Latest Post


 

SANCAnews.id – Salah satu Kiyai NU, Muhammad Ishaq Lasem menilai rusaknya NU itu sejak zaman KH. Abdurrahman Wahid atau gus Dur.

 

Diketahui bahwa Kiyai Muhammad Ishaq Lasem sendiri adalah pengasuh salah satu Pondok Pesantren Lasem yang masih bagian dari NU.

 

Kiyai Muhammad Ishaq Lasem sendiri justru menilai bahwa gus Dur adalah tokoh yang merusak NU.

 

“Saya di Nu 20 tahun,” ujar Kiyai Muhammad Ishaq lasem dalam video yang diunggah channel youtube NU Garis Lurus, dengan judul ‘Rusaknya NU Sudah Sejak Zaman Gus Dur’, sebagaimana dilansir pada Sabtu, 5 Maret 2022.

 

“Di Cabang NU Lasem, tahun 84 sampai 2004, saya cucu mbah dowi, saya salut sama kiyai Luthfi, detail sekali,” ujar Muhammad Ishaq Lasem melanjutkan.

 

“Saya engga menanggapi itu, saya cerita sedikit tentang NU,” ujar Muhammad Ishaq lasem melanjutkan.

 

Kemudian, Muhammad Ishaq Lasem secara tegas menyampaikan pendapatnya bahwa NU sudah rusak sejak zaman gus Dur.

 

Selain itu, dirinya juga menjelaskan bahwa pamannya, yaitu kiyai Hamid telah menuduh gus Dur beraliran syi’ah.

 

“jadi begini, NU itu rusak tidak oleh Said Aqil, mulainya gus Dur! ya orang menganggap wali, kalau Lasem menganggapnya itu sesat ya!,” ujar Muhammad Ishaq Lasem menjelaskan.

 

“Pa le saya kiyai Hamid, menuduh gus Dur Syi’ah!, loh betul itu saya saksinya,” ujar Muhammad Ishaq Lasem melanjutkan.

 

“Dan waktu itu gus Dur mau nuntut, di koran-koran itu tahun 89-90 itu,” ujar Muhammad Ishaq Lasem melanjutkan.

 

“Jadi Said Aqil ini kadernya gus Dur!, jadi rusaknya NU itu dari gus Dur!,” ujar Muhammad Ishaq Lasem menandaskan. (terkini)



 

SANCAnews.id – Kembali viral video ceramah Ustadz Zulkifli M Ali yang menyinggung jasad Fir’aun mirip dengan salah seorang yang ada di Indonesia. Hal itu sebagaimana diunggah oleh akun YouTube Al Faruq Channel pada 24 Maret 2020 silam, untuk kemudian diposting ulang oleh akun Twitter @JuwitaMalam13 pada Sabtu 5 Maret 2022.

 

Dalam video tersebut, awalnya Ustadz Zulkifli menjelaskan tentang ciri-ciri Dajjal. Menurutnya, Dajjal itu adalah manusia yang memiliki fisik kurang normal.

 

“Jadi Dajjal ini manusia bukan sistem, seorang laki-laki kata Rasulullah, normal, tetapi fisiknya agak sedikit kurang normal. Dia sedikit lebih pendek dari kalian, lehernya lebih panjang sedikit daripada kalian, rambutnya kribo,” ujar Ustadz Zulkifli dalam video tersebut.

 

Saat ini, kata Ustadz Zulkifli, Dajjal telah lepas di daerah Syam. Sebab, tanda-tanda kiamat terbanyak dilakukan di Syam.

 

“Tentang Dajjalnya, tentang Nabi Isanya, tentang Imam Mahdinya, tentang kekuasaan Ya’juj dan Ma’jujnya, itu terjadinya kebanyakan di Syam. Dan Tanda-tanda Dajjal keluar hari ini adanya di Palestina,” terangnya.

 

Untuk membuktikan itu, Ustadz Zulkifli mengajak jamaah yang hadir untuk langsung menyaksikan di Baitul Maqdis.

 

“Bapak mau bukti, silahkan nanti Maret saya berangkat ke Baitul Maqdis insyaallah. Kita Salat di Masjidil Aqsa, dari situ kita nyambung ke Madinah baru ke Makkah jadi tiga Masjidil Haram langsung kita kunjungi dalam satu kali perjalanan,” ujar Ustadz Zulkifli.

 

Saat menjelaskan rute perjalanan itu, Ustadz Zulkifli kemudian menyinggung perjalanan ke Mesir untuk melihat Fir’aun. Menurutnya, bangkai Fir’aun yang diabadikan mirip dengan salah seorang yang ada di Indonesia.

 

“Plus nanti kita ke Mesir jumpa Fir’aun. Bener kita akan jumpa Fir’aun, bangkai Fir’aun yang Allah abadikan pak, ternyata wajah Fir’aun itu betul-betul mirip dengan seseorang yang ada di Indonesia, lihat saja, kok mirip si Fulan yah, bener-bener pak mirip sekali,” tuturnya.

 

Namun, Ustadz Zulkifli enggan memberitahukan siapa orang yang dimaksud mirip dengan Fir’aun tersebut.

 

“Siapakah orang Indonesia ini? saya tidak mau kasih tau yah,” jelasnya.

 

Tentu saja hal itu menimbulkan rasa penasaran warganet untuk menduga siapa gerangan orang yang dimaksud. Salah seorang netizen kemudian mengatakan, bahwa orang tersebut mirip dengan Jokowi.

 

“Mirip Jokowi” ujar akun atas nama Fandhy SQ.

 

Sementara netizen lain menduga, bahwa orang tersebut sama dengan pelaku yang sedang menghancurkan negeri ini.

 

“Mirip Persis Dengan Yg Sedang Menghancurkan Negri ini,” ujar akun Bunasir Nasir. (terkini)



 

SANCAnews.id – Ribuan Barisan Serbaguna (Banser) di Kabupaten Kendal disiagakan di halaman Stadion Utama Kendal untuk bersiap melakukan perlawanan.

 

Mereka disiagakan dalam  gelar apel pasukan yang merupakan buntut dari rasa ketidakterimaan mereka dengan perlakuan kelompok yang disebut sebagai kelompok intoleran yang terus menyerang Ketua Umum Gerakan Pemuda (GP) Ansor Yaqut Cholil Qoumas dan organisasi Ansor dengan terus memelintir pernyataan suara azan dan gonggongan anjing beberapa pekan terakhir ini.

 

Ketua GP Ansor Kendal, Misbahul Munir mengatakan, polemik suara azan dan gonggongan anjing yang banyak dipelintir untuk menyerang Ketua Umum GP Ansor semakin hari semakin gaduh dan tidak kondusif.

 

"Mereka tahu bahwa Gus Yaqut adalah Ketua Umum kami. Kami tidak terima jika marwah organisasi kami dilecehkan dan Ansor Banser siap menjadi garda terdepan untuk melawannya," kata Misbahul Munir, Jumat sore (4/3/2022).

 

Terkait serangan ke Gus Yaqut, di Kendal tim cyber Ansor sempat memukan postingan yang memelintir dan menyerang. Namun dengan kesigapan tim cybernya, permasalah tersebut akhirnya bisa diselesaikan secara kekeluargaan.

 

"Kejadian itu tidak kami blow up demi menjaga kekondusifan wilayah," ujarnya.

 

Perjuangan sampai titik darah penghabisan akan dilakukan kepada pihak-pihak penebar radikalisme yang menyerang ideologi, akidah dan kerukunan umat di media sosial.

 

"Ansor dan Banser siap berjuang melalui transformasi media sosial," tegasnya.

 

Sementara itu, Komandan Satkorcab Banser Kendal, Alex Nur Abyadi mengatakan, Banser dan Ansor tidak terima dengan perlakuan yang menimpa kepada Ketua umum Gus Yaqut lalu sengaja menggelar apel kesiapsiagaan pasukan.

 

"Yang mengikuti gelar apel ini 2022 pasukan dari jumlah total sekitar 5 ribu Banser yang ada di Kabupaten Kendal. Hanya separuhnya saja," kata Alex.

 

Dia menegaskan, gelar apel pasukan dilakukan dengan prokes ketat. Hal ini dapat dilihat dari barisan ribuan Banser yang dalam posisi menjaga jarak dan memakai masker.

 

Selain itu, semua Banser di Kabupaten Kendal yang dipimpinnya telah melaksanakan vaksinasi hingga tahap dua. Bahkan sebagian yang lainnya juga telah mengikuti vaksinasi Booster. (inews)



 

SANCAnews.id – Pernyataan Menko Polhukam Mahfud MD yang menyebut telah mengumpulkan sejumlah saksi sejarah terkait dengan hilangnya nama Presiden ke-2 Soeharto dari serangan umum 1 Maret dibantah anak Letkol (purn) Wiliater Hutagalung, Batara Hutagalung.

 

Dalam sebuah wawancara di salah satu televisi swasta, Mahfud menyamapaikan bahwa ia mengumpulkan sejumlah saksi sejarah dalam beberapa kali seminar yang diselenggarakan oleh pemerintah.

 

“Saya tidak pernah dipanggil oleh tim/panitia seminar dalam tiga seminar tersebut,” kata Batara Hutagalung dalam keterangan tertulis, Jumat (4/3).

 

Batara kemudian menjelaskan, pada acara 27 Januari 2022 ia bertemu dengan Menko Polhukam Mahfud MD. Saat itu, kata Batara, Mahfud MD meminta tulisan mengenai Serangan Umum 1 Maret 1949.

 

“Kebetulan waktu itu saya membawa buku autobiografi ayah saya, Letkol TNI (purn.) dr. Wiliater Hutagalung yang saya berikan kepada beliau,” beber Batara Hutagalung.

 

Batara menjelaskan bahwa buku autobiografi itu ditulis cukup rinci, dari mulai perintah Panglima Besar Jenderal Sudirman kepada Letkol dr. Wiliater Hutagalung, kemudian rapat di markas Divisi III tanggal 18 februari 1949, dan siapa-siapa yang hadir. Hingga siapa tokoh lain yang dihubungi oleh a.l. Wakil Kepala Staf Angkatan Perang, Kol. TB Simatupang.

 

Batara mengatakan, naskah buku autobiografi ini ditulis tahun 1986. Naskah ini yang menjadi dasar pengusulan Tanda Kehormatan Bintang Gerilya tahun 1994.

 

“Yang mengurus tanda Kehormatan Bintang Gerilya untuk Letkol TNI (Purn.) dr. Wiliater Hutagalung adalah Mayjen TNI Pranowo, waktu itu adalah Sekretaris Militer Presiden Suharto, atas perintah langsung dari Presiden Suharto,” ungkapnya. (rmol)



 

SANCAnews.id – Ekonom senior, Rizal Ramli kembali mengkritik soal wacana perpanjangan jabatan presiden dan perubahan undang-undang (UU) tentang durasi jabatan presiden. Menurut Rizal, perpanjangan kekuasaan merupakan ilegal.

 

Mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman itu lantas mengingatkan bahwa Jokowi tidak sekuat kepala negara sebelumnya, jika jabatan presiden diperpanjang.

 

"Mohon maaf Mas Jokowi, anda tidak kuat-kuat amat spt Pak Harto, Gus Dur,  Mbak Mega, jadi sing eling,sing eling," tambah dia.

 

Rizal lantas menyindir dengan mengatakan jika di luar negeri saat ini sedang mengkhawatirkan perang dunia ke-3, di Indonesia malah sedang takut soal tiga periode.

 

PDIP tegaskan tolak perpanjangan masa jabatan presiden 

Penolakan perpanjangan waktu jabatan presiden juga dilontarkan sejumlah pihak, salah satunya anggota Komisi XI DPR RI Marinus Gea. Ia menegaskan pihaknya menolak perpanjangan jabatan presiden dan perubahan undang-undang (UU) tentang durasi jabatan presiden.

 

"Sikap PDI Perjuangan jelas bahwa kami menolak adanya perpanjangan dan menolak adanya revisi tentang jabatan presiden. Jadi, itu tegas," kata Marinus dalam web seminar "Amendemen UUD 1945: Lobi-Lobi Masa Jabatan Presiden?", seperti dipantau dari Jakarta, Jumat.

 

Anggota DPR dari Fraksi PDI Perjuangan itu mengatakan sikap Sekretaris Jenderal (Sekjen) PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto menunjukkan partai banteng bersikap final pada pendiriannya, dengan menolak perpanjangan jabatan presiden dan juga menolak amendemen Undang-Undang Dasar Negara RI 1945 (UUD 1945) terkait perubahan masa jabatan presiden.

 

"Saya tegaskan tidak ada perpanjangan jabatan presiden, mau alasan apa pun itu; karena itu akan menjadi sebuah persoalan dan inkonstitusional," katanya.

 

Dia juga menjelaskan anggota Fraksi PDI Perjuangan di DPR sebenarnya belum terpikir untuk melakukan amendemen UUD 1945, apalagi memperpanjang kepemimpinan kekuasaan presiden.

 

Dia mengungkapkan hingga saat ini parlemen belum pernah melakukan pembicaraan secara formal terkait amendemen UUD 1945.

 

Munculnya polemik amendemen kelima UUD 1945 dan berkembangnya usulan presiden tiga periode tersebut dipicu oleh pernyataan pribadi para anggota DPR, yang menjadikan amendemen UUD 1945 sebagai isu dan bahan pemberitaan media.

 

"Saya sampaikan bahwa sama sekali tidak ada agenda itu di DPR. Bahkan, dari partai-partai pun tidak ada agenda formal yang sudah disampaikan, karena konstitusi kita sudah final bahwa masa jabatan presiden dan wakil presiden itu hanya dua kali," ujarnya.

 

Dia mengatakan hampir seluruh fraksi di DPR tidak menyetujui adanya perubahan UU untuk memperpanjang masa jabatan presiden dan wakil presiden RI menjadi tiga periode.

 

"Hampir semuanya, kalau kita tanya secara terpisah, tidak setuju ada perpanjangan tiga periode," ujarnya. (era)


SN

{picture#} YOUR_PROFILE_DESCRIPTION {facebook#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {twitter#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {google#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {pinterest#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {youtube#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {instagram#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL}
Diberdayakan oleh Blogger.