November 2022



SANCAnews.id – Mantan Menteri Koordinator bidang Kemaritiman Rizal Ramli di periode pertama pemerintahan Presiden Joko Widodo buka-bukaan soal sikap Jokowi dalam membalas dendamnya.

 

Dalam hal ini, Rizal Ramli mengenang cara Jokowi membalas dendam pada mantan Panglima Jenderal TNI Gatot Nurmantyo dan pada Prabowo Subianto.

 

Mengenang cara balas tersebut, Rizal Ramli menyebutkan dia sempat dibikin kagum dengan persiapan Jokowi menyalurkan balas dendamnya.

 

"Yang saya kagum ini dipikirkan secara teliti gitu loh, di deliberasi bagaimana balas dendam dengan cara sophisticated lah persiapannya gitu loh," ungkap Rizal Ramli dalam perbincangannya di Kanal Hersubeno Point.

 

Rizal Ramli juga menyebutkan bahwa gaya politik Jokowi masih tampak feodal dengan cara-cara politiknya.

 

"Jadi ini menunjukkan bahwa Jokowi ini feodal banget, tampangnya si kampung, norak tapi kelakuannya sangat feodal," kata rizal ramli

 

"Salah satu sikap feodal ini kan menganggap semua masalah dianggap masalah pribadi bukan masalah ideologi, masalah kebangsaan. Kadang-kadang dendam pribadi ini bisa berbahaya," tambahnya. 

 

Menurut Rizal Ramli, pemimpin negara tampak terlalu kerdil jika hanya mementingkan dendam dan perasaan pribadi semata.

 

"Cemen lah, kalau ngukur pribadi terus balas dendam sama pribadi."

 

Cerita Balas Dendam Jokowi 

Cerita soal balas dendam ala Jokowi mulanya diungkapkan oleh politikus senior PDI Perjuangan, Panda Nababan.

 

Panda dalam perbincangan di Total Politik menceritkan bagaimana perlakukanJokowi  ke Mantan Panglima Jenderal TNI, Gatot Nurmantyo.

 

Peristiwa balas dendam bermula dari HUT TNI pada 2017 lalu. Pada perayaan itu, Jokowi dibikin kesal oleh Gatot yang kala itu menjadi Panglima TNI.

 

Pasalnya Jokowi dan para menteri dibuat jalan kaki hingga satu kilometer karena kondisi jalanan yang tidak kondisikan oleh pihak TNI.

 

"Saya ceritakan itu di buku tentang Jenderal Gatot, dia [Jokowi] merasa dipermalukan merasa tidak dihargai waktu ulang tahun TNI di Cilegon," ungkap Panda.

 

"Jalan kaki dia [Jokowi], naik taksi istrinya sudah apa kemudian disuruh lah Pratikno cek Kapolda Banten ternyata enggak dilibatkan, tetapi Gatot ngomong ke presiden rakyat begitu membludak karena mencintai TNI padahal tinggal diatur aja lalu lintas," tambahnya.

 

Gatot yang membuat Jokowi 'olahraga' di Cilegon itu tak langsung dibalas telak. Jokowi secara 'halus' melakukan balas dendam ke Gatot di pernikahan putrinya, Kahiyang Ayu.

 

"Di perkawainan anaknya, yang si Bobby jadi mantunya. Tito pakai mawar merah, Pratikno, Luhut segala macam jadi panitia. Dia [Gatot] duduk sama istrinya di pojokan salam saja tidak ada karpet merah, padahal masih jadi panglima," kata Panda.

 

"Tiba-tiba malah dimunculkan yang tak diduga, Moeldoko kasih kata sambutan, yang dibikin jadi pajangan malah Moeldoko, bekas panglima gitu loh itu loh yang bisa aku bisa baca," imbuhnya.

 

Selain Jenderal Gatot, Prabowo Subianto juga pernah kena balas dendam Jokowi. Kala itu Prabowo berkata pada Luhut Binsar untuk tidak perlu membantu memajukan Jokowi sebagai presiden di Pilpres 2014.

 

"Prabowo bilang ke Luhut, Bang enggak usah bantu tukang andong itu mana bisa jadi presiden, haduh tukang andong mau jadi presiden," kata Panda menceritakan Prabowo.

 

"Kemudian tahu apa yang terjadi, dia (Jokowi) bikin acara andong, di bundaran HI keliling tiga setengah jam sama JK, jadi Prabowo 3,5 jam lihat TV ada tukang andong jadi presiden," imbuhnya.  (suara)


SANCAnews.id – Guru Besar Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Prof Aidul Fitriciada Azhari ikut merespon video viral relawan pro Jokowi, yang menyatakan siap bertempur dengan kubu berseberangan.

 

Prof Aidul tidak menyangka jika relawan Jokowi ternyata banyak yang berpikiran fasis.

 

Untuk diketahui, fasisme adalah paham yang berdasarkan prinsip kepemimpinan dengan otoritas yang mutlak atau absolut, di mana perintah pemimpin dan kepatuhan berlaku tanpa pengecualian.

 

"Baru paham jika sirkel Pak @jokowi ini banyak yang berpikiran fasis. Melihat soal politik kebangsaan jadi soal perang," cuit di akun Twitternya @AidulFa dikutip pada Senin, (28/11/2022).

 

Berdasarkan video tersebut, dirinya merasa tak heran kalau polarisasi awet di Indonesia, karena perbedaan politik dipandang sebagai permusuhan.

 

"Picik sekali," tuturnya.

 

Pada video yang beredar, Kepala Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI), Benny Ramdhani menyampaikan pendapatnya di hadapan Presiden Jokowi di sela acara Nusantara Bersatu di Gelora Bung Karno, Sabtu kemarin (26/11/2022).

 

Benny mengatakan bahwa pihak-pihak yang berseberangan harus patuh dengan pemerintah karena 2 kali pilpres sebelumnya dimenangkan oleh kubu Jokowi.

 

"Pak kita ini pemenang pilpres, kita ini besar. Tapi serangan lawan ini masih terus. Sarannya adalah amplifikasi program program dan keberhasilan bapak melalui kemenko," kata Benny dikutip pada Senin, (28/11/2022).

 

Pria yang menjabat sebagai Waketum OKK DPP Partai Nahura tersebut bilang, para relawan sudah sangat gemas dengan perlakukan mereka yang berseberangan dengan pemerintah. 

 

Mereka telah mencemarkan nama baik, menyerang pemerintah, adu domba, hasut bahkan penyebaran kebencian.

 

Mengenai hal tersebut, relawan pro Jokowi siap memerangi kubu yang berseberangan. Bila perlu tempur di lapangan.

 

"Kita gemes pak ingin melawan mereka kalau mau tempur lapangan kita lebih banyak," ucap Benny.

 

Namun, jika mantan Gubernur DKI Jakarta itu tidak mengindahkan saran relawan, maka jalan yang harus ditempuh adalah penegakan hukum yang harus ditata oleh pemerintah.

 

"Semua bisa dijerat dengan hukum. Nah penegakan hukum ini yang harus dilakukan. Karena jika tidak, kami hilang kesabaran ya sudah kita yang melawan mereka di lapangan," ujarnya.

 

Presiden Jokowi yang ada di hadapannya langsung menanggapi saran Benny Ramdhani, Kepala Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) tersebut.

 

"Baik dikencengin," jawab Jokowi singkat. (suara)

 


SANCAnews.id – Pelaku penghina Presiden Joko Widodo (Jokowi) soal ijazah palsu ditangkap di Bali. Selain itu, pelaku yang diketahui bernama Harris Syahputra Damanik, 41 juga ditemukan puluhan video lainnya.

 

Diketahui pelaku yang sudah berusia 41 tahun tersebut ditangkap di salah satu warung di kawasang Kuta, Badung, Bali.

 

Polisi membenarkan pelaku yang berupa sosok pria ditangkap karena menghina Jokowi. Diketahui Pelaku berasal dari Desa Simpang Gambus Kecamatan Limapuluh, Kabupaten Batubara, Sumatra Utara.

 

Dari interogasi pelaku mengaku jika akun YouTube Harus Raja Record adalah miliknya. Polisi juga mengamankan puluhan video lainnya yang ternyata dibuat di Bali.

 

Salah satu video tersebut, terdapat penghinaan pada Jokowi soal ijazah palsu. Pelaku mengungkapkan jika video tersebut dibuat sebagai pelampiasan amarah terhadap kejadian yang berlangsung nasional.

 

Polisi pun mengungkapkan pelaku mengaku menyesal atas video-video yang telah dibuatnya. Karena itu, pelaku tidak ditahan.

 

Polisi memastikan jika pelaku sudah membuat video permohonan maaf dan berjanji tidak lagi mengulang perbuatannya tidak terpuji tersebut. (suara)



SANCAnews.id – Ada kegalauan yang diperlihatkan Joko Widodo menuju akhir masa jabatannya sebagai Presiden Indonesia.

 

Kegalauan Presiden Jokowi terlihat pada narasi-narasi pidato yang kerap mewanti-wanti masyarakat untuk berhati-hati dalam memilih Presiden 2024.

 

"Di beberapa kesempatan panggung politik tanah air, sambutan presiden menitikberatkan soal jangan sampai salah pilih pemimpin yang diasosiasikan dengan calon presiden di 2024 nanti," ujar Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Studi Masyarakat dan Negara (Laksamana), Samuel F Silaen kepada Kantor Berita Politik RMOL, Senin (28/11).

 

Bagi Silaen, kegalauan presiden tidak berlebihan. Sebab di era pemerintahannya, Jokowi sedang rajin melakukan pembangunan dari pinggiran demi pemerataan kehidupan masyarakatnya. Tugas ini tentu tidak mudah dan membutuhkan waktu lama.

 

Apa yang Presiden Jokowi khawatirkan cukup beralasan kuat karena punya pengalaman real saat menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta.

 

Saat itu, Jokowi memprioritaskan program mengatasi banjir, yakni normalisasi. Namun saat ia digantikan wakilnya, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, program tersebut tidak dilanjutkan dan justru diganti dengan istilah naturalisasi.

 

"Inilah yang menjadi salah satu kekhawatiran Jokowi di akhir masa jabatannya. Sebab presiden Jokowi tidak mau pembangunan yang telah dia gagas dan kerjakan jadi mangkrak ketika penerusnya bukan figur yang segaris dengan visi misi Jokowi," tutup Silaen. (*)


SANCAnews.id – Agus Nurpatria, terdakwa kasus obstruction of justice baru mengetahui bahwa narasi tembak menembak yang menewaskan Brigadir J atau Nofriansyah Yosua Hutabarat adalah skenario palsu dari terdakwa Hendra Kurniawan.

 

Keterangan itu disampaikan sang eks Kaden A Ropaminal Divisi Propam Polri ketika menjadi saksi dalam sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Senin (28/11/2022).

 

Sebelum sama-sama meringkuk di penempatan khusus (Patsus) Mako Brimob Polri, Agus mendapat panggilan masuk dari Hendra. Dengan sedikit mengumpat, Hendra memberi tahu kepada Agus bahwa Ferdy Sambo telah membikin cerita bohong.

 

"Gus, kita dikadalin," ucap Agus menirukan percakapan saat itu.

 

"Beliau sempat mengumpat juga," tambahnya.

 

"Maksudnya apa, pak, dikadalin?," timpal Ronny Talapessy, kuasa hukum Bharada E atau Richard Eliezer.

 

"Dibohongi," ucap Agus.

 

Senanda dengan Hendra, Agus mengaku turut mengumpat. Bahkan, dalam sambungan telepon itu, Agus menyebut kalau Sambo sangat tega berbuat hal demikian.

 

"An**g, ka***ret, masa kita dikadalin, Bang. Tega sekali, sih, Bang," beber Agus kepada Hendra sebagaimana percakapan saat itu.

 

"Jadi saudara saksi sebelum dipatsuskan, saudara saksi mendapatkan informasi saudara Hendra Kurniawan dikadalin?" tanya Ronny.

 

"Siap," ucap Agus.

 

Agus juga mengaku kecewa atas apa yang dilakukan oleh eks Kadiv Propam Polri tersebut. Kekecewaan itu seketika diaktualisasi Agus melalui sebuah umpatan.

 

"Saya kecewa," beber Agus.

 

"Kecewa? Apa rasa kecewa dari saksi apa? Reaksi dari saksi?" tanya Ronny.

 

"Itu tadi, Pak, saya sempat mengumpat 'an**ng', 'ka**ret', masa kita dikadalin." (suara)

 

SANCAnews.id – Tim gabungan pencarian dan pertolongan kembali berhasil menemukan 3 jasad korban pada Minggu (27/11). Penemuan jasad tersebut menambah data korban meninggal dunia sementara hingga pukul 17.00 WIB sebanyak 321 orang.

 

"Hari ini ditemukan 3 jenazah sehingga catatan kita semua, berarti dengan ditemukan 3, yang meninggal dunia menjadi 321 orang," ujar Kepala BNPB Letjen Suharyanto dalam konferensi pers Update Penanganan  Gempabumi Cianjur, Minggu (27/11).

 

Kemudian untuk korban hilang yang sebelumnya 14 orang berkurang menjadi 11 orang.

 

Suharyanto menjelaskan bahwa Satuan tugas gabungan juga telah berhasil mengidentifikasi titik pengungsian dengan akumulasi sebanyak 325 titik yang tersebar di 15 kecamatan.

 

Jumlah pengungsi 73.874 orang dengan rincian pengungsi laki-laki 33.713 orang dan pengungsi perempuan 40.161 orang.

 

Sementara untuk infrastruktur yang rusak berat 27.434 rumah, rusak sedang 13.070  dan rusak ringan 22.124 rumah, sehingga total rumah rusak sebanyak 62.628 rumah.

 

"Tentu saja data ini akan terus berkembang sesuai dengan oendataan tim di lapangan," kata Suharyanto.

 

BNPB, kata Suharyanto juga terus mendorong pendistribusian logistik secara bertahap kepada warga terdampak gempa di Kabupaten Cianjur.

 

Suharyanto juga memastikan lokasi pengungsian yang dilaporkan belum mendapat bantuan, akan segera terpenuhi kebutuhannya.

 

"Pendistribusian secara berjenjang mulai dari kepala desa sampai dengan kabupaten mudah-mudahan dapat menjadi lebih baik untuk proses distribusi bantuan," jelas Suharyanto.

 

Hari ini juga Minggu (27/11), Kepala BNPB kembali menyambangi pos pengungsian di Kecamatan Pacet dan Sukatani menggunakan sepeda motor. Dalam kesempatan itu, Kepala BNPB juga memberikan bantuan kepada warga mengungsi.

 

Terkait dengan relokasi warga yang rumahnya rusak berat, saat ini BNPB bersama instansi terkait secara pararel sedang melakukan pendataan.

 

"Untuk yang relokasi sudah mendapat lahan sekitar 2 hektar. Semoga minggu depan sudah mulai pembangunan," tandas Jenderal TNI bintang tiga itu.

 

Dirinya juga menambahkan, bagi warga yang ingin mengungsi ke rumah kerabat dan tetangga untuk sementara waktu, akan mendapatkan bantuan dana tunggu hunian sebesar Rp 500 ribu. (rmol)

 

SANCAnews.id – Gempa bumi guncang Pesisir Selatan, Sumatera Barat dengan magnitudo 4,6 sekitar pukul 18.37 WIB, Minggu (27/11/2022).

 

Menurut catatan BMKG | Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) gempa bumi tersebut merupakan gempa tektonik berlokasi di Muko-Muko, Bengkulu.

 

Dengan titik koordinat 1.56 Lintang Selatan (LS) dan 100.08 Bujur Timur (BT) atau tepatnya berlokasi di darat pada 60 km Barat Daya Painan, Pesisir Selatan, Sumatera Barat pada kedalaman 35 km.

 

"Lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempabumi dangkal akibat patahan lokal," tulis BMKG melalui keterangan tertulis, Minggu 27 November 2022.

 

Adapun dampak dari gempa Muko Muko terasa II MMI di Padang dan Pesisir Selatan.

 

"Sejauh ini belum ada dampak kerusakan yang timbul dari dampak gempa tersebut," ungkap BMKG.

 

"Gempa Bengkulu itu tidak berpotensi Tsunami," beber data laporan BMKG. (suara)



SANCAnews.id – Sebagai pemimpin negeri, Presiden Joko Widodo sebaiknya tidak mengajarkan rakyat untuk melihat sosok atau figur dari bentuk fisik. Mantan walikota Solo itu perlu mengajari rakyat untuk melihat pemimpin dari perilaku, kompetensi, dan rekam jejaknya.

 

Begitu kata aktivis Kolaborasi Warga Jakarta, Andi Sinulingga menanggapi pernyataan Presiden Jokowi yang menyampaikan kriteria calon pemimpin ideal di hadapan puluhan ribu relawannya saat acara Gerakan Nusantara Bersatu di Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta pada Sabtu (26/11).

 

Pernyataan Jokowi yang dimaksud adalah, bahwa pemimpin yang memikirkan rakyat adalah pemimpin yang rambutnya putih, dan wajah yang keriput.

 

"Sebagai kepala negara, sebagai pemimpin, Pak Jokowi tidak boleh mengajarkan rakyat untuk melihat sosok atau figur dari bentuk fisiknya, tak bagus itu, tak mendidik," ujar Andi kepada Kantor Berita Politik RMOL, Minggu (27/11).

 

Selain itu, Andi pun juga berpesan kepada Jokowi, bahwa sebagai pemimpin negara, harusnya mengajarkan bangsa untuk memilih pemimpin yang benar.

 

"Pemimpin itu tergambar dari perilaku dan kompetensi yang bisa dilihat rekam jejaknya, bukan dari bentuk fisik tubuh orang," pungkas Andi. (*)


SANCAnews.id – Kabar tentang dana yang digelontorkan puluhan miliar rupiah dalam acara relawan Joko Widodo yang tergabung dalam Gerakan Nusantara Bersatu di Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta dianggap sebagai tindakan yang nihil kemanusiaan. Sebab di tengah acara bermegah-megahan itu ada rakyat di Cianjur yang sedang berduka akibat gempa bumi.

 

“Lagian ngapain Jokowi ngomong calon pemimpin? Musim kampanye masih lama," ujar Direktur Gerakan Perubahan, Muslim Arbi kepada Kantor Berita Politik RMOL, Minggu (27/11).

 

Muslim mengaku heran karena dalam acara yang digelar pada Sabtu (26/11) itu Jokowi sudah kampanye duluan di tengah massa bayaran seperti yang diberitakan media. Jokowi seperti ingin menggalang kekuatan lebih dulu dibanding yang lain.

 

“Diberitakan dana yang digelontorkan untuk mobilisasi masa bayaran di GBK mencapai puluhan miliar. Kenapa dana itu tidak digunakan untuk bantu korban rakyat yang menderita di Cianjur akibat karena Gempa?" kata Muslim.

 

Dengan begitu, Muslim menilai publik akan menganggap acara dengan memobilisasi massa di tengah duka rakyat sebagai acara yang nihil rasa kemanusiaan.

 

"Acara yang nihil rasa kemanusiaan. Tidak pantas dan patut karena ada rakyat Cianjur yang sedang berduka," pungkas Muslim. (*)


SANCAnews.id – Koordinator Juru Bicara Partai Demokrat Herzaky Mahendra Putra mengkritik acara relawan di Stadion Gelora Bung Karno yang dihadiri Presiden Joko Widodo.

 

Anggaran untuk memobilisasi relawan, menurut dia, dapat disumbangkan untuk korban gempa bumi di Cianjur.

 

"Lebih baik uang (yang) buat mobilisasi relawan kemarin, dipakai buat bantu korban bencana Cianjur. Bakal jauh lebih bermanfaat dan bermartabat," kata Herzaky, hari ini.

 

Herzaky mengatakan saat ini belum tiba waktunya untuk berkampanye.

 

"Tak perlulah sibuk kasih kode sana-sini untuk urusan capres 2024. Apalagi mengumpulkan relawan. Memangnya ini musim kampanye?" kata Herzaky.

 

Herzaky menanggapi pernyataan Presiden Jokowi dalam acara relawan yang menyebut ciri-ciri pemimpin yang layak untuk di pilih di pemilihan presiden 2024. Jokowi menyarankan untuk memilih pemimpin yang memiliki banyak kerutan di wajah hingga rambut berwarna putih semua (sebagai tanda memikirkan rakyat).

 

Menurut Herzaky, pemimpin yang memikirkan rakyat dapat dilihat dari rekam jejak, gagasan, ide serta karya untuk bangsa dan negara.

 

"Punya visi besar untuk negara ini. Sering berbagi pemikiran dan memberikan usulan solusi untuk permasalahan-permasalahan bangsa di berbagai forum ilmiah ataupun forum publik," kata Herzaky.

 

Herzaky menambahkan pemimpin yang memikirkan rakyat merupakan sosok yang berani menyuarakan harapan dan aspirasi rakyat di ruang publik dan membantu memperjuangkan nasib mereka. Pemimpin, juga harus mau duduk bareng dengan rakyat untuk mendengarkan keluhan mereka langsung.

 

"Bukan dari penampilan fisik ataupun jadi artis di medsos. Pencitraan joget sana sini seakan-akan dekat dengan rakyat. Tapi, saat rakyatnya ditindas, diintimidasi, ditekan, malah diam seribu bahasa," kata Herzaky.

 

"Bukan sibuk rekaman bagi bantuan ataupun foto-foto sendiri di lokasi bencana, tapi tak pernah mau dialog ataupun dengarkan keluhan rakyat yang sedang susah atau tertimpa bencana," Herzaky menambahkan. (suara)


SANCAnews.id – Teriakan Jokowi 3 periode menggema pada acara Nusantara Bersatu di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta Pusat, Sabtu, 26 November 2022. Presiden Jokowi pun menanggapi teriakan dari para relawan yang hadir itu.

 

"Jokowi tiga periode, tiga periode," teriak relawan saat Jokowi menyapa dari atas panggung.

 

Teriakan tersebut disambut Jokowi dengan tawa. Dari pantauan Tempo, Jokowi tersenyum dan membentuk angka tiga dengan jarinya merespon teriakan para relawan tersebut.

 

Selain itu, para relawan yang hadir tampak mengenakan baju dengan tulisan 2024 ikut Jokowi. Spanduk kecil yang menyatakan relawan bakal patuh terhadap Jokowi pada Pilpres 2024 juga dibawa oleh relawan.

 

Dalam sambutannya, Jokowi turut mewanti-wanti relawan agar tidak memilih calon presiden yang tak memikirkan rakyat. Dia menyatakan ciri-ciri calon presiden yang memikirkan rakyat adalah yang rambutnya putih dan memiliki banyak kerutan di wajah.

 

"Kalau wajah cling (mulus) dan bersih, tidak ada kerutan di wajah, hati-hati. Lihat rambutnya, kalau putih semua, ini mikiran rakyat ini," kata Jokowi diikuti tepuk tangan dari ribuan relawan yang memadati GBK.

 

Para relawan pun lantas meneriakkan nama Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang dinilai memiiki kemiripan dengan ciri-ciri yang disebut Jokowi tersebut.

 

Jokowi juga meminta relawan untuk tidak memilih calon presiden yang tidak senang turun ke lapangan. Menurut Jokowi, Indonesia merupakan negara yang sangat besar. Oleh karena itu, ia meminta rakyat memilih calon presiden yang mau turun ke lapangan dan bertemu dengan rakyat.

 

"Jangan sampai, jangan sampai, jangan sampai, kita memilih pemimpin yang nanti hanya senangnya, hanya duduk di Istana yang di AC-nya dingin, jangan sampai saya ulang, jangan sampai, kita memilih pemimpin yang senang duduk di Istana yang AC-nya sangat dingin," ujar Jokowi.

 

"Ini negara besar, jangan hanya duduk manis di Istana Presiden. Cari lah, saya ingatkan, cari lah pemimpin yang senang dan turun ke bawah, yang mau merasakan keringatnya rakyat," kata Jokowi.

 

Ketua panitia yang juga Staf Khusus Jokowi, Aminuddin Ma'ruf menyebut jumlah relawan yang hadir dalam acara Nusantara Satu mencapai 150 ribu orang. Mereka berasal dari sejumlah organ relawan Jokowi yang tersebar di berbagai daerah.

 

Aminuddin menyebut para relawan juga akan membacakan deklarasi risalah nusantara oleh perwakilan dari setiap provinsi dalam acara Nusantara Bersatu itu. Deklarasi ini dibacakan karena para relawan ingin satu komando di bawah arahan Jokowi menuju Indonesia Emas 2045. (glc)

 

SANCAnews.id – Beredar video memperlihatkan keributan antara anggota FPI dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) tengah ribut ketika ingin menggalang dana untuk korban Gempa Cianjur.

 

Dalam video yang diunggah oleh pemilik akun twitter @DedetRendie, tampaknya para anggota FPI memuncak amarah kepada Satpol PP karena terkena razia di tengah jalan.

 

Selain itu, salah satu pria mengenakan peci berwarna biru tua menegaskan bahwa para anggota FPI hanya meminta donatur untuk korban Gempa Cianjur di sekitar tempat tersebut.

 

"Pegang-pegang di wilayah Sragen ini di tempat penjualan ini, kita hanya menjalankan penggalangan dana," ucap salah satu pria berpeci biru.

 

Tampaknya, Satpol PP tetap tidak memberikan izin kepada mereka untuk berpencar di wilayah tersebut meski alasannya hanya untuk menggalang dana.

 

Namun, para anggota FPI itu tetap berpencar di tempat berjualan di wilayah Sragen.

 

"Ayo kita oke, sama-sama kita fair hari ini," tandasnya.

 

Sebelumnya, setelah dilarang oleh pemerintah, Pergerakan Front Pembela Islam (FPI) mengubah namanya menjadi Front Persaudaraan Islam.

 

FPI berpotensi menjadi ormas ilegal apabila tidak tercatat sebagai ormas yang telah didaftarkan di pemerintahan.

 

Pemerintah pun memiliki alasan mengapa FPI dibubarkan karena akan berpengaruh terhadap aktivitas kelompok.

 

Maka dari itu, pemerintah memiliki hak untuk melarang dan membubarkan setiap kegiatan yang dilakukan oleh Ormas FPI. (kontenjatim)


 

SANCAnews.id – Kejadian yang begitu kontras diperlihatkan politisi Partai Demokrat, Taufik Rendusara, melalui akun Twitternya dengan memposting dua foto kejadian berbeda. Postingan sosok yang kerap disapa Tope Rendusara itu disampaikan pada Sabtu (25/11).

 

Dua foto yang diposting Tope Rendusara adalah terkait dengan kejadian gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,6 di Cianjur, dan kejadian kerumunan relawan bertemu Presiden Joko Widodo di Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, Jakarta Selatan, pada hari ini, Sabtu (26/11).

 

Foto yang terkait dengan bencana gempa bumi Cianjur, Tope Rendusara menunjukan kejadian seorang ibu menangis sembari menggendong putrinya.

 

Sementara foto yang satunya lagi memperlihatkan kondisi pertemuan Jokowi dengan relawannya yang nampak meriah.

 

Dari dua foto itu, Tope Rendusara menilai ada sesuatu yang bertolak belakang terjadi di negara Indonesia, khususnya tentang gambaran pemerintahan dan rakyatnya.

 

"Kuburan rakyat indonesia di cianjur belum kering dan air mata masih mengalir deras akibat gempa bumi bencana alam jokowi sudah pesta bersama relawannya," ujar Tope dalam cuitannya.

 

"Presiden pesta di atas duka rakyat. Suram," tandasnya. (rmol)


SANCAnews.id  Pegiat media sosial Helmi Felis menyoroti beredarnya potongan video yang menarasikan warga korban gempa Cianjur meminta bantuan kepada Front Pembela Islam (FPI).


Dalam videqo yang diunggah, seorang perempuan yang tidak diketahui namanya itu meminta bantuan pada FPI untuk kebutuhan bahan pokok seperti minyak, beras, dan telur.


Diketahui, perekam video tersebut berada di Kampung Loji, Kelurahan Pamuyanan, Cianjur, Jawa Barat.


"Ini saya dari Kampung Loji Pamuyanan Pak, saya mau minta bantuan nih dari RT 005 RW 05 nih belum mendapatkan bantuan yang minimal maksimal," ujarnya.


"Jadi saya minta bantuannya terhadap FPI tolong segera Pak diperhatikan nih udah terdampar yang namanya ini, banyak anak-anak yang membutuhkan makanan juga termasuk bahan pokok Pak, beras, minyak, telur, dan sebagainya Pak. Tolong Pak diperhatiin ya Pak," lanjutnya.


Menyoroti unggahan video tersebut, Helmi yang juga loyalis Anies Baswedan ini mempertanyakan rasa malu pemerintah lantaran telah membubarkan organisasi tersebut.


Helmi menilai, banyaknya warga yang meminta bantuan ke FPI karena mereka telah merasakan dampak langsungnya dari bantuan tersebut.


"FPI dicari Rakyat, apa gak malu pemerintah yang sudah membubarkannya? Yang membantu dengan ikhlas tentu dapat dirasakan langsung oleh rakyat," ujar @HelmiFelis_ pada Jumat (25/11).


Hal ini turut disetujui warganet, lantaran setiap ada musibah, organisasi yang didirikan oleh Rizieq Shihab itulah yang paling awal memberikan bantuan pada masyarakat.


"Setiap ada benca, yang kena musibah bertanya "FPI mana?", "FPI sudah datang?", Kenapa?? Karena FPI GERCEP membantu bila ada bencana," tulis @Rud***


"FPI dan ATC d musnahkan , mana buzzer janda cs. Kok diam ada bencana," kata @Kha*** (kontenjatim)




 

SANCAnews.id Di depan ribuan relawan, Presiden Jokowi berpesan, jangan salah memilih pemimpin. Parameternya bukan kinerja, namun raut wajah. Banyak kerutan dan uban (putih), pertanda mikirin rakyat.

 

Sebaliknya, kalau wajahnya mulus, kinclong, atau ‘cling’, menurutnya Jokowi, meragukan. “Jadi, pemimpin yang mikirin rakyat itu kelihatan dari penampilan. Dari kerutan di wajah. Kalau wajahnya cling, bersih, tidak ada kerutan di wajahnya, hati-hati,” kata Jokowi dalam acara Gerakan Nusantara Bersatu yang digelar di Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu (26/11/2022).

 

Di sisi lain, mantan Wali Kota Solo dan Gubernur DKI Jakarta ini, menyarankan relawan untuk memilih pemimpin yang wajahnya berkerut dan berambut putih alias dipenuhi uban. Alasannya, sosok seperti itu menandakan pemimpin pro rakyat. Tiap saat selalu mikirin rakyat tap memperdulikan wajahnya dipenuhi kerutan dan uban. “Itu kelihatan dari penampilannya itu kelihatan banyak kerutan di wajahnya karena mikirin rakyat. Ada juga yang mikirin rakyat sampai rambutnya putih semua ada. Ada itu,” kata Jokowi disambut riuh para relawan.

 

Indonesia, kata Jokowi, adalah negara besar. Terdiri dari ratusan juta penduduk, ribuan pulau serta jutaan budaya yang hidup subur selama puluhan tahun. “Kita ini macam-macam, beragam, berbeda semuanya. Suku, kita memiliki 714 suku yang berbeda-beda. Bahasa daerah kita memiliki lebih dari 1.300 yang berbeda-beda. Agama juga kita berbeda-beda. Oleh karena itu pemimpin itu harus menyadari keberagaman Indonesia,” paparnya.

 

Jokowi kembali berpesan kepada relawan agar memilih pemimpin yang mengerti apa yang diinginkan rakyat. Jangan sampai salah pilih yang berdampak kepada masa depan Indonesia. “Pemimpin apa yang kita cari? Hati-hati, saya titip hati-hati. Pilih pemimpin yang ngerti apa yang dirasakan oleh rakyat. Pilih nanti di 2024, pilih pemimpin yang ngerti tentang apa yang dirasakan oleh rakyat,” kata Jokowi.

 

“Juga pilih pemimpin yang tahu apa yang diinginkan oleh rakyat, apa yang dibutuhkan oleh rakyat. Setuju? Jangan…jangan sampai, jangan sampai kita milih pemimpin yang senangnya duduk di istana yang AC-nya dingin,” katanya.

 

Seorang pemimpin negara, kata Jokowi, harus turun untuk mengetahui permasalahan rakyatnya. Jangan hanya duduk manis di istana. “Saya ulang jangan sampai kita memilih pemimpin yang senang duduk di istana yang AC-nya sangat dingin. Ini negara besar. Jangan hanya duduk manis di Istana presiden. Carilah, saya ingatkan carilah pemimpin yang senang dan mau turun ke bawah yang mau merasakan keringatnya rakyat,” tuturnya. (gelora)


SANCAnews.id – Pegiat sejarah, Mazzini GSP, mengomentari acara 'Nusantara Bersatu' yang dihadiri Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebagai pembicara dan ribuan relawannya di Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Sabtu (26/11/2022).

 

Mazzini merasa aneh dengan acara tersebut, karena menurutnya, Presiden Jokowi yang yang sudah menjabat dua periode tidak kunjung membubarkan para relawannya. Padahal, lanjut dia, para relawan dibubarkan setelah Pemilihan Umum (Pemilu) berakhir.

 

"Keanehan yg jarang dianggap aneh, malah dinormalisasi. Sudah jadi presiden 2 periode tapi gak pernah membubarkan relawannya saat pemilu dulu. Aneh sih presiden masa jabatan aktif ngumpulin relawan pemilu pas dulu, padahal di mana-mana relawan pemilu kalau pemilu lewat ya bubarin," tulis Mazzini di akun Twitternya yang dikutip Populis.id, Sabtu (26/11/2022).

 

Dia menjelaskan, tujuan relawan dibubarkan setelah Pemilu agar pemimpin terpilih menjadi milik seluruh rakyat, termasuk orang yang tidak memilihnya saat itu.

 

"Paham sih, relawan itu tetap beliau pertahankan, karena dia (Presiden Jokowi) bukan ketua umum di partai, kalau untuk antisipasi tekanan partai, masih oke," katanya.

 

"Tapi kalau relawan tadi dipakai lagi untuk mobilisasi dukungan massa terkait keputusan yg kontroversial atau digunakan lagi dalam pilkada yg diikuti anggota keluarga dan akhirnya dipakai untuk pemilu seterusnya, ya aneh," lanjut Maziini.

 

Ia pun berseloroh, agar membuat partai baru kemudian relawan tersebut jadi bagian dari pengurunya. "Mending sekalian bikin partai baru, itu relawan jadikan pengurus partai barunya, jadi afdol secara politik," jelasnya.

 

Sebagai informasi, acara yang diberi nama Nusantara Bersatu ini merupakan realisasi dari janji Presiden Jokowi kepada sejumlah kelompok relawan dalam acara Rapat Kerja Nasional (Rakernas) kelompok relawan Pro Jokowi (Projo) pada Mei lalu. Presiden Jokowi sempat berjanji akan menggelar pertemuan dengan seluruh kelompok relawan pada akhir tahun ini. (populis).




SANCAnews.id – Loyalis Anies Baswedan, Andi Sinulingga menyoroti poster 'Jokowi 3 Periode' yang digaungkan ribuan relawan Jokowi dalam Gerakan Nusantara Bersatu memadati Stadion Gelora Bung Karno (GBK), Senayan.

 

Andi Sinulingga mengaku heran mengapa masih ada pihak-pihak yang menginginkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) melanjutkan jabatan hingga ke 3 periode.

 

Hal itu disampaikan Andi Sinulingga dalam akun Twitter pribadinya, pada Sabtu 26 November 2022.

 

"Masih juga ya poster2 Jokowi 3 periode. Besarnya hasrat utk bisa terus berkuasa," ujar Andi Sinulingga.

 

Sebelumnya, ribuan relawan Jokowi yang tergabung dalam Gerakan Nusantara Bersatu memadati Stadion Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, dalam acara silaturahmi nasional, Sabtu (26/11).

 

Pantauan media, hingga pukul 07.00 WIB, para relawan masih antre untuk masuk ke dalam kompleks stadion, sementara yang lainnya terlihat telah memadati kursi di dalam stadion.

 

Mayoritas relawan menggunakan pakaian berwarna putih merah.

 

Beberapa kaos yang digunakan bertuliskan '2024 manut Jokowi', 'Jokowi 2024 Satu Komando'. Ada juga yang membawa poster 'Jokowi 3 Periode'. (wartaekonomi)


Andi Sinulingga.


SANCAnews.id – Mantan Menteri Koordinator bidang Kemaritiman, Rizal Ramli, diketahui sering blak-blakan mengkritik pemerintahan Presiden Joko Widodo.

 

Hal itu yang menjadi tajuk utama di diskusi daring Rizal bersama jurnalis Hersubeno Arief di kanal YouTube Hersubeno Point. Rizal menilai Jokowi tidak mampu memilih menteri yang benar, sementara di sisi lain terus menggenjot pembangunan kendati harus berutang besar.

 

"Akibatnya utangnya banyak sekali, yang akan jadi beban buat rakyat kita. Jadi udahlah Pak Jokowi, wes lah, kalau saya bukain lebih banyak kan lebih malu," kata Rizal, dikutip Suara Manado, Jumat (25/11/2022).

 

Celetukan Rizal ini disambut dengan tawa Hersubeno, yang kemudian mengungkit lagi wacana perpanjangan masa jabatan Jokowi menjadi tiga periode.

 

"Nanti dulu dong, wong mau nambah (jadi) tiga periode, kok malah dibilang yo wes, yo wes," kata Hersubeno, yang mendapat respons cukup mengejutkan dari Rizal.

 

"Itu sih maunya si opung lah," tutur Rizal. "Teman saya Luhut Pandjaitan. Dulu itu begitu, otaknya Luhut lah. Luhut ini mencoba melakukan kudeta konstitusional."

 

Rizal kemudian membandingkannya dengan kudeta militer yang lebih awam di kalangan publik. Sedangkan kudeta konstitusional, menurut Rizal, adalah upaya mengguncang pemerintahan dengan mengubah konstitusinya.

 

Rizal lalu menceritakan masa-masa transisi dari Orde Baru ke era Reformasi. Ia menyebut, saat itu Presiden ke-2 Soeharto sudah mempertimbangkan gagasan untuk tak lagi mencalonkan diri pada tahun 1998.

 

"Habis itu rapat keluarga, (bersama) Ibu Tien dan anak-anaknya. Ibu Tien juga minta, 'Mas jangan maju lagi tahun 1998, kapan sih ngurusin keluarga?'" terang Rizal.

 

"Akhirnya Pak Harto janji sama Ibu Tien dan anak-anaknya nggak bakal maju lagi tahun 98. Tapi yang namanya Harmoko terus (mendorong), 'Pak Harto lagi! Pak Harto lagi!'" tutur Rizal menambahkan.

 

Bahkan demi memuluskan desakannya, Harmoko mengumpulkan massa Partai Golkar di berbagai daerah untuk mendorong Soeharto kembali menjadi presiden. Soeharto sebenarnya sudah sempat menolak gelombang desakan tersebut.

 

"Waktu di Pekanbaru, Pak Harto itu udah begging, udah memelas, jangan saya lagi. Saya sudah top, tua, ompong, peyot, pikun, jangan saya lagi," kata Rizal.

 

Namun desakan terus mengemuka, hingga akhirnya Soeharto kembali menjabat dan berakhir digulingkan oleh gerakan reformasi tahun 1998. Peristiwa penggulingan ini dinilai sebagai akhir yang kurang baik untuk Soeharto.

 

"(Padahal) kalau Harmoko pada waktu itu nggak (mendesak) terus, terus, Pak Harto masih bisa dianggap jadi pahlawan. Jangan-jangan presiden berikutnya nggak becus, (lalu) panggil dia lagi sebagai presiden," terang Rizal.

 

Perangai Harmoko inilah yang kemudian dibandingkan dengan Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi (Marives) Luhut Binsar Pandjaitan.

 

"Teman saya Jenderal Luhut Pandjaitan, saya pikir tadinya jenderal pintar. Tapi karena ambisinya yang luar biasa, (ingin) menguasai semua, lama-lama cita-citanya hanya mau jadi Harmoko jilid dua, (mendesak) 'Terus Jokowi!' segala cara yang nggak benar pun terus," jelas Rizal.

 

"Mohon maaf deh Bang Luhut, sudahlah, kita semua sudah tahu kok kelakuan situ. Business interest itu kita tahu kok. Gayanya dari bener dan nggak bener kita tahu kok. Sudahlah, jangan lagi, kasihan rakyat Indonesia," pungkasnya. (suara)

 

SANCAnews.id – Polisi melarang kedatangan ribuan peserta Reuni Persaudaraan Alumni (PA) 212 untuk ke Jakarta 2021 lalu. Namun, berbeda dari relawan Presiden Joko Widodo (Jokowi) menggelar acara bertajuk Nusantara Bersatu di Stadion Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, Jakarta Pusat, Sabtu (26/11/2022).

 

Padahal, pemerintah melalui Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Zainudin Amali pernah mengatakan, Stadion Utama GBK tidak boleh digunakan untuk konser dan kegiatan lain hingga Piala Dunia U-20 2023 yang digelar mulai 20 Mei sampai 11 Juni tahun depan.

 

Kebijakan diskriminatif itu tampaknya menjadi suatu hal yang lazim diterima PA 212. Wasekjen PA 212 Novel Bamukmin bahkan mengamininya.

 

“Bukan Jokowi namanya kalau tidak adil. Karena jangankan kami didengar aspirasinya, ulama dan habib serta umat Islam yang membela agama dan pancasila malah dikriminalisasi. Bahkan laskar menjadi korban pembunuhan oleh oknum polisi,” kata Novel dikutip di Inilah.com, Sabtu siang.

 

Novel menegaskan, tindakan yang terus menasbihkan pihaknya sebagai orang yang tak punya hak dalam menyampaikan pendapat dan mengemukakan keresahan di depan publik terus menerus dilakukan pihak penguasa.

 

“Sudah pasti Jokowi trus mempertontonkan sikap diskriminatifnya sebagai arogansi kekuasaanya,” sebutnya.

 

Novel turut mencermati kegiatan Musra yang dilakukan relawan Jokowi bak mempertontonkan sikap tidak berempatinya para pendukung penguasa terhadap musibah gempa yang terjadi di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat (Jabar).

 

“Sampai-sampai kita masih dirundung duka dengan musibah gempa bumi dan lain-lain malah menggelar acara temu relawan yang biayanya pasti besar. Dari mana biaya itu didapatkan padahal sudara yg terkena musibah kita perlu bantuan dibanding hanya temu relawan saja,” jelasnya.

 

Jokowi Promosikan Sosok Rambut Putih sebagai Pemimpin

Sebelumnya, di depan ribuan relawan, Presiden Jokowi berpesan, jangan salah memilih pemimpin. Parameternya bukan kinerja, namun raut wajah. Banyak kerutan dan rambut berwarna putih, pertanda sosok yang memikirkan rakyat. Sebaliknya, kalau wajahnya mulus, kinclong, atau cling, menurut Jokowi, meragukan.

 

Ketika disinggung terkait hal itu, Novel Bamukmin tampak sudah memprediksi muatan politis yang diboyong Jokowi ke hadapan para relawannya.“Sudah dipastikan acara temu relawan sebagai agenda politik yang dipersiapkan untuk dukung pencapresan seseorang oleh Jokowi dan bisa jadi diduga kuat dimodali oligarki dimana capres sudah dikantong,” kata Novel. (herald)



SANCAnews.id – Tagar Jokowi trending di media sosial Twitter pada Sabtu (26/11/2022), menyusul Relawan Jokowi dari berbagai elemen menggelar silaturahmi nasional dengan tema “Nusantara Bersatu” yang dihadiri Presiden Jokowi di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu (26/11/2022).

 

Sontak netizen gaduh menanggapi tagar Jokowi yang trending hingga tercatat 75.000 ciutan (Tweets) yang mereka sampaikan. Berikut beragam ciutan mereka.

 

Seperti pemilik akun Twitter @Keycoottt menulis, “Itu yg ikut kebanyakan peserta jamiyah di setiap daerah dan panitia bilangnya buat hadirin pengajian akbar gratis, tau2nya kampanye. Nice pinokio”

 

Lalu akun Twitter @Dadin118 menulis, “Menjual istilah ‘ISTIGOSAH’. Katanya mau istigosah, masa pembukaan inul joged joged. SAMPAH”

 

@Hijabi_Woman menulis, “Pasukan bayaran 🤭🤭🤭🤣”

 

@Mangjojo6 menulis, “1000000% dikadalin suruh pk baju koko tau2 nonton inul ma tipeX”

 

@Joshanan1 menulis, “Klo masanya dah habis sesuai undang2 y diganti karena indonesia negara demokrasi,jgn pak jokowi dijadikan pak soekarno ato pak harto selanjutnya.yakinlah ada anak2 bangsa lain yg jg hebat. aaamiiin”

 

@fajar_sulaksono menulis, “Waduuuuukkkk”

 

@budisuharjo32 menulis, “Salut, berjuang untuk NKRI, jangan beri kesempatan orang mau merebutnya. NKRI harga mati”

 

@antonio_dony_ menulis, “Pasukan nasi bungkus”

 

@ard_enzo menulis, “Bikin maceet wooi suuuu…. Pada ngapain sih luuh… Td gw lewat jd maceet..”

 

@BRHGS2 menulis, “NKRI harga nasbung!”

 

@SonyOktavianus3 menulis, “Bersatunya Grub mobil ESEMKA 🤣🤣🤣🤣🤣" (glc)

.

SancaNews

{picture#} YOUR_PROFILE_DESCRIPTION {facebook#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {twitter#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {google#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {pinterest#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {youtube#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {instagram#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL}
Diberdayakan oleh Blogger.