Latest Post

Presiden Prabowo Subianto saat meresmikan proyek Groundbreaking Ekosistem Kendaraan Listrik Terintegrasi di Karawang, Jawa Barat, Minggu (29/6). (Setpres) 

 

JAKARTA — Presiden Prabowo Subianto meminta masyarakat Indonesia untuk menghormati para pemimpin terdahulu, termasuk Presiden Joko Widodo (Jokowi), atas sumbangsihnya bagi pembangunan nasional.

 

Hal itu disampaikan Prabowo saat meresmikan Groundbreaking proyek Ekosistem Kendaraan Listrik Terintegrasi di Karawang, Jawa Barat, Minggu (29/6).

 

“Tadi disampaikan oleh Menteri ESDM sebagai Ketua Satgas bahwa program ini mulai 4 tahun lalu, Presiden Joko Widodo. Saya selalu mengungkapkan ini, karena saya ingin mengajak seluruh masyarakat, seluruh bangsa kita ini, untuk selalu menghormati pendahulu, selalu menghormati mereka-mereka yang berjasa,” kata Prabowo.

 

Prabowo menjelaskan, kemajuan yang diraih Indonesia saat ini tidak bisa dilepaskan dari kerja keras dan fondasi yang dibangun para pemimpin bangsa. Ia menekankan, pentingnya kesadaran sejarah agar masyarakat tidak melupakan perjalanan panjang yang telah ditempuh bangsa ini.

 

“Hanya dengan kita mengerti bahwa sejarah suatu bangsa adalah sejarah yang panjang. Pembangunan bangsa adalah perjalanan yang sangat panjang," ujar Prabowo.

 

"Bisa dikatakan tiap negara punya Long March. Kalau Tiongkok punya Long March yang penuh dengan liku, penuh dengan pengorbanan, penuh dengan keringat, air mata, dan darah kita pun punya lorong panjang perjuangan kita merebut kemerdekaan dan sekarang perjuangan kita untuk mengisi kemerdekaan,” sambungnya.

 

Prabowo menegaskan, perjuangan bangsa Indonesia belum berakhir. Ia menyebut, kemerdekaan sejati baru terwujud apabila rakyat hidup sejahtera, terbebas dari kemiskinan, kelaparan, dan ketidakadilan.

 

Karena itu, ia mengajak seluruh elemen bangsa agar bersatu dan bersyukur atas karunia yang dimiliki terhadap Indonesia.

 

“Tujuan kemerdekaan adalah suatu negara dan suatu bangsa di mana rakyatnya hidup dalam keadaan yang baik, dalam keadaan yang bebas dari kemiskinan, bebas kelaparan, dan penuh keadilan. Dan ini bisa terwujud apabila bangsa itu pandai menggunakan karunia yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa," tegasnya.

 

Prabowo mengajak masyarakat untuk bersyukur dan introspeksi diri atas setiap kemajuan bangsa.

 

"Kita mengerti, kita bersyukur luar biasa atas keberuntungan bangsa kita, tapi kita juga wajib introspeksi diri kita,” pungkasnya. (jawapos)

 

Dokter Tifa mengaku mendapat teror dan ancaman. Usai persoalkan ijazah Jokowi 


JAKARTA — Usai mempertanyakan ijazah Jokowi, Dokter Tifa mengaku menerima teror dan ancaman. Tak hanya dirinya, anak-anaknya pun menjadi korban teror, termasuk intimidasi langsung hingga doxing atau penyebaran data pribadi di media sosial.

 

Diketahui, Dr Tifa mulai mencurigai keaslian ijazah Jokowi sejak mendengar pernyataan Jokowi pada 2013 lalu, dalam sebuah seminar kepemimpinan di Universitas Islam Indonesia (UII).

 

Dalam seminar tersebut, Jokowi hadir bersama Mahfud MD. Saat itu, moderator Rosiana Silalahi bercanda dengan memasangkan nama Mahfud dan Jokowi sebagai pasangan calon presiden dan wakil presiden untuk Pemilu 2014.

 

"Buya Syafii, silakan pilih mana yang RI 1 dan RI 2," ujar Rosiana kepada Buya Syafii Maarif, yang juga menjadi pembicara dalam acara bertajuk Memimpin dengan Hati tersebut, Jumat, 28 Juni 2013.

 

Buya Syafii lantas menolak menjawab dengan nada bercanda. "Moderatornya kurang ajar, saya ditodong," ujarnya disambut tawa.

 

Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah itu kemudian menjelaskan bahwa calon presiden ideal adalah sosok yang mampu bertindak nyata untuk rakyat, jujur, dan anti pencitraan.

 

"Hanya itu ukurannya, IPK 4 bukan indikator," katanya.

 

Namun, ia menambahkan bahwa IPK calon presiden sebaiknya tidak di bawah 3. Saat bertanya kepada Mahfud tentang IPK-nya, Mahfud menjawab, "IPK saya dulu 3,8."

 

Ketika giliran Jokowi ditanya, ia menjawab, "Dua saja tidak ada."

 

Pernyataan inilah yang kembali mencuat setelah diangkat oleh Roy Suryo, pakar telematika yang juga menjadi salah satu pihak yang dilaporkan ke polisi oleh pihak Jokowi.

 

Ucapan Jokowi itu membuat Dr Tifa mempertanyakan riwayat pendidikannya, yang dikenal sebagai lulusan Fakultas Kehutanan UGM.

 

Ia lalu menelusuri katalog alumni dan data skripsi di UGM, dan menemukan sejumlah ketidaksesuaian terkait nama, jurusan, hingga nomor induk mahasiswa.

 

Pada Maret 2025, Dr Tifa membandingkan ijazah Jokowi dengan ijazah sahabatnya, Aida Greenbury—putri Dekan Fakultas Kehutanan UGM saat itu.

 

Ia menemukan perbedaan ejaan nama dekan dalam kedua ijazah: tertulis “Soemitro” dalam ijazah Jokowi, sementara pada ijazah Aida tertulis “Sumitro”.

 

Perbedaan ini dianggap sebagai bukti ketidaksesuaian dokumen akademik.

 

Temuan tersebut kemudian ia unggah dalam bentuk utas di media sosial. Unggahan itu viral dan memicu kontroversi publik.

 

Sejak saat itu, Dr Tifa mengaku menerima berbagai bentuk tekanan dan teror, termasuk ancaman terhadap anak-anaknya. Ia menyebut anak-anaknya disatroni dan identitas mereka, termasuk KTP, disebarkan.

 

Nelangsa Dr Tifa

 

Curhat pilu Dr Tifa saat ini diketahui dari unggahan terbarunya tentang perlaku tidak menyenangkan yang dia terima sejak mengusi Jokowi.

 

Hal itu diketahui dari unggahan terbarunya, yang ia sampaikan melalui akun X (Twitter) pribadinya pada Sabtu, 28 Juni 2025 pukul 17.27 WIB.

 

Dalam cuitannya, Dr Tifa menyebut bahwa anak-anaknya kini menjadi korban teror, termasuk intimidasi langsung hingga doxing atau penyebaran data pribadi di media sosial.

 

Cuitan tersebut telah ditonton lebih dari 11 ribu kali dan mendapat ratusan komentar serta dibagikan lebih dari 300 kali.

 

"Anak-anak saya diteror. Kost mereka disatroni, dan diancam verbal akan disakiti. Sampai foto-foto KTM dan KTP mereka disebar di sosial media dengan ancaman setiap hari di WA," tulisnya.

 

Tak hanya anak-anaknya, Dr Tifa juga mengaku telah berkali-kali menerima ancaman.

 

Ia menyebut bahwa serangan ini bukan hanya dialaminya sendiri, tetapi juga beberapa tokoh lain yang vokal terkait dugaan ijazah palsu mantan Presiden Joko Widodo.

 

"Selain tentu saja saya sendiri, ancaman sudah tidak terhitung. @SianiparRismon (Rismon Sianipar) mobilnya dirusak berkali-kali. @KRMTRoySuryo (Roy Suryo) dikirimi makhluk aneh-aneh dari dunia Astral," lanjutnya.

 

Dengan nada tajam, Dr Tifa mempertanyakan siapa sebenarnya pihak yang ketakutan hingga menyerang dengan cara-cara semacam itu.

 

"Sebetulnya siapa sih yang ketakutan ini? Kok banci sekali anak-anak pun diserang? Pakai preman dll," sindirnya.

 

"Yang serang pakai tangan orang lain itu yang melakukan kejahatan, penipuan, kebohongan. Yang diserang, tentu saja yang pegang kebenaran."

 

"Jangan terbalik, kecuali Termul pikirannya terbalik-balik."

 

Di akhir cuitan, ia juga menyelipkan kalimat satir:

 

"Btw, siapa yang berobat alasannya liburan antar cucu ya?"

 

Unggahan ini memantik berbagai reaksi dari warganet.

 

Banyak yang menunjukkan simpati dan dukungan moral terhadap Dr Tifa dan rekan-rekannya yang turut disinggung dalam cuitan.

 

Akun @hahahuhu menulis:

 

"Mereka punya segalanya, menghalalkan segala cara agar bu dok dan teman-teman menyerah. Tapi mereka tak sadar bahwa apa yang mereka buat pasti akan mendapat balasannya dari yang Maha Kuasa."

 

Akun @Yuk Berisik juga menambahkan:

 

"Biarlah ancaman itu jadi ladang amal. Kebenaran itu sangat pahit bagi orang yang berbohong."

 

Sementara akun @Indonesia Gelap mendoakan:

 

"Semoga Allah senantiasa melindungi @DokterTifa, @SianiparRismon, dan pak Roy Suryo... memberikan kesehatan, kekuatan, dan kesabaran sebagai lokomotif perjuangan melawan kebodohan, kemunafikan, dan kedzaliman si ijazah palsu."

 

Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari pihak terkait mengenai laporan teror yang diungkapkan oleh Dr Tifa.

 

Universitas Pasar Pramuka Cetak Ijazah Jokowi

 

Nama Pasar Pramuka Pojok ramai jadi sorotan setelah tokoh PDIP, Beathor Suryadi, disebut pernah menyinggung tempat itu sebagai lokasi pembuatan ijazah milik Jokowi.

 

Di tengah polemik lama yang kembali menguat, muncul pertanyaan: mengapa kawasan ini digusur dan akhirnya habis kebakaran?

 

Seperti diketahui, sepekan terakhir narasi Universitas Pasar Pramuka ramai dibicarakan warganet.

 

Universitas Pasar Pramuka yang sepertinya merujuk pada kawasan Pasar Pramuka Pojok yang terletak di Jl. Salemba Raya No.79, Kelurahan Paseban, Kecamatan Senen, Jakarta Pusat kini ramai diperbincangkan.

 

Istilah Universitas Pasar Pramuka diungkap akun X (dulu Twitter) dr. Tifauzia Tyassuma yang menyebut istilah itu dalam konteks ijazah mantan Presiden Joko Widodo alias Jokowi.

 

Dalam unggahan yang tayang pada Senin, 16 Juni 2025 pukul 18.54 WIB, ia menyebut nama Beathor Suryadi, tokoh PDIP, sebagai orang yang pernah menyinggung soal tempat pembuatan ijazah Jokowi.

 

"Universitas Pasar Pramuka (UPP) ditutup tahun 2012, dirobohkan habis 2015. Yang menurut Beathor Suryadi tokoh PDIP, adalah tempat pembuatan ijazah yang dididaftarkan ke KPU DKI Jakarta," tulis Tifauzia, dilansir TribunBengkulu.com.

 

Cuitan itu langsung viral, ditayangkan lebih dari 300 ribu kali dan menuai berbagai komentar dari warganet.

 

"Bisa jadi yg di sampaikan Bambang Tri itu benar semua. Joko Widodo adalah orang yg sangat misterius asal usulnya, anaknya siapa sampai ijazah semua serba rekayasa," tulis akun @Djoko Widodo.

 

Namun komentar lain menyebut lokasi tersebut sudah tidak ada lagi sejak terjadi kebakaran akhir 2024.

 

"Salah dok... Ditutup habis setelah terjadi kebakaran pada bulan Desember 2024, sebelumnya masih ada beberapa lapak di sana... kebetulan rumah saya dekat dengan lokasi tersebut," tulis akun @Gnuga Anaylum.

 

Ada pula yang membenarkan reputasi Pasar Pramuka sebagai tempat pemalsuan dokumen.

 

"Tukang setting di Pasar Pramuka emang terkenal banget tmpat bikin ijazah palsu. Soalnya saya pernah coba-coba mau bikin, sampe ditawarin pake kertas & hologram yg asli," ungkap akun @ghuzzan.

 

Pasar Pramuka Jadi Sarang Pemalsuan

 

Pada tahun 2015, pihak kepolisian pernah turun tangan melakukan penyelidikan jejak pemalsuan di pasar pramuka.

 

Warta Kota memberitakan, polisi mencap Pasar Pramuka Pojok sebagai sarang pemalsu di Jakarta.

 

Tapi sebenarnya ini imbas dari tak dibutuhkannya lagi jasa pengetik dan para pemilik kios tetap berusaha mempertahankan bisnisnya.

 

Maka orderan pemalsuan pun diterima.

 

Pasar ini masuk wilayah RW 06, Kelurahan Paseban, Kecamatan Senen,Jakarta Pusat. Lebih dikenal dengan Pasar Pramuka Pojok atau Pasar Matraman.

 

Tapi nama sebenarnya adalah Pasar Pramuka Jati.

 

Jarkasyi Royani (62), warga setempat yang pernah berbisnis jasa pengetikan dan tahu persis perkembangan pasar itu, menceritakan hal tersebut kepada Wartakotalive.com di rumahnya, Minggu (22/11).

 

"Dulu di tahun 1980an sampai pertengahan 1990an, pasar itu dikenal sebagai Pasar Skripsi. Semua anak kuliah kalau mau mengetik skripsi, maka akan datang ke Pasar Pramuka Pojok itu. Sebab jasa pengetik mesin tik handal ada disana," kata Jarkasyi, dilansir TribunBengkulu.com.

 

Jarkasyi mengaku dulu punya usaha percetakan sekaligus jasa pengetikan.

 

Letaknya dekat dengan Pasar Pramuka Pojok.

 

Bahkan Dia mendirikan usaha itu lantaran tergiur manisnya bisnis tersebut di tahun-tahun itu.

 

"Tahun 1980an itu masa emas usaha jasa pengetikan. Sampai pertengahan tahun 1990an masih okelah," kata Jarkasyi.

 

Tapi, kata Jarkasyi, saat melewati pertengahan tahun 1990an, bisnis jasa pengetikan dan percetakan melewati masa sulit.

 

Krisis moneter menghadang di tahun 1998.

 

"Bisnis percetakan saya habis tahun-tahun itu," ujar Jarkasyi.

 

Tambah parah, ucapnya, omzet usaha jasa pengetikannya pun merosot jauh.

 

Sedikit sekali yang datang mengetik. Dan para pemilik kios jasa ketik pun seluruhnya merasakan penurunan omzet drastis selepas tahun 1998.

 

Jarkasyi menduga itu terjadi lantaran sudah mulai masuk era komputer.

 

Tak ada lagi orang yang butuh mengetik dengan rangkap 9 atau 10 yang sulit dan hanya bisa dilakukan oleh orang yang terampil.

 

Di masa di atas tahun 1998, orang hanya perlu mengetik dengan mudah di komputer, lalu mencetaknya berulang-ulang dengan printer.

 

"Kalau di era 1980an, mengetik itu keterampilan yang dibayar mahal. Sebab seorang pengetik mampu mengetik di kertas yang dirangkap 10. Itu sulit dilakukan, makanya Pasar Skripsi (Pasar Pramuka Pojok) hidup di tahun itu," kata Jarkasyi.

 

Sejak itulah, ucap Jarkasyi, pemilik kios mulai menerima order membuat ijazah palsu, KTP palsu, dan sebagainya.

 

Sampai akhirnya menjadi sarang pemalsu di Jakarta.

 

Jarkasyi mengatakan, sebenarnya sejak masa-masa pemilik kios belum menerima order pemalsuan, sudah banyak terjadi ada pengunjung datang dan meminta mengetik yang ternyata isinya bohong.

 

Atau mencetak sesuatu yang ternyata isinya selebaran penipuan.

 

"Dulu pernah ada kasus sebuah selebaran yang mencatut nama Menkopolhukkam soalnya, itu kejadiannya sebelum tahun 1995," kata Jarkasyi.

 

Penipu itu mencetak di tempat percetakan Jarkasyi, tetapi mengetik dan membuatnya di lokasi Pasar Pramuka Pojok.

 

"Disidang semua lagi itu saya, dan beberapa pengetik di pasar," kata Jarkasyi.

 

Bareskrim Polri Analisis Ijazah Jokowi

 

Sebelumnya, Bareskrim Polri telah melakukan uji laboratorium forensik (labfor) terhadap ijazah sarjana Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) Mantan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi).

 

Uji labfor dilakukan menyusul adanya pengaduan masyarakat oleh Ketua Tim Pembela Ulama dan Aktivis (TPUA) Eggi Sudjana.

 

Dirtipidum Bareskrim Polri Brigjen Djuhandhani Rahardjo Puro menyampaikan bahwa dari hasil uji labfor, ijazah Jokowi dinyatakan identik dengan ijazah pembanding.

 

Pengecekan berdasarkan dari bahan kertas, pengaman kertas, bahan cetak, tinta tulisan tangan, cap stempel, dan tinta tanda tangan dari dekan dan rektor.

 

"Dari peneliti tersebut maka antara bukti dan pembanding adalah identik atau berasal dari satu produk yang sama," ucap Djuhandani dalam konferensi pers di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Kamis (22/5/2025), dilansir Tribunnews.

 

Pihak kepolisian juga telah memeriksa total 39 saksi yang terdiri dari berbagai pihak di Fakultas Kehutanan UGM hingga teman Jokowi selama menempuh studi.

 

"Bahwa terhadap hasil penyelidikan ini telah dilaksanakan gelar perkara untuk memperoleh kepastian hukum tidak ditemukan adanya tindak pidana," lanjut dia.

 

Sebelumnya, Jokowi melalui tim kuasa hukumnya telah menyerahkan ijazah asli SMA hingga universitas kepada Dittipidum Bareskrim Polri.

 

Kuasa hukum Jokowi Yakup Hasibuan mengatakan penyerahan itu dalam rangka adanya aduan dari Ketua Tim Pembela Ulama dan Aktivis (TPUA) Eggi Sudjana terkait dugaan ijazah S1 Jokowi palsu.

 

“Hari ini kami sudah serahkan semuanya (ijazah) kepada pihak Bareskrim untuk ditindaklanjuti, untuk dilakukan uji laboratorium forensik,” katanya di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta, Jumat (9/5/2025).

 

Dia menyebut ijazah asli Jokowi dibawa langsung oleh perwakilan keluarga Jokowi yaitu Wahyudi Andrianto selaku adik ipar.

 

Penyerahan dokumen asli ini, merupakan komitmen Jokowi dalam mendukung proses penyelidikan yang dilakukan Dittipidum Bareskrim Polri.

 

Kejanggalan Analisis Ijazah Jokowi

 

Terpisah, atas hasil analisa yang diumumkan Bareskrim Polri itu, Rismon Sianipar mengurai respon.

 

Seperti diketahui, Rismon Sianipar bersama dua rekannya, Roy Suryo dan Dokter Tifa adalah pihak yang paling ngotot menuding ijazah Jokowi palsu.

 

Karenanya saat mendengar hasil analisa dari Bareskrim Polri kemarin, Rismon tak percaya.

 

Rismon lantas mengurai empat kejanggalan serta hal blunder dari pihak Bareskrim usai mengumumkan analisa ijazah Jokowi.

 

Kejanggalan pertama adalah kata Rismon, Bareskrim telah menyimpulkan ijazah Jokowi asli padahal cuma melakukan uji perbandingan dengan ijazah alumni UGM lain.

 

"Yang saya tonton dari keterangan Dittipidum Bareskrim itu selalu mengulangi kata identik. Kalau kita bicara identik maka dia butuh pembanding.

 

Pertanyaannya, pembandingnya itu diuji enggak otentikasinya? Jadi kalau identik bukan berarti dia otentik asli. Kalau identik ya identik saja, artinya objek A sama dengan objek B," ujar Rismon Sianipar dalam wawancaranya di konten Youtube Refly Harun, dilansir TribunnewsBogor.com pada Jumat (23/5/2025).

 

Lagipula kata Rismon, polisi tidak memberitahukan siapa empat alumni UGM yang ijazahnya dibandingkan dengan Jokowi.

 

Lantaran hal itu, Rismon menganggap hasil analisa Bareskrim tidak bernilai apa-apa.

 

"Dan tidak disebutkan juga ijazah siapa yang menjadi perbandingan itu. Harusnya secara random dong diambil (sebagai pembanding ijazah Jokowi) bukan orang yang menyediakan atau yang selama ini dikenal die hard Joko Widodo. Jadi ya menurut saya tidak bernilai sih hari ini, apa yang kita tunggu-tunggu harusnya kajian ilmiah," pungkas Rismon.

 

"Jadi lucu, pengujiannya identik atau enggak, kesimpulannya otentik. Itu enggak sinkron," sambungnya sambil tertawa.

 

Kejanggalan kedua menurut Rismon adalah polisi tidak melakukan uji kertas dan tinta di ijazah Jokowi.

 

Padahal kata Rismon, dua hal itu adalah penting dilakukan guna menguji keaslian ijazah ayah dari Wakil Presiden Gibran Rakabuming itu.

 

"Harus ada uji yang lain, otentikasi, uji carbon analysis, tekstur kertas tahun itu bagaimana. Terus penanggalan tinta itu kan hal mudah dilakukan, jenis tinta juga bisa dilakukan. Itu kan tidak kita dengar hari ini malah dibandingkan dengan referensi lain yang tidak kita tahu," kata Rismon.

 

Kejanggalan ketiga yang disorot Rismon adalah saat Bareskrim memperlihatkan deretan dokumen yang dibawa Jokowi.

 

Rismon heran dengan warna kertas yang berbeda-beda.

 

Kata Rismon, jika dokumen itu berasal dari tahun 1980-an, harusnya sudah berwarna usang.

 

"Secara visual aja ada beberapa dokumen yang katanya mereka sita, itu kan ada yang sejumlah kertas yang warnanya sudah buram kekuningan, tapi ada sejumlah surat atau berkas yang benar-benar putih. Bagaimana itu? Kayak (dibikin) beberapa tahun ke belakang," imbuh Rismon.

 

"Secara visual komparasi saja saya bisa melihat itu. Makanya pada saat saya memegang skripsi Joko Widodo, ada perbedaan warna yang signifikan mulai dari prakata dan sebelumnya. Itu kan enggak diuji oleh Bareskrim, ini enggak ilmiah menurut saya. Dan tidak dijelaskan bagaimana mereka melakukan uji keidentikan, apa lewat mata, algoritmik atau secara digital, enggak ada penjelasan ilmiah apapun," sambungnya.

 

Lalu hal keempat yang kata Rismon menjadi blunder dari pemaparan ijazah Jokowi oleh Bareskrim adalah perihal lembar pengesahan.

 

Rismon menyoroti betul penjelasan polisi soal lembar pengesahan di skripsi Jokowi.

 

"Apa yang lucu adalah lembar pengesahan skripsi tersebut itu adalah produk dari handpress tanpa menjelaskan bagaimana rekonstruksi menggunakan handpress tahun 1985 menghasilkan sebuah lembar pengesahan yang sekarang saja sama dengan itu. Rapi kali. Jadi kalau tidak direkonstruksi oleh penyidik atau orang yang mengaku dari percetakan perdana?" imbuh Rismon.

 

Terkait dengan lembar pengesahan skripsi Jokowi, Rismon yakin tidak mungkin dibuat di tahun 1985.

 

"Itu kan ada 'dipertahankan di depan dewan penguji'. Coba perhatikan kerapatan dari titik-titik itu, itu produk dari handpress enggak? enggak logis," ungkap Rismon.

 

"Kalau produk dari handpress dengan kerapatan semacam itu, itu menjadi garis."

 

 "Itu enggak bisa dijelaskan ya karena memang tidak ada teknologi zaman itu secantik itu. Ketika kita rekonstruksi pakai microsoft word sekarang, sama loh dengan itu." (tribunnews)

 

Mantan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo/Repro 

 

JAKARTA — Politikus senior PDIP, Beathor Suryadi menduga mantan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo atau Jokowi, menimbun aset senilai triliunan rupiah di tempat tersembunyi.

 

Hal itu disampaikan langsung Beathor saat berbincang dengan Ketua Umum Partai Masyumi, Ahmad Yani dalam video YouTube berjudul "Beathor Suryadi Buka Data dan Bukti Dugaan Ijazah Palsu Jokowi" dikutip pada Minggu, 29 Juni 2025.

 

Awalnya, Beathor menyinggung soal tumpukan utang Indonesia selama dua periode pemerintahan Presiden Jokowi.

 

"Utang kita yang dibikin Jokowi banyak. Ada ke mana? (hasil utang negara) Kan kita enggak bisa melihatnya," kata Beathor.

 

Beathor lantas menyinggung beberapa kasus pejabat Indonesia yang menyembunyikan uang tunai di tempat-tempat tidak terduga.

 

"Seperti orang di Mahkamah Agung punya uang Rp920 miliar ditaruh di kontainer halaman rumahnya. Kita lihat Akil Mochtar naruh uang hasil korupsi di dinding-dinding," jelas Beathor.

 

Praktik inilah yang diduga turut dilakukan Jokowi untuk menyimpan kekayaan selama menjabat sebagai Kepala Negara.

 

"Jokowi lebih cerdas, dia taruh di dalam ruangan tanahnya, ini (di bawah) tempat tidurnya," tutur Beathor.

 

Klaim ini bukan asal sebut. Sosok yang menyebut Ijazah Jokowi dicetak ulang di Pasar Pramuka, Jakarta ini pun siap membuktikan pernyataan tersebut.

 

"Kalau kita bilang, Pak Beathor jangan asal-asal ngomong dong. Buktikan dong. Eh, saya bongkar. Saya bongkar. Kenapa? Karena mau taruh di mana lagi? Kalau kontainer, berapa banyak kontainer itu, triliunan, kan," pungkas Beathor. (rmol)

 

Mantan Tenaga Ahli Kantor Staf Presiden Republik Indonesia, Ali Mochtar Ngabalin bersilaturahmi ke kediaman Joko Widodo di Solo, Jawa Tengah/Ist 

 

JAKARTA — Pegiat media sosial, Jhon Sitorus turut memberikan tanggapannya terkait mantan Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP), Ali Mochtar Ngabalin yang belakangan gencar membela Jokowi terkait isu ijazah palsu.

 

John menilai sikap Ngabalin merupakan bentuk pembelaan membabi buta yang sudah melampaui batas kewajaran.

 

“Namanya peliharaan, yang pasti akan mati-matian membela majikannya sampai ke neraka sekalipun,” kata Jhon di X @jhonsitorus_19 (29/6/2025).

 

Sindiran tersebut merespons pernyataan Ngabalin sebelumnya yang memuji Jokowi sebagai sosok yang saleh dan sabar, di tengah derasnya tudingan seputar keaslian ijazah.

 

Ngabalin juga kerap menyebut isu tersebut sebagai fitnah keji yang tak berdasar. Namun, bagi Jhon, pujian itu justru mencerminkan sikap loyal yang tidak masuk akal.

 

Ia bahkan menyebut bahwa orang-orang seperti Ngabalin merupakan bagian dari apa yang ia istilahkan sebagai gembong termul atau singkatan dari ternak Mulyono.

 

“Jangan heran, gembong-gembong termul akan selalu terdepan membela. Karena dalam kepala mereka, membela Jokowi sudah di luar ambang batas waras,” tandasnya.

 

Sebenarnya,Ali Mochtar Ngabalin, kembali angkat bicara terkait isu dugaan ijazah palsu yang menyeret nama mantan Presiden Jokowi.

 

Ngabalin menegaskan bahwa Jokowi merupakan sosok yang sabar dan bijaksana dalam menghadapi fitnah.

 

"Orang baik, orang soleh tetap teduh dan sabar," ujar Ngabalin di X @AliNgabalinNew (29/6/2025).

 

Ngabalin mengungkapkan bahwa Jokowi pernah berpesan padanya untuk mengedepankan sikap memaafkan dibanding memusuhi. Pesan itu kembali ia sampaikan saat berada di Solo baru-baru ini.

 

“Kalau bisa dimaafkan, kenapa harus dimusuhi? Katanya begitu,” tutur Ngabalin menirukan pesan Jokowi.


Meski demikian, ia juga mengingatkan bahwa ada saatnya ketegasan perlu diambil demi menjaga tatanan budaya dan etika bangsa.

 

“Katanya ada waktunya memberikan pelajaran dan ketegasan agar orang itu tidak dengan gampang dan mudah memfitnah serta merusak tatanan budaya dan toto kromo yang sudah ada sejak leluhur kita. Ini juga menjadi pelajaran bagi yang lain di masa depan,” imbuh Ngabalin.

 

Lebih jauh, Ngabalin melayangkan pujian terhadap Presiden ke-7 RI itu. Ia menilai Jokowi sebagai pemimpin yang luar biasa dalam sejarah republik.

 

“Pantas semua orang salut sama dirimu, Pak. Seluruh rakyat Indonesia sayang denganmu. Sejarah republik ini baru punya pemimpin seperti dirimu, Bapak,” tandasnya.

 

Ngabalin bilang, salam hormat patut diberikan untuk Jokowi dan para alumni Universitas Gadjah Mada (Kagama) harus tetap rukun.

 

“Salam sehat selalu untukmu, Yang Mulia Presiden ke-7 Ir. H. Joko Widodo. Kagama, berbahagialah kalian,” pungkasnya. (fajar)

 

Beathor Suryadi (kanan) bersama Ahmad Yani (kiri)/Repro 

 

JAKARTA — Politikus senior Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Beathor Suryadi mengaku sudah mengantongi data terkini terkait dugaan ijazah palsu mantan Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi).

 

Hal itu diungkap langsung oleh Beathor dalam video yang diunggah di kanal YouTube Bicara Dr Ahmad Yani SH berjudul "Beathor Suryadi Buka Data dan Bukti Dugaan Ijazah Palsu Jokowi" yang diunggah pada Sabtu, 28 Juni 2025.

 

"Saya punya dua informasi. Ini data terbaru. Yang terbaru itu dapat dari tadi Mas Taufik (penggugat ijazah Jokowi di PN Solo)," kata Beathor seperti dikutip RMOL, Minggu, 29 Juni 2025.

 

Beathor mengaku sudah menanyakan kepada seseorang bernama Taufik dimaksud dan kepada warga Solo terkait penggunaan titel Jokowi selama 10 tahun menjadi Wali Kota Solo.

 

"Nah, terus saya juga menanyakan kepada warga Solo pada waktu dua kali Jokowi berkampanye, spanduknya, stikernya, kaosnya, kartu namanya, balihonya, di depannya ada apa. Nah, terus Mas Taufik berkomunikasi katanya dengan Ketua KPU Solo. Katanya dia (Jokowi) pakai dua-duanya, sebagaimana keadaan saja. Jadi, pakai Drs, kadang-kadang pakai Ir," terang Beathor.

 

"Nah, dari penjelasan Mas Taufik kemarin itu, bahwa itu pakai Drs, pakai Ir. Saya melihatnya begini, Selama Jokowi berkuliah di UGM lima tahun, dan lulus diwisuda, dapat Ir. Kok dipakainya Drs? Drs-nya itu dari mana? kampus mana? Kok UGM-nya disingkirkan?" sambungnya.

 

Beathor pun mengungkapkan terkait proses pendaftaran Jokowi sebagai Gubernur DKI Jakarta pada 2012 lalu.

 

"Pada waktu 2012, Tim Solo itu kan datang, menyatakan tidak punya dokumen. Nah, Karena kalimatnya bilang tidak punya dokumen, maka harus kita bikin tim untuk dibuat," tutur Beathor.

 

Beathor menjelaskan, suatu waktu terjadi pertemuan antara tim Solo dengan tim DKI. Tim DKI kata Beathor, menunjuk seseorang bernama Denny untuk melayani kebutuhan tim Solo yang mengutus seseorang bernama Widodo.

 

"Jadi, Widodo dan Denny ini sering ketemu juga dengan Jokowi. Dia bilang begitu. Kami tidak punya dokumen. Maka dibentuklah. Nah, itulah proses. Jadi, Denny adalah orang yang ikut membikin draft. Karena Denny orang Jakarta bukan orang Solo dan segala macam, maka dokumen itu jadi macam-macam. Ada umur mamaknya dengan si Jokowi hanya selisih 11 tahun. Berarti katakan asal bikin. Berarti kan tidak jelas," ungkap Beathor.

 

"Jadi, ada lagi dokumen-dokumen lain yang dibikin yang tidak pas. Tapi yang dijadikan inti adalah dokumen sekolah. Terus dibikinlah dengan foto-foto. Jadi, mungkin Widodo membawa foto banyak yang wajahnya sama. Jadi, SD, SMP, SMA, kampus," sambungnya.

 

Beathor menyebut bahwa, KPU merupakan pihak yang bertanggung jawab untuk menyatakan bahwa ijazah Jokowi asli atau palsu.

 

"Nah, dilacaklah ini ke KPU Solo, sama kawan KPU DKI. Katanya hilang. Nah, karena itu hilang. Nah, padahal legalisir itu kan katanya harus dikonfirmasi. Katanya kan stempel basah. Stempel basah itu akan menjadi lebih basah kalau dari Pramuka, karena lebih dekat dibandingkan dengan ke Jogja, sudah kering di jalan kan?" tutur Beathor.

 

Beathor mengaku melakukan investigasi itu karena merasa terganggu dengan adanya desakan yang menyebut bahwa PDIP harus bertanggung jawab karena telah mengusung Jokowi hingga menjadi presiden.

 

"Saya terganggu. Kalau PDI tanggung jawab, saya lacak. Jadi, saya lacak tuh, ke sana, ke sini, ke sana, saya temuin. Nah, muncul si Bambang Tri itu merepotkan Jokowi setelah dia periode kedua atau kesatu di Solo itu. Nah, jadi muncul lah nama si Bambang Tri ini bahwa Jokowi tidak punya dokumen apapun. Nah, dari situlah terus mekar kan, muncul Roy sama dengan kawan-kawan ini melakukan investigasi itu. Nah, saya menjadi ikut itu karena saya mencari jawaban. Ini diterbitkan di mana? Oleh siapa?" lanjut Beathor.

 

Beathor pun menyoroti investigasi yang dilakukan Roy Suryo dkk yang telah berdialog dengan pemilik kos di Pasar Pramuka.

 

"Nah berarti kan ketemu apa yang saya lacak. Di Solo-nya saya menemukan jawaban dari Ketua KPU Solo bahwa Jokowi menggunakan dua titel, Drs dengan Ir. Nah dari situ kan terus kita lacak ke Jakarta siapa-siapa ketemu tim Solo. Terus kita menemukan lagi jawaban bahwa itu dilakukan di Pasar Pramuka. Jadi apa yang saya lakukan bahwa itu di Pasar Pramuka dikuatkan dengan munculnya nama Pak Iman ini. Bahwa dia pemilik kios dan dia profesor. Jadi apa lagi yang mau saya lakukan kan sudah selesai," pungkas Beathor. ()

 

SN

{picture#} YOUR_PROFILE_DESCRIPTION {facebook#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {twitter#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {google#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {pinterest#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {youtube#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {instagram#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL}
Diberdayakan oleh Blogger.