Latest Post



SANCAnews – Tim relawan yang mengatasnamakan Front Persaudaraan Islam atau FPI versi baru dikabarkan dibubarkan petugas kepolisian saat hendak memberikan bantuan untuk korban banjir. Insiden ini berlangsung kemarin saat FPI memberikan bantuan untuk korban banjir di Cipinang Melayu, Jakarta Timur.

 

Kabar tersebut dibenarkan oleh eks Sekretaris Umum DPP Front Pembela Islam atau FPI lama, Munarman. Dia membenarkan jika tim relawan FPI baru dibubarkan oleh polisi.

 

"Benar (dibubarkan oleh polisi)," kata Munarman saat dihubungi wartawan, Minggu (21/2/2021).

 

Tim relawan kala itu memberikan bantuan namun dengan mengatasnamakan Front Persaudaraan Islam. Logo yang mirip dengan logo FPI lama ini terpampang pada perahu karet yang mereka gunakan.

 

Melihat adanya atribut tersebut, polisi sontak membubarkan mereka. Sekedar informasi, hujan deras yang melanda Kota Jakarta kemarin berimbas panjang.

 

Genangan air hingga ketinggian 1,5 meter merendam kawasan Cipinang Melayu, Jakarta Timur. Warga pun mengungsi akibat banjir tersebut. []




SANCAnews – Warga sipil menjadi korban kekerasan dan teror Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Intan Jaya, Papua. Salah satunya adalah Ramli, warga Kampung Bilogai, Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, yang pada Senin 8 Februari 2021 tewas ditembak KKB.

 

Nasib nahas juga dialami Boni Bagau, satu minggu sebelumnya, warga Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya ini tewas ditembak KKB yang diduga pimpinan Undius Kogoya.

 

Peristiwa tersebut terjadi pada Sabtu 30 Januari 2021 sore di perbatasan Distrik Sugapa dan Distrik Homeyo. Korban ditembak KKB karena dituduh sebagai mata-mata dari aparat keamanan TNI-Polri.

 

Kekerasan dan teror KKB pada tahun ini diawali peristiwa pembakaran pesawat misionaris milik PT MAF yang terjadi di Kampung Pagamba, Distrik Biandoga, Kabupaten Intan Jaya, pada Rabu (6/1).

 

Kabid Humas Polda Papua, Kombes AM Kamal mengatakan, pembakaran pesawat itu dilakukan KKB. Dalam kejadian itu, pilot pesawat Alex Luferchek yang merupakan warga negara Amerika Serikat selamat dari insiden itu. Ia diselamatkan para pendeta.

 

Sedikitnya ada 8 kasus kekerasan dan teror yang dilakukan KKB selama dua bulan terakhir ini, korban pun berjatuhan dari warga sipil maupun anggota TNI.

 

Yang terbaru Prada Ginanjar anggota Satgas Yonif R 400/BR gugur ditembak Kelompok Kriminal Separatis Bersenjata (KKSB) di pos peninjauan di Kampung Mamba Distrik Sugapa pada Senin (15/2). Total sudah lima anggota TNI yang menjadi korban serangan KKB di Intan Jaya.

 

Papen Kogabwilhan III, Letkol Laut Deni Wahidin mengatakan, dalam dua bulan terakhir KKB begitu aktif mengganggu pos TNI-Polri di Intan Jaya.

 

"Tak hanya menembaki pos TNI-Polri, mereka juga mengganggu aktivitas masyarakat," kata Letkol Laut Deni Wahidin, Minggu (21/2).

 

Dia menambahkan, total ada 6 kontak tembak antara TNI-Polri dan KKB sejak Januari hingga Februari 2021.

 

“Mereka itu aktif menembaki pos kita, selain itu mereka kerap mengintimidasi masyarakat dan pejabat Pemda Intan Jaya,” ujarnya. (rmol)




SANCAnews – Hujan dengan intensitas tinggi yang melanda pada Sabtu 20 Februari 2021 menyebabkan beberapa wilayah di DKI Jakarta mengalami banjir.

 

Seluruh jajaran terkait dari Pemprov DKI Jakarta pun langsung turun ke wilayah-wilayah terdampak banjir untuk mengevakuasi warga.

 

Saat evakuasi, netizen tertuju kepada perahu karet bertuliskan FPI yang digunakan oleh aparat untuk mengevakuasi warga.

 

Adalah akun Twitter @L4dyY0ng yang memosting foto evakuasi korban banjir dengan menggunakan perahu karet bertuliskan FPI tersebut.

 

Namun akun tersebut tidak menjelaskan secara rinci kapan dan dimana lokasi foto tersebut di jepret. Ia hanya menuliskan caption bernada sindiran.

 

"Poskonya dipaksa bubar perahunya karetnya dipake," tulis akun tersebut seperti dikutip pada Minggu 21 Februari 2021.

 

Melihat postingan tersebut, tak ayal netizen langsung ramai-ramai memberikan komentar.

 

"Engga malu pakai perahu karet yg ada atribut FPI..kenapa engga minta perahu karet sama orang orang yg benci FPI, orang orang yg bubarkan FPI?" kata akun @aminfina.

 

"Mungkin tujuannya mau minjem perahu karet karena jaim jd mereka bubarkan dulu perahu karetpun disita alias dipake mereka yg membubarkannya,sudah lazim dari dulu mereka memang seperti itu modus operandinya," balas akun @Semar50577204.

 

"Lakban merah habis???," Cletuk akun @6Undul0h.

 

"Lakbannya gk nempel ...basah.," balas akun @yuni59786114.

 

Sebelumnya aparat polisi dan TNI membubarkan tim relawan FPI di wilayah banjir Cipinang Melayu, Jakarta Timur, Sabtu, 20 Februari 2021.

 

"Mereka pakai atribut FPI, kan itu sudah dilarang," ujar Kapolsek Makasar Komisaris Saiful Anwar  saat dihubungi Tempo, Ahad, 21 Februari 2021.

 

Saiful mengatakan tim relawan yang berjumlah sekitar 10 orang itu datang dengan mengenakan rompi, bendera, hingga perahu karet bertuliskan FPI. Menurut Saiful, jika tim relawan memang akan memberikan bantuan ke korban banjir, mereka diminta melepas seluruh atribut tersebut.

 

"Ini yang larang negara, loh," kata dia.

 

Seperti diketahui,  pemerintah telah melarang penggunaan berbagai atribut FPI. Hal tersebut berdasarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) tentang Larangan Kegiatan Penggunaan Simbol dan Atribut Serta Penghentian Kegiatan FPI.

 

Pembubaran tim relawan di Cipinang Melayu itu kemudian mendapat protes dari eks Sekretaris Umum DPP FPI Munarman. Menurut Munarman kerja kemanusiaan tidak boleh diganggu oleh oknum. Apa lagi, tim yang terjun ke lapangan mengatasnamakan Front Persaudaraan Islam bukan Front Pembela Islam seperti yang telah dilarang oleh pemerintah.

 

Ia pun kukuh menerjunkan tim relawan ke lokasi bencana banjir di Jakarta untuk menyalurkan bantuan walau mendapat penolakan dari aparat.

 

"Tetap (menerjunkan tim relawan), bantuan kemanusiaan akan tetap diberikan oleh FPI, korban-korban bencana sangat membutuhkan bantuan," ujar Munarman. []




SANCAnews – Belum terlihat ada program prioritas yang dilakukan Joko Widodo selama menjabat sebagai presiden dua periode dalam mengatasi banjir yang kerap terjadi di sejumlah wilayah, termasuk ibukota DKI Jakarta.

 

Padahal, publik mengingat saat masih menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta, Jokowi pernah menyatakan bahwa mengatasi banjir akan lebih mudah bila menjabat sebagai presiden.

 

Bahkan bila menarik ke belakang, Jokowi saat masih menjabat sebagai Walikota Solo tahun 2011 silam juga pernah mengklaim banjir Jakarta mudah diatasi.

 

Melihat fakta di lapangan, Direktur Eksekutif Oversight of Indonesia's Democratic Policy, Satyo Purwanto pun menjabarkan ada sejarah panjang yang telah dilakukan Belanda dalam mengendalikan banjir Jakarta. Kala itu, Belanda sudah memberikan road map pengendalian banjir Jakarta dengan membuat beberapa bendungan, situ atau danau kecil.

 

Namun ia melihat hal yang dilakukan Belanda itu tidak dijalankan Joko Widodo, "Justru konsep ini yang tidak dimiliki Jokowi di saat menjabat Gubernur DKI, Jokowi hanya memaksimalkan dan menormalisasi aliran irigasi atau sungai yang ada, yang sebetulnya sudah overload karena banyak faktor," ujar Satyo kepada Kantor Berita Politik RMOL, Minggu (21/2).

 

Mirisnya, kata dia, saat sudah duduk di kursi RI satu, Jokowi justru mengambil opsi lain dengan tidak terlibat dalam pengendalian banjir di DKI. Padahal publik sudah menanti janji Presiden Jokowi tersebut saat masih menjabat DKI 1.

 

"Saat ini pemerintah pusat tidak memiliki prioritas pengendalian banjir di DKI dan justru mengambil opsi lain, yaitu dengan memindahkan Ibukota negara ke Kalimantan Timur. Opsi tersebut tidak sesuai dengan pernyataan Jokowi yang katanya akan lebih mudah mengatasi banjir bila terpilih jadi Presiden RI," tandas Satyo. []




SANCAnews – Fakta-fakta mengenai kondisi Ustaz Maaher At-Thuwailibi alias Soni Eranata semasa ditahan di rutan Bareskrim Polri dibeberkan oleh abang iparnya, Jamal.

 

Menurut Jamal, saat ditahan di rutan Bareskrim, Maaher ternyata ditempatkan di dalam sel tahanan yang ada di ruang bawah tanah (basement).

 

"Memang betul di basement. di B2. Ya, namanya basement gimana lah ya," ungkap Jamal dalam wawancara yang disiarkan kanal YouTube ReligiOne, 19 Februari 2021.

 

Saat menderita sakit di sel tahanan, Maaher juga sempat meminta agar dirawat di RS Ummi. Namun pihak kepolisian tidak memberikan penangguhan untuknya.

 

"Beliau dibawa ke RS Polri. Kami keluarga mintanya ke RS Ummi. Kenapa? Karena dari awal berobatnya di sana," kata Jamal.

 

Jamal juga membeberkan fakta bahwa kondisi kesehatan Maaher menurun karena psikologinya tertekan. Ditambah lagi, kondisi di rumah sakit juga tidak mendukung baginya untuk sembuh.

 

"Kondisi di dalam (penjara) itu kuranglah. Untuk orang yang sakit harusnya gak begitu," katanya.


Tak cuma itu, pihak keluarga juga sering tidak diizinkan menemui Maaher meski ada juga kesempatan untuk menemuinya.

 

"Sering tidak diizinkan ketemu. Ada diizinkan beberapa kali, tapi sering tidak diizinkan. Adik saya, istri beliau, ke sana ngantar air minum. Saya tanya, kenapa ngantar air minum? Karena air minum di sana menurut keterangan istri saya tidak bisa diminum. Jadi harus bawa air minum dari luar," kata Jamal.


Jamal juga mengungkap bahwa pihak keluarga sudah mewanti-wanti pihak kepolisian perihal kondisi kesehatan Maaher yang buruk.

 

"Artinya beliau ini udah lemah fisiknya. Awalnya beliau ini sakit TB usus. Harus rawat jalan dan harus ada obat yang diminum selama 9 bulan. Gak boleh putus. Baru 7 bulan beliau tersangkut kasus UU ITE dan langsung ditahan. Gak ada panggilan pertama, kedua, langsung ditahan. Dijemput subuh-subuh di rumah beliau di Bogor," sambung Jamal.

 

Secara garis besar, Jamal mengungkapkan kalau kematian Maaher memang agak aneh. Ia dan pihak keluarga mendapat kabar dari pihak Bareskrim bahwa Soni kritis dan dibawa ke RS Kramat Jati Polri.

 

Namun, belum lagi sampai rumah sakit, pihak keluarga sudah mendapat kabar yang berseliweran di media sosial bahwa Soni sudah meninggal.

 

"Kami dengar kabar dari Bareskrim kalau beliau kritis, dan dengar kabar kalau beliau kritis. Kami meluncur ke RS Polri. Nah, itu yang agak aneh. Kami belum sampai RS, tapi sudah dengar kabar dari medsos ustaz meninggal," ungkap Jamal dalam kanal YouTube ReligiOne, 19 Februari 2021.

 

"Kami sebagai pihak keluarga bingung, kok bisa bocor dari mana. Kok bisa langsung beredar kabar beliau udah meninggal. Kami saat itu belum percaya. Karena yang kami tahu, dapat kabar, beliau kritis. Kami langsung ke IGD. Kami tanya, 'Ada gak pasien dari Bareskrim, atas nama Ustaz Maaher, atau Pak Soni Eranata?'. Gak ada yang tahu," lanjut Jamal.

 

Setelah bertanya ke sana-sini di rumah sakit, akhirnya pihak keluarga mendapati Maaher sudah meninggal di ruang jenazah. Namun, Maaher bukan meninggal di rumah sakit, melainkan di Bareskrim.

 

"Coba lihat di kamar jenazah. Di situlah kami tahu beliau sudah meninggal. Posisinya masih ada di ambulans. Saya tanya, meninggalnya di mana? Meninggalnya di Bareskrim. Artinya bukan di perjalanan. Di Bareskrim pun sudah meninggal. Gitu. Itu sangat saya sayangkan," kata Jamal. []


SN

{picture#} YOUR_PROFILE_DESCRIPTION {facebook#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {twitter#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {google#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {pinterest#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {youtube#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {instagram#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL}
Diberdayakan oleh Blogger.