Latest Post



SANCAnews – Mantan Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ustaz Tengku Zulkarnain kembali berkicau di media sosial. Kali ini, Tengku Zulkarnain mengomentari kasus Permadi Arya alias Abu Janda.

 

Seperti diketahui, Abu Janda hingga kini tak kunjung ditahan meski sudah dilaporkan atas kasus penistaan agama Islam.

 

Melalui akun Twitter @ustadtengkuzul, Selasa (23/2/2021), Tengku Zulkarnain merasa heran lantaran penegak hukum bersikap 'lemah lembut' terhadap Abu Janda.

 

Bahkan, Tengku Zulkarnain mempertanyakan 'kesaktiannya' hingga kerap lolos dari jerat hukum kendati beberapa kali mendulang kecaman masyarakat.

 

"Timbul pertanyaan apa sih kesaktiannya Abu Janda sampai penegak hukum lemah lembut banget pada dia...? Beda dengan perlakuan atas Habib Riziq dan Ustadz Maher dll...Ada yg bisa bantu jawab...? Gejala apakah ini? Monggo...," cuit Tengku Zulkarnain.

 

Diketahui, Abu Janda dilaporkan atas dugaan kasus rasisme dan penistaan agama Islam. Hal itu buntut ocehannya di media sosial.

 

Sebelumnya, Kepala Bagian Penerangan Umum Polri Kombes Pol Ahmad Ramadhan mengatakan pihaknya masih mencari bukti awal dari laporan terhadap Abu Janda.

 

"Proses tersebut masih didalami terus. Masih kumpulkan bukti-bukti," kata Ahmad di Mabes Polri, Jakarta, Senin (22/2/2021).

 

Baca kicauan Tengku Zulkarnain selengkapnya di bawah ini:



 



SANCAnews – Buntut kerumunan massa saat kunjungan kerja Presiden Joko Widodo atau Jokowi di Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) Selasa (23/2/2021) menimbulkan pro dan kontra di saat RI sedang berjuang mengatasi Pandemi Covid-19.

 

Sejumlah tokoh pun turut mengomentari beda perlakuan saat kerumunan terjadi antara Presiden Jokowi di NTT dengan Muhammad Rizieq Shihab (MRS) di Petamburan yang dinilai tanpa protokol kesehatan.

 

Politisi Partai Gerindra Fadli Zon pun mengkritisi kedatangan Jokowi yang memicu kerumunan massa.

 

"Kerumunan Jokowi dianggap spontanitas, kerumunan HRS di Bogor diganjar tersangka," twit Fadli Zon seperti yang dikutip pada Rabu (24/2/2021).

 

"Menurut saya, spontanitas seperti itu sulit dihindari. Itu pula yang terjadi dengan kedatangan Habib Rizieq dan acara pernikahan putrinya di Petamburan," kata Fadli Zon.

 

Fadli menyebut seharusnya kerumunan yang terjadi saat kedatangan Presiden Jokowi juga ditindak. Dengan begitu, kata dia, tidak ada standar ganda yang terjadi terkait protokol kesehatan.

 

"Kalau kerumunan ini tidak dipersoalkan, maka demi keadilan seharusnya Habib Rizieq dan para ulama yang kini ditahan sebaiknya dibebaskan saja, karena masyarakat akan menilai ada ketidakadilan dipertontonkan nyata, double standard dan tak memberi keteladanan," ujarnya.

 

Kemudian Fadli Zon juga menyoroti Presiden Jokowi yang menyambut spontanitas warga berkerumun di Maumere dengan berdiri sambil membuka kaca. Menurutnya, langkah Jokowi itu bisa diartikan sebagai approval atas kerumunan tersebut.

 

"Tapi Pak Jokowi juga berdiri menyambut spontanitas itu. Bisa diartikan approval," sebutnya.

 

Diberitakan sebelumnya, pihak Istana Kepresidenan memberikan penjelasan mengenai kerumunan yang timbul saat Presiden Jokowi tiba di Maumere, kemarin. Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden Bey Machmudin menjelaskan bahwa saat itu warga sudah menunggu rombongan Presiden Jokowi di pinggir jalan.

 

"Benar itu video di Maumere. Setibanya di Maumere, Presiden dan rombongan melanjutkan perjalanan menuju Bendungan Napun Gete. Saat dalam perjalanan, masyarakat sudah menunggu rangkaian di pinggir jalan, saat rangkaian melambat masyarakat maju ke tengah jalan sehingga membuat iring-iringan berhenti," kata Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden Bey Machmudin kepada wartawan, Selasa (23/2/2021).

 

Bey mengatakan masyarakat Maumere spontan menyambut kedatangan Jokowi. Jokowi pun, kata Bey, menyapa masyarakat dari atap mobil.

 

"Dan kebetulan mobil yang digunakan Presiden atapnya dapat dibuka, sehingga Presiden dapat menyapa masyarakat, sekaligus mengingatkan penggunaan masker. Karena, kalau diperhatikan, dalam video tampak saat menyapa pun Presiden mengingatkan warga untuk menggunakan masker dengan menunjukkan masker yang digunakannya," papar Bey. []




SANCAnews – Partai Demokrat (PD) turut bicara soal kerumunan saat kunjungan Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke Maumere, Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT). PD melempar sindiran tajam.

 

"Presiden mau menguji Kapolri, mantan ajudannya, apakah punya nyali tidak untuk menegakkan hukum, ada nyali tidak untuk menindak secara hukum Presiden yang jelas-jelas kasat mata melanggar aturan Prokes, aturan yang dibikin Presiden sendiri," kata Waketum PD Benny K Harman kepada wartawan, Rabu (24/2/2021).

 

Anggota Komisi III DPR RI itu menyatakan kerumunan itu menunjukkan kecintaan masyarakat NTT yang rela mengambil risiko terpapar COVID-19 demi melihat Presiden Jokowi. Namun pernyataan itu diikuti dengan sindiran.

 

"Dengan peristiwa ini, Presiden hendak mempertontonkan bahwa beliau adalah Presiden yang beyond hukum, yang tidak tunduk pada hukum. Peristiwa ini juga memperlihatkan masyarakat NTT rela mati, rela korbankan dirinya terpapar COVID-19 hanya untuk melihat langsung wajah Presiden, pemimpin yang mereka cintai," ujarnya.

 

Benny menilai kerumunan itu melanggar aturan. Dia meminta ada proses hukum, "Semua orang sama di depan hukum, equality before the law. Presiden jika terlibat korupsi pun, Kapolri atau KPK atau Jaksa Agung harus berani periksa bila perlu tangkap dan tahan. Itu hukum kita, hukum di negara kita. Konstitusi tidak memberi kekebalan hukum apa pun kepada presiden," tegasnya.

 

Diberitakan sebelumnya, pihak Istana Kepresidenan memberikan penjelasan mengenai kerumunan yang timbul saat Presiden Jokowi tiba di Maumere, kemarin. Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden Bey Machmudin menjelaskan bahwa saat itu warga sudah menunggu rombongan Presiden Jokowi di pinggir jalan.

 

"Benar itu video di Maumere. Setibanya di Maumere, Presiden dan rombongan melanjutkan perjalanan menuju Bendungan Napun Gete. Saat dalam perjalanan, masyarakat sudah menunggu rangkaian di pinggir jalan, saat rangkaian melambat masyarakat maju ke tengah jalan sehingga membuat iring-iringan berhenti," kata Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden Bey Machmudin kepada wartawan, Selasa (23/2/2021).

 

Bey mengatakan masyarakat Maumere spontan menyambut kedatangan Jokowi. Jokowi pun, kata Bey, menyapa masyarakat dari atap mobil.

 

"Dan kebetulan mobil yang digunakan Presiden atapnya dapat dibuka, sehingga Presiden dapat menyapa masyarakat, sekaligus mengingatkan penggunaan masker. Karena, kalau diperhatikan, dalam video tampak saat menyapa pun Presiden mengingatkan warga untuk menggunakan masker dengan menunjukkan masker yang digunakannya," papar Bey. (dtk)



SANCAnews – Ketua Forum Rekat Indonesia Eka Gumilar, menyatakan bahwa dia merasa perlu untuk mengkritisi soal kerumunan yang terjadi di Maumere, Nusa Tenggara Timur (NTT), saat penyambutan Presiden Joko Widodo (Jokowi) oleh warga setempat.

 

Dalam kerumunan tersebut, terlihat ada beberapa warga yang tidak mengenakan masker dan melanggar protokol kesehatan dengan berdesakan.

 

Disampaikan Eka Gumilar, menurutnya Jokowi sudah tidak adil dalam menegakkan peraturan terkait protokol kesehatan.

 

Hal itu disebabkan lantaran, karena kurangnya antisipasi akan potensi kerumunan yang terjadi di NTT, saat menyambut kedatangan Jokowi.

 

"Yth, Bapak @jokowi. Izin Pak, saya Eka Gumilar, rakyat Bapak. Saya merasa perlu mengkritisi Bapak, karena pendapat saya, Bapak TIDAK ADIL dalam menegakkan prokes karena kurang antisipasi potensi kerumunan di NTT," cuitnya.

 

Eka Gumilar pun merasa kasihan dengan para tenaga kesehatan (nakes) dan team penanganan Covid-19, apabila rakyat semakin abai untuk mematuhi protokol kesehatan.

 

Dia pun berharap Allah akan senantiasa menjaga Indonesia.

 

"Kasihan sama nakes dan team Covid, Bapak. Jika rakyat makin abai pada prokes. Semoga Allah menjaga Indonesia," katanya, sebagaimana dikutip dari akun Twitter @ekagumilars pada Rabu, 24 Februari 2021.

 

Sebelumnya, dia sempat menyatakan bahwa ciri dari seorang pemimpin sejati adalah akan tidak tenang dan nyaman, serta mempunyai rasa malu yang tinggi ketika menyadari telah berbuat tidak adil.

 

"Ciri utama pemimpin sejati, tidak akan tenang dan nyaman, serta punya rasa malu yang tinggi ketika menyadari dirinya berbuat tidak adil," cuitnya.

 

Menurutnya, selama ini rakyat sering disuguhi pertunjukan akrobat dan sulap dari para pemimpinnya.

 

Para pemimpin yang asyik bermain di etalase politik.

 

"Rakyat sering disuguhi pertunjukan akrobat dan sulap para pemimpinnya. Asyik bermain di etalase politik, merasa akan berjaya selamanya," kata Eka Gumilar.

 

Dia pun mempertanyakan apakah virus corona akan bersikap tidak adil ketika menyerang manusia.

 

Menghadapi polemik yang kian memanas, pihak Istana sendiri sudah mengeluarkan pernyataan untuk mengklarifikasi soal kerumunan di Maumere.

 

Dalam video tersebut, Jokowi terlihat muncul dan menyapa warga dari atap terbuka mobil yang ditumpanginya.

 

Dikatakan oleh Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden Bey Machmudin, Jokowi pada saat itu mengingatkan masyarakat untuk mengenakan masker dan mematuhi protokol kesehatan.

 

Hal itu menurutnya terlihat dari gerakan tangan Jokowi, yang menunjuk-nunjuk masker yang saat itu tengah dipakainya.

 

"Kebetulan mobil yang digunakan Presiden atapnya dapat dibuka, sehingga Presiden dapat menyapa masyarakat, sekaligus mengingatkan penggunaan masker karena kalau diperhatikan, dalam video tampak saat menyapa pun Presiden mengingatkan warga untuk menggunakan masker dengan menunjukkan masker yang digunakannya," kata Bey Machmudin.

 

Saat itu pun Jokowi tampak membagi-bagikan barang kepada para warga, yang ditegaskan oleh Bey Machmudin sebagai bentuk spontanitas dari Presiden.

 

Hal itu diutarakannya, karena Jokowi menghargai antusiasme yang diberikan oleh warga di Kota Maumere dalam menyambut kedatangannya tersebut.***

 



SANCAnews – Anggota Komisi IX DPR Fraksi PAN, Saleh Daulay menyayangkan terjadinya kerumunan saat Presiden Joko Widodo (Jokowi) berkunjung ke Maumere, Nusa Tenggara Timur. Menurutnya, kejadian itu bertolak belakang dengan kampanye pemerintah soal protokol kesehatan.

 

"Jadi saya menyayangkan terjadinya kerumunan disaat kunjungan presiden seperti itu. Jadi enggak ini tentu tidak sesuai dengan protokol kesehatan yang selalu digalakkan, disuarakan serta dikampanyekan pemerintah," ujarnya saat dihubungi, Rabu (24/2).

 

Saleh meminta hal ini perlu di evaluasi kedepan agar kejadian serupa tidak terulang. Dia pun mempertanyakan protokoler Kepresidenan yang mengatur jadwal Presiden ketika turun ke NTT itu.

 

"Mestinya yang bertanggung jawab mengatur seluruh pertemuan dan perjalanan presiden yaitu protokolernya. Jadi kalau ada kerumunan seperti ini, itu yang bisa diminta pertanggung jawabannya adalah protokoler yang mengatur itu," tuturnya.

 

Saleh menuturkan, banyak yang masyarakat mendekat karena memang Presiden dikenal dan di idolakan. Maka dari itu, dalam hal ini tidak bisa menyalahkan Presiden secara langsung.

 

Tapi, mestinya protokololer harus membenahi apa yang terjadi, "Kalau protokolnya benar kan bisa streril, namanya protokol kesehatan, pasti protokoler, protokololer itu yang bisa memastikan semua ini berjalan baik," ucapnya.

 

Saleh menilai wajar apabila kepala negara harus kunker karena hal mendesak dan genting. Mungkin, kata dia, Presiden merasa kurang sempurna jika tidak datang ke daerah. Tapi, siapapun pejabatnya harus menerapkan protokol kesehatan itu.

 

"Harus dipastikan itu siapapun itu termasuk presiden, menteri atau pejabat pejabat lainnya, kalau gak seperti itu nanti cari cari kesalahan segala macem dan saya juga merasakan itu apalagi di daerah kan antusiasme masyarakat gak bisa dibendung, makanya yang diatur protokololernya," tandasnya.

 

Beredar di media sosial video mobil Presiden Joko Widodo (Jokowi) dikerumuni banyak orang. Dalam video yang berdurasi 30 detik terlihat Jokowi muncul dari atap mobil untuk menyapa masyarakat. Mereka pun terlihat antusias.

 

Dengan menggunakan masker hitam, mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut menyapa warga. Sesekali dia melambaikan tangan dan melemparkan kaos kepada masyarakat.

 

Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden Bey Machmudin membenarkan video tersebut. Menurut dia, video itu terjadi saat Jokowi melakukan kunjungan kerja ke Maumere, Nusa Tenggara Timur, Selasa (23/2).

 

"Benar itu video di Maumere. Setibanya di Maumere, Presiden dan rombongan melanjutkan perjalanan menuju Bendungan Napun Gete," kata Bey saat dikonfirmasi, Selasa (23/2).

 

Bey menjelaskan saat perjalanan masyarakat sudah menunggu rangkaian di pinggir jalan. Kemudian saat rangkaian melambat masyarakat maju ke tengah jalan, hal tersebut membuat rombongan Jokowi berhenti, "Sehingga membuat iring-iringan berhenti," kata dia.

 

Bey menjelaskan hal tersebut terjadi secara spontanitas. Jokowi juga kata Bey mengingatkan masyarakat untuk menggunakan masker.

 

"Kebetulan mobil yang digunakan Presiden atapnya dapat dibuka, sehingga Presiden dapat menyapa masyarakat, sekaligus mengingatkan penggunaan masker," ungkapnya.

 

"Karena kalau diperhatikan, dalam video tampak saat menyapa pun Presiden mengingatkan warga untuk menggunakan masker dengan menunjukkan masker yang digunakannya," tambahnya.

 

Bey juga membenarkan Jokowi sempat membagikan hadiah kepada masyarakat. Mulai dari buku, kaos, hingga masker.

 

"Tapi poinnya, presiden tetap mengingatkan warga tetap taati protokol kesehatan," ungkap Bey. (*)


SN

{picture#} YOUR_PROFILE_DESCRIPTION {facebook#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {twitter#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {google#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {pinterest#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {youtube#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {instagram#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL}
Diberdayakan oleh Blogger.