by "internasional"

Tampilkan postingan dengan label internasional. Tampilkan semua postingan

Presiden Amerika Serikat, Joe Biden/Net 

 

SANCAnews.id – Amerika Serikat menolak ikut serta dalam membantu Israel melancarkan serangan balasan terhadap Iran. Hal tersebut disampaikan Presiden AS Joe Biden kepada Perdana Menteri Benjamin Netanyahu seperti disampaikan pejabat Gedung Putih pada Senin (15/4).

 

Dikatakan bahwa Biden telah memperingatkan Netanyahu tentang Washington yang tidak berpartisipasi dalam serangan Israel terhadap Iran.

 

Selain Biden, Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken dan Menteri Pertahanan Lloyd Austin juga berbicara dengan rekan-rekan mereka termasuk di Arab Saudi, Turki, Mesir, dan Yordania tentang pentingnya menghindari eskalasi regional.

 

Selain itu, mereka terus menegaskan bahwa dukungan AS tetap kuat terhadap Israel.

 

Iran melancarkan serangan udara ke langit-langit Israel pada Sabtu malam (13/4), sebagai respons atas serangan rudal terhadap kedutaan besarnya di Suriah yang menewaskan seorang komandan tertinggi Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC).

 

Namun, hampir seluruh lebih dari 300 rudal dan drone yang diluncurkan Iran berhasil dicegat, sehingga hanya menyebabkan kerusakan kecil pada Israel.

 

Sebagian besar ditembak jatuh oleh sistem pertahanan Iron Dome Israel dan dengan bantuan dari AS, Inggris, Perancis dan Yordania.

 

Satu-satunya cedera serius yang dilaporkan di Israel adalah seorang anak berusia 7 tahun yang terkena pecahan peluru.

 

Pihak berwenang mengatakan pangkalan Angkatan Udara Israel terkena serangan tetapi tetap beroperasi seperti biasa.

 

Mengutip Reuters, lima anggota kabinet perang Netanyahu mendukung tindakan pembalasan dalam pertemuan Minggu (14/4), meski berbeda pendapat mengenai waktu dan skala serangan.

 

Dua menteri senior Israel memberi isyarat bahwa pembalasan tidak akan terjadi dan Israel tidak akan bertindak sendiri.

 

“Kami akan membangun koalisi regional dan menentukan dampak dari Iran dengan cara dan waktu yang tepat bagi kami,” kata Menteri Kabinet Perang, Benny Gantz. (*)


Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mendiskusikan serangan Iran pada Minggu (14/04) dalam kabinet perangnya. 

 

SANCAnews.id – Ketegangan di Timur Tengah meningkat setelah Iran meluncurkan ratusan drone dan rudal bermuatan bahan peledak ke Israel. Ini adalah respons Iran terhadap serangan Israel ke kompleks kedutaan mereka di Suriah dua pekan lalu. Sorotan dunia kini terfokus pada bagaimana Israel akan merespons serangan rudal tersebut.

 

Diberitakan sebelumnya, Iran membalas serangan Israel terhadap gedung konsulat mereka di Damaskus, Suriah, pada 1 April yang menewaskan tujuh pejabat Korps Garda Revolusi Islam.

 

Serangan Iran ke Israel kemarin merupakan serangan langsung pertama mereka terhadap Israel. Iran meluncurkan lebih dari 300 drone dan rudal ke Israel. Kedua negara ini telah terlibat dalam perang bayangan selama bertahun-tahun.

 

Militer Israel mengklaim telah menembak jatuh 99% rudal dan drone yang ditembakkan Iran. Namun, bagaimana Israel akan “menjawab” serangan Iran?

 

Artikel-artikel yang direkomendasikan

Posisi Iran kira-kira begini: "Masalah kami anggap selesai. Jangan serang balik kami. Kalau Anda menyerang, kami akan melancarkan serangan yang jauh lebih besar dan Anda tidak akan bisa menangkisnya."

 

Namun, Israel sudah bersumpah akan memberikan “respons signifikan”. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan “bersama kita akan menang”.

 

Pernyataan terbaru Netanyahu itu menyusul peringatan otoritas Israel pekan lalu bahwa apabila Iran menyerang mereka, maka serangan balasan akan ditujukan langsung ke Iran.

 

Pemerintahan Israel seringkali disebut yang paling garis keras dalam sejarah Israel sendiri.

 

Israel membalas serbuan Hamas pada 7 Oktober 2023 ke wilayah selatan mereka dalam hitungan jam dan terus menghajar Gaza dalam periode enam bulan berikutnya.

 

Kecil kemungkinan kabinet perang Israel untuk tinggal diam atas serangan langsung Iran ini kendati dampaknya di lapangan sudah terukur dan terbatas.

 

Jadi, apa saja opsi Israel?

Pertama-tama, Israel dapat mendengarkan para negara tetangganya dan melakukan apa yang disebut “kesabaran strategis”. Alih-alih membalas Iran dengan setimpal , Israel dapat melanjutkan serangan ke sekutu bayangan Iran di wilayah seperti Hizbullah di Lebanon atau gudang-gudang perlengkapan militer di Suriah – seperti yang sudah mereka lakukan bertahun-tahun.

 

Kedua, Israel bisa membalas dengan melancarkan sejumlah serangan yang dipertimbangkan matang-matang berupa rudal jarak jauh dan hanya menyasar basis peluncuran rudal Iran.

 

Serangan langsung ke Iran oleh Israel seperti ini (alih-alih menyasar kelompok bersenjata yang didukung Iran) bakal dipandang sebagai eskalasi oleh Iran.

 

Atau yang ketiga: Israel bisa meningkatkan eskalasi dengan memperluas target respons mereka dengan mencakup pangkalan-pangkalan militer, banyak kamp pelatihan, dan berbagai pusat komando Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

 

Dua pilihan terakhir berisiko memicu balasan lebih sengit lagi dari Iran. The New York Times – dengan mengutip sumber-sumber intelijen Israel – mengabarkan target-target utama Iran kemarin tampaknya adalah markas militer di Dataran Tinggi Golan.

 

Suara sirine dilaporkan menggema di berbagai penjuru Yerusalem pada Minggu (14/04), saat serangan terjadi. Ledakan demi ledakan pun terdengar kala sistem pertahanan udara Israel menjatuhkan misil dan drone Iran dari atas langit.

 

Otoritas Israel menyebut sekitar 360 amunisi ditembakkan oleh Iran, yang terdiri dari 170 drone peledak, 30 peluru kendali jelajah, dan 120 rudal balistik. Namun Israel membuat klaim kerusakan yang terjadi akibat serangan Iran amatlah minim.

 

Juru bicara IDF (Pasukan Pertahanan Israel), Laksamana Muda Daniel Hagari, mengatakan beberapa misil Iran menghajar wilayah Israel dan menimbulkan kerusakan kecil di satu pangkalan militer – tetapi tidak memakan korban.

 

Hagari berkata, anak perempuan Bedouin berumur 10 tahun mengalami luka serius karena terkena serpihan dari reruntuhan yang jatuh di Arad selatan.

 

Peringatan Iran

Dilansir AFP, Presiden Iran Ebrahim Raisi mengemukakan bahwa “apabila rezim Zionis [Israel] atau pendukungnya berperilaku sembrono, maka mereka akan mendapat balasan yang tegas dan jauh lebih kuat”.

 

IRGC – cabang terkuat dari angkatan bersenjata Iran – menyatakan drone peledak dan rudal itu adalah “pembalasan terhadap kejahatan berulang rezim Zionis [Israel], termasuk serangan ke kedutaan Iran di Damaskus”.

 

Usai ratusan drone peledak dan rudal itu dilepas, utusan Iran ke PBB menyatakan, “persoalan dianggap beres”.

 

Adapun, Kepala Staf Angkatan Darat Iran Mayjen Mohammad Bagheri, kepada stasiun TV milik negara Iran, menyebut mereka telah memperingatkan AS – via Swiss. Isi peringatan itu: jika Amerika mendukung pembalasan maka basis-basis AS di Timur Tengah akan menjadi target Iran berikutnya.

 

Di sisi lain, Menlu Iran Hossein Amir-Abdollahian, seperti dilansir Reuters, mengaku telah mengatakan kepada AS bahwa serangan terhadap Israel akan “terbatas” dan sekadar untuk membela diri.

 

Pertanyaan yang menjadi kunci di sini adalah apakah AS akan terseret dan mengakibatkan perang terbuka antara Iran dan pasukan AS di wilayah.

 

AS mempunyai fasilitas militer di seluruh enam negara Teluk Arab, termasuk di Suriah, Irak, dan Yordania.

 

Semua titik ini bisa menjadi sasaran Iran, yang meski dihadang sanksi internasional selama bertahun-tahun mampu membangun persediaan besar rudal balistik dan rudal lainnya.

 

Iran pun bisa melakukan ancaman yang telah lama diumbar apabila diserang: berupaya menutup Selat Hormuz yang vital nan strategis menggunakan ranjau, drone, dan kapal serang cepat. Dengan begini, Iran dapat menghambat hampir seperempat pasokan minyak dunia.

 

Ini adalah skenario mimpi buruk karena akan menyeret AS dan negara-negara Teluk ke dalam perang satu kawasan. Banyak negara kini berupaya sekuat mati untuk menghindarinya.

 

Bagaimana reaksi dunia menyusul serangan Iran ini?

Presiden AS Joe Biden berbincang dengan Netanyahu setelah serangan Iran dan memastikan “komitmen kuat Amerika atas keamanan Israel”.

 

Biden mengutuk serangan “tak terduga” terhadap Israel. Dia pun menambahkan bahwa AS membantu Israel dan sekutu untuk “menjatuhkan hampir seluruh” rudal dan drone Iran.

 

Biden juga mengatakan akan mengumpulkan “teman-teman pemimpin G-7 untuk mengkoordinasikan respons diplomatik bersama atas serangan kurang ajar Iran”.

 

Pemimpin Dewan Keamanan PBB Vanessa Frazier secara terpisah mengatakan pihaknya menjadwalkan pertemuan darurat atas serangan Iran.

 

“Saya secara keras mengutuk eskalasi serius yang direpresentasikan serangan berskala besar terhadap Israel oleh Iran,” ujar Sekjen PBB António Guterres dalam pernyataannya.

 

Guterres menyerukan “gencatan senjata sesegera mungkin” dan agar semua pihak menahan diri secara maksimal.

 

Perdana Menteri Inggris Rishi Sunak menyebut serangan Iran “sembrono”, sementara Kepala Urusan Luar Negeri Uni Eropa Josep Borrell mengatakan ini adalah “ancaman luar biasa bagi keamanan Timur Tengah”.

 

Kemenlu China mendesak semua pihak agar menahan diri. China melabeli serangan Iran sebagai “imbas teranyar dari konflik Gaza”. Adapun Kemenlu Rusia menyatakan “keprihatinan luar biasa atas eskalasi yang berbahaya”.

 

Prancis menyarankan warganya yang berada di Iran untuk sementara angkat kaki dari sana karena adanya eskalasi militer.

 

Paus Fransiskus dalam pidato publiknya di Vatikan menyuarakan “permohonan dari hati agar semua pihak menahan tindakan apapun yang dapat memicu berkembangnya kekerasan yang berisiko menyeret Timur Tengah ke konflik yang jauh lebih besar”.

 

Ketegangan di Timur Tengah kian meningkat sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 yang menyerang Israel dan menewaskan 1.200 orang.

 

Operasi militer Israel di Gaza usai peristiwa itu, di sisi lain, telah membunuh 33,729 orang. Sebagian besar korban itu adalah warga sipil.

 

Agen mata-mata Israel Mossad membuat klaim bahwa pihak perunding Hamas menolak proposal terbaru yang diajukan para mediator dalam negosiasi perdamaian.

 

Mossad dalam pernyataannya mengatakan hal ini membuktikan pemimpin Gaza dari Hamas, Yahya Sinwar, “tidak menginginkan perjanjian humaniter dan mengembalikan para sandera” dan “terus mengeksploitasi ketegangan dengan Iran”.

 

Pada Sabtu (13/04), Hamas mengukuhkan tuntutannya untuk gencatan senjata permanen di Gaza, penarikan pasukan Israel seutuhnya dari Jalur Gaza, pengembalian warga Palestina yang terusir dari rumahnya akibat perang, dan peningkatan bantuan kemanusiaan ke wilayah tersebut.

 

AS tidak akan ikut dalam serangan balasan ke Iran

Kendati membantu menjatuhkan sebagian besar drone dan rudal serta mengutuk serangan Iran, Gedung Putih memperingatkan Israel bahwa AS tidak akan berpartisipasi dalam serangan balasan ke Iran dalam bentuk apa pun.

 

Pejabat senior AS kepada para wartawan hari Minggu (14/04) mengatakan Presiden Biden meminta PM Netanyahu untuk “berpikir secara masak-masak dan strategis” tentang bagaimana pasukannya membalas serangan langsung Iran yang baru kali ini terjadi.

 

Pejabat yang sama menambahkan pemerintahan Biden meyakini Israel “menang telak” dalam perseteruan yang dimulai dari serangan mereka ke kedutaan Iran di Damaskus yang menewaskan tujuh pejabat Iran.

 

AS juga membuat klaim, operasi melumpuhkan 99% drone dan rudal Iran memperlihatkan keunggulan militer Israel dibandingkan Iran.

 

Pesawat dan armada laut AS menjatuhkan puluhan proyektil Iran saat serangan terjadi. Lebih dari 80 drone dan setidaknya enam rudal balistik dijatuhkan pesawat dan kapal perang AS atau lewat pasukan pertahanan udara lewat Irak.

 

Pusat Komando (Centcom) militer AS dalam data terbarunya mengatakan jumlah ini termasuk tujuh drone dan rudal balistik yang baru hendak diluncurkan dari Yaman.

 

Biden dan Netanyahu berkomunikasi saat “emosi membuncah” setelah 100 rudal balistik Iran secara bersamaan terbang menuju Israel.

 

Dalam pembicaraan via telepon itu, kedua pemimpin negara mendiskusikan “bagaimana cara melambatkan situasi dan berpikir matang-matang” – di sinilah Biden menekankan bahwa Israel “sudah menang telah”.

 

Meski begitu, pejabat tadi menolak mengatakan bahwa Gedung Putih memperingatkan Israel untuk tidak bereaksi secara signifikan. Dia menyebut ini adalah “perhitungan yang harus dilakukan Israel sendiri”.

 

Juru bicara keamanan nasional AS John Kirby berulang kali menyebut dalam wawancara yang disiarkan di berbagai TV AS bahwa negaranya sudah mempertegas kepada Israel untuk menghindari konflik yang lebih besar. Pesan yang sama juga disampaikan AS lewat kanal diplomatik.

 

Kirby dan pejabat yang namanya tidak disebutkan tadi mengatakan AS akan terus membela Israel, tetapi menolak berpartisipasi dalam respons Israel apa pun itu.

 

Di dalam AS sendiri, posisi ini menuai kritik dari para legislator dan mantan pejabat dari berbagai sisi politik.

 

Perwakilan Partai Republik Ohio Mike Turner, yang mengetuai komite intelijen parlemen, menyebut pernyataan Kirby untuk mengurangi eskalasi konflik adalah “salah”.

 

“Kondisinya sudah bereskalasi dan pemerintahan AS perlu menanggapinya,” ujar Turner kepada NBC.

 

John Bolton, yang sebelumnya menjabat sebagai penasihat keamanan nasional AS di bawah Donald Trump, mengatakan AS harus bergabung dengan Israel apabila mereka melakukan serangan balasan ke program nuklir Iran.

 

“Saya rasa Israel dapat menghancurkan atau merusak sebagian dari program itu secara substansial, kalau tidak keseluruhannya,” ujar Bolton kepada NewsNation.

 

“Jujur saja, kalau Israel siap menyerang program nuklir Iran, AS harus dengan kepala tegak bergabung.”

 

Adapun Mike Johnson, yang memimpin dewan parlemen AS, mengatakan pihaknya akan “kembali mencoba” mengesahkan bantuan militer ke Israel setelah negara itu diserang Iran.

 

Upaya-upaya sebelumnya untuk mengirimkan bantuan lebih ke Israel terganjal setelah Demokrat menyerukan paket bantuan juga harus mencakup bantuan ke Taiwan dan Ukraina.

 

Mick Mulroy, mantan wakil menteri pertahanan AS untuk Timur Tengah, kepada BBC mengatakan bahwa bantuan untuk Israel semestinya disahkan “tanpa penundaan”.

 

“Kalau bukan karena bantuan keamanan AS, kita sudah menghadapi perang wilayah yang besar,” ujarnya. “Bantuan itu dan yang untuk Ukraina dan Taiwan adalah bagian dari kepentingan nasional kami. Ini bukanlah bantuan amal, melainkan bagian dari pertahanan nasional AS.”

 

Apakah akan pecah Perang Dunia III?

Dalam penelusuran BBC Indonesia di jejaring media sosial X (sebelumnya dikenal sebagai Twitter), salah satu kekhawatiran yang diutarakan warganet Indonesia adalah serangan Iran ini bisa memicu Perang Dunia III.

 

Kishino Bawono, dosen Hubungan Internasional dari Universitas Katolik Parahyangan dengan fokus kajian Timur Tengah, mengakui eskalasi konflik di Timur Tengah kali ini berbeda dari apa yang pernah terjadi. Alasannya, meski Israel sudah pernah menyerang sekutu Iran, ini baru pertama kalinya hal ini memancing Iran untuk menyerang balik.

 

“Namun, kalau untuk memicu perang dunia ketiga, kita masih harus tunggu beberapa waktu. Jikalau harus ada perang – semoga tidak ada, saya pikir eskalasi Israel-Iran akan menjadi latar belakang, bukan jadi pemicu dari perang,” ujar Kishino kepada BBC News Indonesia.

 

Kishino menyebut butuh eskalasi yang lebih masif untuk menarik negara-negara besar mendeklarasikan perang. Menurutnya, saat ini negara-negara besar masih terlihat memberikan kecaman atau kutukan alih-alih deklarasi perang.

 

Di sisi lain, pengamat menyebut Iran sendiri mengesankan keengganan perang terbuka dengan memperingatkan AS agar tidak aktif terlibat dalam eskalasi ini.

 

“Di sisi lain, AS sebagai pendukung terbesar Israel, juga telah menyatakan tidak akan terlibat aktif dalam serangan atau perang ofensif Israel dengan Iran,” ujar Kishino.

 

“Rusia, China, dan negara-negara Eropa pun juga menyatakan hal yang sama: de-eskalasi dan kutukan – bukan retorika agresif untuk berperang.”

 

Kishino menilai negara-negara besar pun sadar bahwa perang selalu mahal dan memakan biaya – ekonomi, sosial, dan politik – yang besar, dan tidak ada yang mau berperang tanpa justifikasi yang benar-benar jelas.

 

Meski begitu, Kishino mengakui bahwa jika tidak ada penurunan eskalasi pasca serbuan drone dan rudal Iran ini, maka tensi dunia akan terus naik.

 

“Dan ini yang ditakutkan bisa jadi momok bahwa akan ada perang besar dalam masa hidup kita,” pungkasnya. (***)


Presiden Rusia, Vladimir Putin/Net 

 

SANCAnews.id – Pemerintah Rusia akhirnya mengeluarkan tanggapan resmi terkait serangan udara yang dilancarkan Iran terhadap Israel. Dalam pernyataannya pada Minggu (14/4), Kementerian Luar Negeri Rusia menyampaikan keprihatinan mendalam terhadap eskalasi militer yang terjadi di Timur Tengah.

 

“Kami menyampaikan keprihatinan mendalam atas eskalasi berbahaya lainnya di kawasan ini. Kami menyerukan semua pihak yang terlibat untuk menahan diri," bunyi pernyataan tersebut, seperti dimuat Reuters.

 

Rusia juga mengakui bahwa apa yang dilakukan Iran merupakan bentuk pembelaan diri setelah serangan Israel terhadap kompleks kedutaan mereka di Damaskus awal April lalu.

 

Di hari yang sama, Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov juga melakukan pembicaraan telepon dengan Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amirabdollahian.

 

Israel jelas tidak senang dengan tanggapan Rusia. Pasalnya tidak ada kata-kata yang mengarah pada kecaman atau kutukan pada tindakan Iran.

 

Duta Besar Israel untuk Rusia, Simona Halperin bahkan mengatakan bahwa Negara Yahudi mengharapkan Moskow mengutuk serangan Iran.

 

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova membalikkan perkataan Halperin dengan mengungkit sikap Israel yang juga tidak pernah mengutuk serangan tentara Kyiv terhadap Moskow.

 

"Ingatkan saya, kapan terakhir kali Israel mengutuk setidaknya satu serangan Kyiv terhadap wilayah Rusia?” tegasnya.

 

Iran menghujani Israel dengan 300 rudal dan drone pada Sabtu malam (13/4) sebagai pembalasan atas serangan rudal IDF ke konsulat Teheran di Damaskus, Suriah.

 

Militer Israel mengklaim berhasil mencegat dan menghancurkan hampir 99 persen serangan udara Iran, dibantu Amerika Serikat. (*)


Ratusan warga Palestina memenuhi jalan Al-Rashid untuk menyeberang ke Gaza Utara pada Minggu, 14 April 2024/Net 

 

SANCAnews.id – Ratusan warga Palestina berbondong-bondong memadati Jalan Al-Rashid setelah beredar rumor bahwa anak-anak dan perempuan di bawah 14 tahun diizinkan menyeberang ke Gaza Utara pada Minggu (14/4).

 

Namun upaya pulang ke kampung halaman harus kandas di tengah jalan, setelah tentara Israel (IDF) menembak ratusan pengungsi yang menyeberang jalan.

 

Mengutip laporan Press TV, sebanyak lima orang tewas dan beberapa lainnya luka-luka akibat serangan artileri IDF.

 

"Lima korban jiwa, termasuk seorang wanita, dan sejumlah orang terluka tiba di Rumah Sakit Al-Awda di kamp Nuseirat di Jalur Gaza tengah,” ungkap laporan tersebut.

 

Juru bicara militer Israel, Avichay Adraee mengatakan pihaknya telah memperingatkan warga Palestina menjauhi Gaza Utara, tempat di mana perang sengit berlangsung.

 

“Tentara Israel tidak mengizinkan kembalinya warga, baik melalui Jalan Salah al-Din maupun melalui Jalan Al-Rashid. Jalur Gaza bagian utara masih merupakan zona perang dan kami tidak akan mengizinkan kembalinya mereka ke sana," tegasnya.

 

Para saksi membenarkan bahwa tentara Israel meminta mereka untuk kembali ke Jalur Gaza selatan dan menembakkan bom asap ke arah mereka untuk mencegah mereka mencapai utara.

 

Israel mengobarkan perang genosida di Gaza setelah gerakan perlawanan Palestina Hamas melakukan serangan mendadak di wilayah Selatan.

 

Agresi Israel sejauh ini telah menewaskan sedikitnya 33.700 warga Palestina, sebagian besar merupakan perempuan dan anak-anak.

 

Rezim Tel Aviv telah memberlakukan pengepungan total terhadap Gaza, memutus bahan bakar, listrik, makanan, dan air bagi lebih dari dua juta warga Palestina yang tinggal di sana.

 

Perang Israel telah menyebabkan 85 persen penduduk Gaza mengungsi di tengah kekurangan makanan, air bersih, dan obat-obatan, sementara 60 persen infrastruktur di wilayah kantong tersebut telah rusak atau hancur.

 

Pada bulan Januari, keputusan sementara Mahkamah Internasional (ICJ)memerintahkan Tel Aviv untuk menghentikan tindakan genosida dan mengambil tindakan memastikan bantuan kemanusiaan sampai kepada warga sipil di Gaza. (*)


Pengawal Revolusi Iran Meluncurkan Drone Kamikaze dan Rudal Balistik, menunjukkan ledakan menerangi langit di Hebron dan Tel Aviv selama serangan Iran terhadap Israel. Minggu (14/4/2024). 


SANCAnews.id – Situasi politik dan keamanan di Timur Tengah semakin memanas. Ketegangan bermula ketika Israel menyerang Kedutaan Besar Iran di Damaskus, Suriah pada 1 April 2024.

 

Iran kemudian membalas serangan tersebut dengan meluncurkan puluhan drone dan rudal balistik ke Israel pada Sabtu (13/4/2024) malam.

 

Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia (UI), Hikmahanto Juwana menilai, serangan Israel terhadap Kedutaan Besar Iran bisa memicu Perang Dunia III atau Perang Dunia 3 (WW3). Menurut Hikmahanto, nantinya negara-negara dunia juga bisa bereaksi.

 

"Bila AS akan tetap membantu Israel dalam serangan balasan ke Iran bukannya tidak mungkin negara-negara lain seperti Korea Utara dan Rusia akan membantu Iran," ujar Hikmahanto, Minggu (14/4/2024).

 

Sementara itu menurut Hikmahanto, balasan Iran ke Israel itu sejatinya memang sesuai Pasal 51 Piagam Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB).

 

"Iran mendasarkan diri pada hak untuk membela diri berdasarkan Pasal 51 Piagam PBB, konsep yang digunakan oleh Israel saat menyerang Hamas di Gaza hingga saat ini," kata Hikmahanto.

 

Konsep tersebut juga digunakan oleh Israel saat menyerang Hamas di Gaza hingga saat ini. Hikmahanto pun menilai, Pemerintah Indonesia perlu turun tangan agar serangan di Iran maupun Israel tak berlanjut.

 

Menurutnya, Pemerintah RI bisa meminta Dewan Keamanan PBB melakukan sidang darurat atas serangan tersebut.

 

"Bila perlu berinisiatif membuat Resolusi Majelis Umum yang mengutuk tindakan Israel," ungkap Hikmahanto.

 

Indonesia juga bisa melakukan shuttle diplomacy ke AS dan beberapa negara Eropa untuk tak mendukung tindakan Israel.

 

"Ketiga, mendorong rakyat dan pemerintahan dunia agar rakyat dan oposisi di Israel untuk menurunkan PM (Perdana Menteri) Nethanyahu mengingat serangan ke Gaza maupun Iran hanya bisa dihentikan oleh siapa pun yang menjabat sebagai perdana menteri dan tidak dijabat oleh Benjamin Nethanyahu," ujar Hikmahanto.

 

Diketahui, Iran meluncurkan ratusan drone dan rudal balistik ke Israel pada Sabtu (13/4/2024) malam. Serangan rudal balistik Iran menyasar pangkalan udara Nevatim Israel di gurun Negev selatan.

 

Rudal balistik tersebut diluncurkan oleh Pasukan Dirgantara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), berkoordinasi dengan unit tentara Iran lainnya.

 

Rekaman video di media sosial menunjukkan banyak rudal Iran menghujani pangkalan Nevatim.

 

Sebagai informasi, pangkalan udara Nevatim, 1.100 kilometer dari wilayah Iran. Fasilitas ini memiliki bandara dan tiga landasan pacu. Pangkalan itu juga menampung pesawat tempur F-35 terbaru.

 

Israel telah mengonfirmasi pangkalan udara utama mereka rusak akibat serangan rudal-rudal Iran.

 

“Beberapa kerusakan tercatat, termasuk di pangkalan militer di selatan negara itu,” kata juru bicara militer Israel Daniel Hagari, dikutip dari AP News.

 

Iran berjanji akan melancarkan serangan sepuluh kali lebih besar jika Israel memilih untuk kembali membalas dan meningkatkan serangannya. (tribunnews)



 

SANCAnews.id – Keberhasilan Israel mencegat hampir 99 persen drone dan rudal Irak tidak lepas dari dukungan Amerika Serikat. Hal tersebut disampaikan Presiden Amerika Serikat Joe Biden dalam keterangannya, Minggu (14/4).

 

Saat menyuarakan dukungan kuatnya terhadap Israel, Biden mengatakan bahwa pasukan AS membantu menjatuhkan hampir semua drone dan rudal yang ditembakkan oleh Iran.

 

Dia menceritakan bagaimana AS telah memerintahkan pesawat militer dan kapal perusak pertahanan rudal balistik AS ke Timur Tengah dalam beberapa hari terakhir untuk menghadapi serangan balik Iran.

 

"Berkat pengerahan ini dan keterampilan luar biasa dari anggota militer kami (AS), kami membantu Israel menghancurkan hampir semua drone dan rudal yang masuk,” ujar Biden, seperti dimuat AFP.

 

Biden mengaku telah berbicara dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk menegaskan kembali komitmen kuat Amerika terhadap keamanan Israel.

 

"Saya mengatakan kepadanya bahwa Israel menunjukkan kapasitas luar biasa untuk bertahan melawan dan mengalahkan serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya," tegas Biden.

 

Sebagai langkah konkret, Biden juga akan mengadakan pertemuan dengan rekan-rekan pemimpin kelompok negara-negara kaya G7 untuk mengkoordinasikan tanggapan diplomatik terpadu serangan udara Iran.

 

Pada Sabtu malam (13/4), Iran melancarkan serangan udara menuju Israel sebagai bentuk pembalasan atas pemboman gedung konsulat di Suriah yang dilakukan IDF awal bulan ini.

 

IDF mengklaim pasukannya berhasil mencegat hampir 99 persen dari 300 rudal yang dilancarkan Iran. (rmol)


Pengawal Revolusi Iran Meluncurkan Drone Kamikaze dan Rudal Balistik, menunjukkan ledakan menerangi langit di Hebron dan Tel Aviv selama serangan Iran terhadap Israel. Minggu (14/4/2024). 

 

SANCAnews.id – Israel mengonfirmasi pangkalan udara utamanya rusak akibat serangan rudal Iran. Teheran telah berjanji akan melancarkan serangan sepuluh kali lebih besar jika Israel memilih untuk meningkatkan serangannya.

 

Tentara Israel mengonfirmasi bahwa salah satu pangkalannya dirusak oleh serangan drone dan rudal Iran terhadap Israel pada Minggu 14 April.

 

“Beberapa kerusakan tercatat, termasuk di pangkalan militer di selatan negara itu,” kata juru bicara militer Israel Daniel Hagari, seraya menambahkan bahwa kerusakan kecil terjadi di pangkalan itu dan seorang gadis di wilayah Negev terluka akibat pecahan peluru.

 

Media Iran mengonfirmasi serangan rudal balistik Teheran terhadap pangkalan udara Nevatim Israel di gurun Negev selatan.

 

Rudal balistik tersebut diluncurkan oleh Pasukan Dirgantara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), berkoordinasi dengan unit tentara Iran lainnya.

 

Rekaman video di media sosial menunjukkan banyak rudal Iran menghujani pangkalan Nevatim.

 

Pasukan Iran telah melakukan latihan rudal pada bulan Februari tahun lalu, mensimulasikan serangan terhadap fasilitas militer Israel. 

 

Pangkalan udara Nevatim, 1.100 kilometer dari wilayah Iran, menampung pesawat tempur F-35 terbaru. Fasilitas ini memiliki bandara dan tiga landasan pacu.

 

Teheran mengatakan beberapa lokasi dan sasaran lain diserang dalam serangan yang dijuluki “Operasi Janji Sejati” dan mencakup penggunaan ratusan drone dan rudal.

 

Serangan Iran tersebut merupakan respons terhadap serangan udara Israel terhadap konsulat Iran di Damaskus pada tanggal 1 April, yang menghancurkan seluruh bangunan dan menewaskan beberapa pejabat tinggi dan penasihat, termasuk Brigadir Jenderal Mohamed Reza Zahidi dari Pasukan Quds IRGC.

 

Serangan tersebut merupakan pelanggaran yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap perlindungan hukum internasional terhadap misi diplomatik.

 

“Misi ini telah tercapai dan memperoleh hasil yang diinginkan,” kata Kepala Staf Angkatan Darat Iran, Mayor Jenderal Mohammad Hossein Baqeri, pada Minggu pagi.

 

“Sejumlah besar drone, rudal jelajah dan balistik telah digunakan dalam operasi ini dengan taktik yang matang dan perencanaan yang tepat… Meskipun Iran tidak berniat melanjutkan operasi tersebut, rezim Zionis harus ingat bahwa tindakan apa pun terhadap Iran, baik di wilayah Iran atau terhadap pusat-pusat milik Iran di Suriah atau negara lain, akan memicu operasi baru yang lebih besar,” tambahnya.

 

Dia juga menegaskan bahwa Teheran mampu melakukan serangan puluhan kali lebih besar dan bahwa pangkalan-pangkalan AS akan diserang jika Washington memilih untuk bekerja sama dalam setiap respons Israel.

 

Iran Akhiri Serangan Lima Jam Pertamanya ke Israel, Lebih dari 360 Rudal Ditembakkan, Diklaim Sukses, Iran dilaporkan telah mengakhiri serangan lima jam pertamanya terhadap Israel dengan 361 rudal, mengklaim kemenangan penting.

 

Menurut CNN, Iran mengakhiri serangan lima jam pertamanya terhadap Israel dengan total 361 rudal dan UAV diluncurkan.

 

Iran mengakhiri serangan pertamanya. Kantor berita CNN mengutip dua pejabat AS yang mengatakan bahwa gelombang pertama serangan Iran terhadap Israel telah mereda.

 

Serangan dimulai pada malam tanggal 13 April dan berlangsung selama 5 jam, dengan ratusan rudal dan UAV ditembakkan secara besar-besaran ke Israel.

 

Iran mengatakan serangan mereka adalah respons terhadap pemboman Israel terhadap konsulat mereka di Suriah dan menganggap masalah tersebut sudah selesai, serta memperingatkan bahwa mereka akan merespons dalam konteks yang lebih luas jika Israel membalas.

 

Israel telah berjanji untuk menanggapi serangan itu, dan kabinet perang mereka akan bertemu beberapa jam lagi untuk menyelesaikan rencana mereka.  Patut dinantikan, apakah Israel akan merespons serangan Iran ini?

 

Pejabat Iran Menyatakan Serangan Israel 'Sukses'

Para komandan militer Iran menyebut pemboman udara pada Minggu malam terhadap Israel sebagai “sukses” meskipun faktanya 99 persen dari 350 atau lebih proyektil gagal mencapai wilayah Israel.

 

Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran, Mayor Jenderal Mohammad Bagheri, mengatakan bahwa operasi tersebut, yang diluncurkan sebagai serangan balasan menyusul dugaan serangan udara Israel terhadap konsulat Iran di Damaskus bulan ini, telah selesai, dan tujuannya tercapai.

 

Bagheri juga mengungkapkan bahwa Teheran telah mengeluarkan peringatan kepada Amerika Serikat melalui kedutaan Swiss.

 

“Jika AS ikut serta dalam agresi Zionis berikutnya melalui pangkalan atau pangkalan militernya di kawasan dan hal ini menjadi pasti, maka pangkalan, personel, dan fasilitas regional Amerika tidak akan aman di kawasan,” Bagheri memperingatkan.

 

Menghadapi kegagalan yang memalukan dalam serangan langsung Iran yang pertama terhadap Israel, Hossein Salami, komandan utama Garda Revolusi Iran, juga menuduh bahwa serangan tersebut sukses.

 

Intersepsi dilakukan di seluruh wilayah sebelum rudal balistik, drone bunuh diri, dan rudal jelajah mencapai wilayah Israel, sebuah upaya bersama antara Israel dan sekutunya AS, Inggris, Prancis, dan Yordania.

 

Seorang anak perempuan berusia tujuh tahun terluka akibat pecahan peluru di Israel selatan, akibat serangan langsung.

 

Serangan rudal Iran juga menyebabkan kerusakan minimal pada Pangkalan Udara Nevatim yang beroperasi penuh dalam beberapa jam. Tidak ada korban lain yang diketahui.

 

Serangan Iran terjadi setelah seruan tingkat tinggi untuk melakukan pembalasan atas serangan konsulat Damaskus yang menewaskan salah satu anggota tertinggi Garda Revolusi Islam Iran, bersama dengan beberapa perwira lainnya.

 

 Israel Yakin Ancaman Iran Telah Berlalu

Saat ini, Komando Belakang Israel telah mencabut persyaratan perlindungan bagi warganya – sebuah tanda bahwa militer Israel yakin ancaman serangan Iran telah berlalu.

 

The New York Times mengutip dua pejabat Israel yang mengatakan bahwa selama serangan ini, Iran meluncurkan total 185 UAV, 36 rudal jelajah dan 110 rudal permukaan-ke-permukaan, peningkatan dibandingkan statistik. Sebagian besar peluncuran berasal dari Iran, dan sebagian kecil berasal dari Irak dan Yaman.

 

Sebelumnya, AS bersama Israel memantau secara ketat serangkaian peluncuran UAV dan rudal dari Iran, dimulai pada malam tanggal 13 April dan berlangsung hingga pagi hari tanggal 14 April.

 

Pada dini hari tanggal 14 April, jumlah peluncuran secara bertahap menurun. Pasukan AS di seluruh wilayah telah dikerahkan untuk mendukung pertahanan Israel terhadap serangan tersebut.

 

Kantor berita Reuters mengutip tiga pejabat AS yang mengatakan bahwa militer AS menembak jatuh puluhan rudal Iran yang ditujukan ke Israel, serta serangkaian UAV. Menurut dua pejabat tersebut, beberapa rudal Iran ditembak jatuh oleh Angkatan Laut AS.

 

Dalam pernyataannya pada 14 April, Presiden AS Joe Biden mengatakan bahwa hampir semua UAV dan rudal Iran telah dicegat, dan mengumumkan bahwa ia akan mengadakan pertemuan dengan para pemimpin G7 hari ini untuk membahas masalah terkait.

 

Presiden AS juga mengutuk serangan tersebut dan menekankan bahwa Iran mendapat dukungan dari pasukan proksi di Yaman, Suriah, dan Irak.

 

“Atas arahan saya, untuk mendukung pertahanan Israel, militer AS telah mengirimkan pesawat pertahanan rudal balistik dan kapal perusak ke wilayah tersebut selama seminggu terakhir. Berkat pengerahan ini dan keterampilan yang sangat baik. Dengan upaya keras dari tentara Amerika, kami membantu Israel menghancurkan hampir seluruh wilayah Israel semua UAV dan rudal Iran,” kata Biden.

 

Pemimpin AS tersebut menegaskan kembali bahwa ia menegaskan kembali komitmen kuat Amerika terhadap Israel melalui panggilan telepon dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.

 

“Saya mengatakan kepadanya bahwa Israel telah menunjukkan kemampuan luar biasa untuk mempertahankan dan mengalahkan serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya – sehingga mengirimkan pesan yang jelas kepada musuh-musuhnya bahwa mereka tidak dapat secara efektif mengancam keamanan Israel” kata Biden. 

 

Teheran mengklaim kemenangan penting

Bertentangan dengan klaim AS dan Israel, menurut RIA Novosti, Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) Iran mengatakan mereka telah berhasil menghancurkan sasaran militer penting di wilayah Israel.

 

“Untuk menanggapi kejahatan ini seperti peringatan sebelumnya, untuk menghukum para agresor, kami telah menggunakan kemampuan pengintaian strategis, rudal, dan UAV untuk menyerang sasaran militer penting negara tersebut," pernyataan IRGC menyatakan.

 

Kekuatan ini juga mengeluarkan peringatan keras kepada AS, dengan menekankan bahwa setiap dukungan atau partisipasi Washington dalam tindakan yang bertentangan dengan kepentingan Iran akan mendapat tanggapan yang drastis.

 

Sementara itu, televisi pemerintah Iran mengutip pernyataan Kementerian Luar Negeri Iran yang mengatakan:

 

“Jika perlu, Iran tidak akan ragu untuk mengambil tindakan defensif lebih lanjut untuk melindungi kepentingannya dari segala tindakan agresi ilegal dan penggunaan kekuatan. Namun, Teheran sekali lagi menegaskan komitmennya terhadap prinsip-prinsip PBB, Piagam, dan hukum internasional” .

 

Delegasi Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengutip Pasal 51 Piagam PBB tentang hak membela diri dan mengatakan bahwa serangan Teheran adalah respons atas agresi Israel terhadap sasaran diplomatik.

 

"Masalah ini dapat dianggap selesai" - kata delegasi Iran dalam komentarnya setelah serangan itu.

 

Menurut kantor berita AFP, ribuan warga Iran turun ke jalan pada pagi hari tanggal 14 April untuk menunjukkan dukungan terhadap serangan balasan Iran terhadap Israel.

 

Sekelompok pengunjuk rasa berkumpul di luar kedutaan Inggris di Teheran. Para pengunjuk rasa juga berkumpul di dekat makam komandan Garda Revolusi terkenal Qassem Suleimani di kota Kerman, yang terbunuh dalam serangan UAV AS tahun 2020 di Bagdad.

 

Iran Tegaskan Serangan ke Israel Sesuai Pasal 51 Piagam PBB

Misi Tetap Iran untuk PBB mengatakan tindakan militer negara tersebut terhadap Israel didasarkan pada Pasal 51 Piagam PBB mengenai hak sah untuk membela diri dan sebagai tanggapan atas serangan mematikan Israel terhadap konsulat Iran di Suriah, kantor berita resmi Iran IRNA melaporkan pada hari Minggu.

 

Misi Iran membuat pernyataan tersebut ketika menguraikan serangan rudal dan drone skala besar yang diluncurkan negara itu pada Minggu dini hari terhadap Israel sebagai pembalasan atas serangan rudal Israel pada tanggal 1 April di bagian konsuler Kedutaan Besar Iran di Damaskus yang menewaskan tujuh orang warga Iran, termasuk dua komandan veteran, kata laporan itu.

 

Misi tersebut mengatakan bahwa serangan terhadap Israel dapat dianggap selesai. Namun, jika Israel kembali melakukan kesalahan, maka reaksi Republik Islam Iran akan jauh lebih parah.

 

“Ini adalah konflik antara Iran dan rezim Israel, dan Amerika Serikat harus menjauhinya,” peringatannya.

 

Misi tersebut menambahkan bahwa jika Dewan Keamanan PBB mengutuk agresi Israel terhadap misi diplomatik Iran di Damaskus, dan kemudian mengadili mereka yang berada di belakangnya, mungkin Iran tidak perlu menghukum Israel.

 

Korps Pengawal Revolusi Iran (IRGC) mengatakan dalam dua pernyataan terpisah bahwa mereka telah meluncurkan puluhan rudal dan drone dan berhasil menyerang dan menghancurkan sasaran militer penting milik tentara Israel di wilayah pendudukan Palestina, sebagai tanggapan terhadap banyak serangan dan kejahatan Israel.

 

IRGC juga memperingatkan bahwa setiap ancaman Amerika Serikat dan Israel dari negara mana pun akan mendapat tanggapan timbal balik dan proporsional dari Iran. (tribunnews)


Pasukan elite Radwan Hizbullah dilaporkan menyiapkan pembalasan atas terbunuhnya seorang komandan senior unit mereka, Jawad Al-Taweel 

 

SANCAnews.id Kantor berita Iran IRNA mengatakan kelompok Hizbullah di Lebanon telah mengubah permukiman Israel menjadi “kota hantu”.

 

Pernyataan IRNA muncul setelah media pemerintah Israel mulai melaporkan jumlah kerugian akibat konflik Israel-Hizbullah.

 

Konflik ini membawa dampak yang sangat buruk terhadap sektor ekonomi, sosial, pariwisata, dan pertanian.

 

Dua pemukiman Israel bernama Shlomi dan Kiryat Shemona di wilayah Isba al-Jalil wilayah Palestina menjadi pemukiman yang terkena dampak paling parah.

 

Ketua Dewan Pemukiman Metula, Davod Azoulay, mengatakan ada sekitar 100.000 pemukim Israel yang kini terpaksa tinggal di luar pemukiman akibat serangan Hizbullah.

 

Sementara itu, media ternama Israel bernama Yedioth Ahronoth menyebutkan kerugian finansial di bidang perdagangan dan proyek keuangan akibat perang di Gaza diperkirakan mencapai $6 miliar atau Rp95,4 triliun.

 

Sedangkan kerugian di sektor pertanian mencapai $131 juta atau sekitar Rp. 2 triliun. Harga pangan naik hingga 30 persen. Pendapatan dari sektor pariwisata turun 73 persen.

 

Perkembangan terbaru konflik Israel-Hizbullah

Israel pada Senin, (8/4/2024), mengaku telah membunuh seorang panglima Hizbullah dalam serangan udara di Lebanon bagian selatan.

 

Menurut Israel, panglima itu bernama Ali Ahmad Hassin dan menjadi anggota pasukan elite Radwan.

 

Israel menyebut Hassin sebelumnya telah melancarkan berbagai serangan yang menargetkan Israel bagian utara.

 

Berdasarkan keterangan Pasukan Pertahanan Israel (IDF), serangan terbaru Israel itu turut menewaskan dua orang lainnya. The Times of Israel mengatakan serangan itu terjadi Desa Al Sultanya.

 

Adapun pada hari Minggu malam Hizbullah melaporkan bahwa salah satu anggotanya dari kelompok Kafr Kila telah dibunuh saat menjalankan kewajiban jihad. Laporan tersebut muncul setelah IDF mengaku menyerang Hizbullah di Kafr Killa.

 

Sementara itu, Hizbullah telah meluncurkan puluhan roket ke arah Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel.

 

Para pejuang Hizbullah mengatakan mereka menargetkan pangkalan angkatan darat dan pos pertahanan udara di dataran itu.

 

Dikutip dari Al Jazeera, Hizbullah dan Israel mulai saling melancarkan serangan sejak perang di Jalur Gaza meletus pada bulan Oktober 2023.

 

Serangan Israel dilaporkan telah menewaskan sekitar 270 pejuang Hizbullah dalam 6 bulan terakhir.

 

Selain itu, terdapat pula 50 warga sipil yang menjadi korban, termasuk anak-anak, tenaga kesehatan, dan wartawan. (tribunnews)


SancaNews

{picture#} YOUR_PROFILE_DESCRIPTION {facebook#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {twitter#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {google#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {pinterest#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {youtube#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {instagram#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL}
Diberdayakan oleh Blogger.