2025

Demonstrasi di sekitar Gedung DPR, Jakarta pada Kamis petang, 28 Agustus 2025. (Foto: RMOL/Bonfilio Mahendra) 

Oleh: Bobby Ciputra


MENGAPA rakyat marah hanya karena Rp50 juta tunjangan rumah anggota DPR? Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana. Toh, jumlah itu bagi sebagian kalangan elit bukan sesuatu yang mengejutkan. Tapi bagi jutaan warga Jakarta yang harus berhitung ketat antara gaji bulanan dengan biaya kontrakan, listrik, dan harga beras, Rp50 juta adalah angka yang mencolok mata.

 

Bayangkan: tunjangan satu orang anggota DPR setara dengan sepuluh kali lipat upah minimum Jakarta 2025. Sementara, rakyat kecil justru diminta untuk “mengencangkan ikat pinggang” demi stabilitas ekonomi.

                                             

Di sinilah letak masalahnya. Rakyat tidak hanya melihat angka Rp50 juta itu sebagai sekadar tunjangan. Mereka melihatnya sebagai simbol ketidakadilan, simbol jarak yang semakin jauh antara perwakilannya dan tuannya.

 

Aksi Massa: Refleksi Ketidakpuasan Kolektif

 

Protes di depan Gedung DPR RI pada 25 dan 28 Agustus 2025 bukanlah insiden yang berdiri sendiri. Aksi ini adalah manifestasi dari akumulasi kekecewaan yang sudah lama terpendam. Peristiwa ini menunjukkan bagaimana isu-isu kebijakan, sekecil apa pun, dapat menjadi pemicu kerusuhan sosial jika dirasakan tidak adil.

 

Media asing seperti Bloomberg melihatnya sebagai "ketidakpastian atas kesehatan ekonomi Indonesia." Mereka melihat angka-angka: inflasi yang moderat di level 3 persen. Bloomberg, dalam laporannya dengan judul "Thousands clash with police in Jakarta as protests intensify," menangkap esensi masalah ini dengan baik.

 

Meskipun inflasi nasional secara umum terbilang moderat, laporan itu menyoroti bahwa harga-harga spesifik seperti beras dan biaya pendidikan telah "memicu ketidakpuasan atas biaya hidup." Ini adalah analogi yang kuat: bayangkan sebuah bejana besar. Inflasi moderat adalah seperti air yang mengalir perlahan, tapi kenaikan harga beras dan pendidikan adalah batu-batu besar yang dilemparkan ke dalamnya. Meskipun volume air tidak bertambah drastis, bejana itu akan terasa semakin berat, dan pada titik tertentu, ia akan retak.

 

Demikian pula dengan isu PBB. Kenaikan pajak yang mencapai 250 persen di Pati, Bone, dan Cirebon adalah contoh nyata dari bagaimana kebijakan pemerintah yang seharusnya pro-rakyat justru menjadi beban. Reaksi publik yang kuat, hingga memicu demonstrasi besar dan pencabutan kebijakan, menunjukkan bahwa masyarakat tidak lagi pasif. Mereka memiliki kesadaran kolektif bahwa kebijakan yang tidak adil harus dilawan.

 

Media Sosial dan Dinamika Protes

 

Pemerintah menyalahkan media sosial. Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Angga Raka Prabowo, menuding ByteDance (TikTok) dan Meta sebagai biang keladi penyebaran disinformasi dan kebencian. Memang, dari interogasi 120 pelajar yang dicegah polisi, mayoritas mengaku terprovokasi ajakan di medsos, kata Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Ade Ary Syam Indradi. Tapi, apakah itu alasan utama? Atau justru medsos menjadi cermin yang memantulkan kemarahan nyata? Seperti api yang sudah menyala, angin dari postingan online hanya membuatnya lebih besar, bukan menciptakannya dari nol.

 

Fenomena ini adalah pedang bermata dua. Di satu sisi, media sosial memfasilitasi komunikasi dan mobilisasi massa secara cepat, efisien, dan tanpa hierarki formal. Namun, menyalahkan platform media sosial saja adalah pandangan yang terlalu dangkal. Media sosial hanya berfungsi sebagai cermin yang memantulkan kondisi sosial yang ada. Jika masyarakat tidak merasa tertekan oleh kondisi ekonomi dan politik, ajakan di media sosial tidak akan seefektif itu. Ini bukan tentang platform, melainkan tentang pesan yang disampaikan dan resonansi pesan itu dengan realitas hidup masyarakat.

 

Dari DPR Api Menyebar

 

Ketika ribuan massa datang ke depan gedung DPR pada 25 Agustus 2025, mereka tidak hanya membawa spanduk. Mereka membawa amarah yang sudah lama dipendam. Bentrokan dengan aparat pun pecah, gas air mata berhamburan, ban-ban dibakar.

 

Dua hari berselang, 28 Agustus, amarah itu belum reda. Mahasiswa dan pelajar turun lagi, menolak tunjangan rumah DPR dan menuntut keadilan bagi guru honorer. Di situlah tragedi terjadi: kendaraan taktis Brimob melindas seorang pengemudi ojek online hingga tewas. Bagi banyak orang, itu bukan sekadar kecelakaan. Itu simbol betapa murahnya nyawa rakyat dibanding kenyamanan kursi kekuasaan.

 

Esoknya, ribuan pengemudi ojol mendatangi Mako Brimob Kwitang. Mereka tidak hanya marah karena satu nyawa hilang. Mereka marah karena nyawa itu seolah dianggap sepele.

 

Peristiwa tragis dilindasnya seorang pengemudi ojek online oleh kendaraan taktis Brimob adalah titik balik yang memicu gelombang kemarahan baru. Insiden ini berkembang menambah narasi protes dari isu tunjangan DPR dan pajak menyebar menjadi isu yang lebih memanas: tindakan represif aparat terhadap masyarakat sipil.

 

Solidaritas yang muncul dari tragedi ini adalah hal yang patut diperhatikan. Aksi para pengemudi ojol dan warga di Kwitang, yang menuntut keadilan bagi rekan dan saudara mereka, adalah contoh bagaimana penderitaan bersama bisa menjadi perekat yang kuat. Ini adalah bentuk perlawanan akar rumput yang murni, lahir dari rasa senasib dan sepenanggungan.

 

Sosialisme Kerakyatan: Jalan Keluar dari Luka Kolektif

 

Mengapa Sosialisme Kerakyatan relevan? Karena Sosialisme Kerakyatan berangkat dari satu gagasan sederhana: menguatkan keadilan sosial dan meningkatkan ekonomi kerakyatan. Keadilan sosial bukan berarti semua orang punya jumlah uang yang sama. Tapi keadilan berarti mereka yang punya kuasa dan privilese tidak hidup jauh di atas penderitaan rakyatnya.

 

Sosialisme Kerakyatan juga juga bicara bahwa ekonomi itu jangan menguntungkan segelintir konglomerat atau pejabat, melainkan ekonomi yang tumbuh dari rakyat: petani, nelayan, buruh, ojol, guru, pedagang kecil, dan pelaku UMKM. Negara harus hadir untuk memastikan bahwa hasil pembangunan tidak hanya menetes ke bawah kosong, tetapi benar-benar mengalir deras ke tangan rakyat.

 

Sosialisme kerakyatan bukanlah mimpi utopis atau ide asing yang dipaksakan dari luar. Ia lahir dari kenyataan sehari-hari rakyat Indonesia yang sejak lama mendambakan hidup lebih adil dan sejahtera.

 

Ketika jalan-jalan dipenuhi asap gas air mata dan kekacauan, pertanyaan paling mendasar yang harus kita jawab adalah: Apakah kita akan terus hidup dalam sistem yang menghasilkan ketidaksetaraan, atau kita akan bergerak maju untuk membangun tatanan masyarakat yang lebih adil? Ini adalah pilihan yang akan menentukan masa depan kita. **

 

*Penulis adalah Ketua Angkatan Muda Sosialis Indonesia (AMSI)


Bentrokan pecah di depan Polda Metro Jaya, Jumat (29/8). (Ryandi Zahdomo/JawaPos.com) 

 

JAKARTA — Aksi unjukrasa yang dilakukan oleh mahasiswa, pengemudi ojek daring, dan anak-anak sekolah telah meningkat di beberapa lokasi. Di Jakarta, khususnya di depan Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta (Polda Metro Jaya), para pengunjuk rasa bentrok dengan polisi.

 

Kekacauan antara pengunjuk rasa dan petugas polisi dimulai seiring meningkatnya protes. Para pengunjuk rasa melemparkan benda-benda seperti botol, batu, kembang api, dan bahkan bom molotov ke arah petugas polisi.

 

Massa aksi awalnya hanya menyalakan petasan kembang api, namun situasi menjadi memanas karena pendemo mengarahkan kembang api tersebut ke arah gedung Polda Metro Jaya. Selain kembang api, bom molotov juga ikut jadi senjata bagi pengunjuk rasa.

 

Polisi awalnya tidak melakukan perlawanan. Namun, para pendemo bukannya menahan serangannya tetapi kian brutal.

 

Melalui pengeras suara dari Mobil Pengurai Massa (Raisa), aparat meminta agar demonstrasi berjalan tertib.

 

"Saya himbau ke adik-adik sekalian tidak lakukan tindakan anarkis. Tidak melempar bom molotov, batu dan petasan. Sampaikan aspirasi dengan tertib," ujar petugas kepolisian.

 

Sayang, imbauan itu tidak digubris. Massa tetap menyerang hingga aparat terpaksa menembakkan water canon. Saat massa masih bertahan, polisi kemudian melakukan serangan balik dengan gas air mata.

 

Ribuan pendemo pun mulai berlarian ke arah jembatan Semanggi, sambil melempari aparat dengan batu. Polisi lantas ikut membalas lemparan batu tersebut.

 

Diketahui, aksi di Polda Metro Jaya ini dimotori oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI). Ribuan mahasiswa dari berbagai universitas hadir, ditambah pelajar dan pengemudi ojek online (ojol).

 

"Estimasi 2000 mahasiswa akan turun hari ini," ujar Koordinator Pusat BEM SI, Muzammil Ihsan.

 

Massa menuntut keadilan atas tewasnya Affan Kurniawan. Menurut Muzammil, aksi kali ini menitikberatkan pada tuntutan agar proses hukum ditegakkan terhadap politisi, aparat, maupun pihak lain yang dianggap bertanggung jawab atas kematian Affan.

 

"Untuk poin tuntutan kurang lebih sama seperti yang kita gaungkan pada 21 Agustus lalu, namun kali ini fokus kami menuntut proses yang adil dan sesegera mungkin dilakukan kepada politisi, aparat hukum dan siapa pun yang telah menyebabkan terbunuh dan ditahannya rakyat yang memperjuangkan haknya," jelasnya.

 

Awalnya, aksi berlangsung tertib. Kapolda Metro Jaya Irjen Asep Edi Suheri bahkan sempat berdialog dengan mahasiswa.

 

Namun, situasi berubah drastis menjelang malam ketika massa mulai anarkis. Bentrokan tak terhindarkan, dengan polisi dan massa saling serang di sekitar Polda Metro Jaya. (fajar)


Sejumlah kendaraan dibakar massa di area Gedung DPRD Makassar, Jumat, 29 Agustus 2025. (Foto: Dokumentasi Warga) 


MAKASSAR — Api mengiringi aksi unjuk rasa di depan Kantor DPRD Makassar, Jalan Ap Pettarani, Kota Makassar, Jumat malam, 29 Agustus 2025.

 

Kebakaran bermula dari sejumlah sepeda motor di area parkir depan Kantor DPRD Makassar yang dibakar massa.

 

Pendemo awalnya berorasi di depan Gedung DPRD. Lambat laun, massa memaksa masuk ke dalam pelataran Kantor DPRD dengan cara menjebol pagar.

 

Sama halnya di Jakarta, demo mahasiswa sejumlah kampus ini dilakukan untuk meminta keadilan atas tindakan represif aparat kepolisian terhadap demonstran.

 

Mereka juga menolak kenaikan tunjangan anggota DPR di Senayan, Jakarta.

 

Dalam rekaman yang diterima redaksi, massa tidak cukup membakar sepeda motor. Sejumlah kendaraan roda empat yang terparkir di dalam DPRD Makassar juga tak luput dari sasaran pembakaran. (rmol)


Rumah MPR, di Jalan Cilamaya, Kota Bandung, dilempar bom molotov hingga terbakar. (ERA.id/Reza Denny


 

BANDUNG — Aksi unjuk rasa di gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Barat dan sekitarnya di Jalan Diponegoro semakin memanas, pada Jumat (29 Agustus 2025).

 

Sebuah gedung di Jalan Cilamaya, Kota Bandung, tak jauh dari lokasi demonstrasi, juga terdampak. Sebuah rumah milik Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR RI) terkena bom molotov dan terbakar.

 

Selain bangun yang merupakan aset MPR RI, terlihat pagar Gedung DPRD Jawa Barat juga terbakar.

 

Massa aksi yang masih bertahan di sekitar Jalan Diponegoro ini terus meneriakkan hati-hati Intel kepada sesamanya.

 

Sementara itu, massa yang berada di depan Gedung DPRD Jawa Barat, terlihat menembaki dengan petasan ke arah kantor legislatif.

 

Di sisi lain, polisi dan TNI terlihat menjaga area falam Gedung Sate, Kota Bandung yang letaknya berseberangan dengan Gedung DPRD Jawa Barat. (era)


Massa di DPR berhasil merobohkan salah satu pagar gedung DPR RI, pada Jumat malam (29/8). (Istimewa) 

 

JAKARTA — Kemarahan massa, yang dipicu oleh berbagai elemen masyarakat, terutama mahasiswa dan pengemudi ojek online (ojol), semakin tak terkendali. Polisi tak mampu berbuat banyak untuk mengendalikan massa.

 

Di ibu kota, Jakarta, para pengunjuk rasa bahkan berhasil merobohkan salah satu pagar gedung DPR pada Jumat malam (29 Agustus). Massa berusaha menerobos dan memaksa masuk ke kompleks DPR.

 

Namun, aparat keamanan yang berjaga langsung menembakkan gas air mata ke arah massa. Mereka memilih bertahan diri di depan gedung DPR sambil membakar ban.

 

Aksi unjuk rasa tidak hanya terjadi di depan Gedung DPR RI, tetapi juga terjadi di sejumlah titik di Jakarta, salah satunya di depan Mako Brimob, Kwitang, Jakarta Pusat.

 

Demonstrasi lanjutan ini dipicu setelah tewasnya pengemudi ojek online (ojol) Affan Kurniawan, di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat, pada Kamis malam (28/8).

 

Polisi sudah mengamankan tujuh orang anggota Brimob yang mengemudikan kendaraan taktik (rantis) diduga melindas Affan saat demonstrasi berujung kericuhan, Kamis malam kemarin. 

 

Namun, ketegasan polri mengamankan anggota Brimob yang melindas driver ojol itu tidak menghentikan amarah masyarakat yang melakukan demo. Amarah rakyat terjadi diduga akibat aksi polisi yang melindas ojol di depan banyak orang.

 

Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol Asep Edi Suheri pun telah membeberkan nama lengkap tujuh anggota kepolisian yang berada di dalam kendaraan rantis Brimob, sehingga menyebabkan meninggalnya driver ojol Affan Kurniawan. Hal itu dia beberkan setelah didesak ribuan mahasiswa yang menggelar aksi di Polda Metro Jaya, Jumat (29/8).

 

Ketujuh nama itu yakni, Kompol Cosmas K Gae, Bripka Rohmad, Aipda M. Rohyani, Briptu Danang, Bripda Mardin, Baraka Jana Edi, dan Bharaka Yohanes David.

 

"Jadi teknisnya sudah dalam pemeriksaan di propam mabes Polri," ujar Asep di hadapan ribuan mahasiswa, Jumat (29/8).

 

Selain Propam, lanjut Asep, Kepolisian juga melibatkan Kompolnas dan Komnas HAM dalam mengusut insiden ini. Ia memastikan, kasus ini akan dibuka secara transparan. 

 

"Saya sudah sampaikan kepada orang tua almarhum juga, saya berkomitmen menindak tegas," pungkasnya.

 

Di Makassar, massa aksi juga melakukan sejumlah pembakaran di beberapa titik terutama di DPRD Makassar dan DPRD Sulsel. Sejumlah kendaraan yang terparkir di halaman kantor pun tidak luput dari amukan massa. (fajar)


Mobil rantis Brimob Polri menabrak driver ojol di kawasan Senayan, Jakarta, Kamis malam, 28 Agustus 2025. (Foto: Dokumentasi Warga) 


JAKARTA — Tewasnya Affan Kurniawan (21), pengemudi ojek online (ojol) yang tewas terlindas kendaraan taktis Brimob di kawasan Pejompongan, Tanah Abang, Jakarta Pusat pada Kamis malam, 28 Agustus 2025, menjadi preseden buruk bagi sistem demokrasi di Indonesia.

 

Ketua Centra Initiative, Al Araf, mengatakan bahwa di negara yang tunduk pada aturan hukum, demonstrasi damai harus ditangani sesuai dengan prosedur dan peraturan hukum yang berlaku, berdasarkan standar hak asasi manusia.

 

"Sementara kekerasan yang terjadi adalah preseden buruk yang merusak nilai-nilai demokrasi dan negara hukum, serta jauh dari standar hak asasi manusia," ujar Al Araf kepada wartawan di Jakarta, Jumat 29 Agustus 2025.

 

Dia menekankan, Kepolisian perlu secara serius memastikan penerapan dari Peraturan Kapolri No. 1/2009 tentang Tata Cara Penggunaan Kekuatan dalam Tindakan Kepolisian.

 

Serta Protap/ I /X/2010 tentang Penanggulangan Anarki, sekaligus Peraturan Komandan Korps Brimob Polri No. 3/2021 tentang Penindakan Anarki.

 

Kata dia, kekerasan berlebihan yang mengarah pada brutalitas polisi harus segera dihentikan.

 

"Sudah semestinya penanganan aksi massa dilakukan secara proporsional dan profesional, menghindari berbagai bentuk kekerasan berlebihan," tuturnya.

 

Al Araf juga mendesak agar Polri transparan dalam mengambil tindakan hukum pada personelnya yang terbukti melanggar standar operasional prosedur dalam pengamanan demonstrasi.

 

"Harus dipastikan adanya proses hukum yang tegas terhadap pelaku kekerasan, khususnya yang mengakibatkan korban meninggal dunia," tandasnya. (rmol)


Mobil Barracuda tabrak ojol saat demo ricuh di Jakarta. (tangkap layar) 


JAKARTA — Tujuh anggota Brimob ditangkap setelah terlibat dalam insiden yang melibatkan pengemudi ojek online (ojol) Affan Kurniawan (21), yang tewas tertabrak kendaraan lapis baja Brimob Polri di Jakarta Pusat (Jakpus). Pemeriksaan terhadap tujuh anggota Brimob tersebut disiarkan oleh Divisi Propam Polri melalui akun Instagram @divisipropampolri.

 

Ketujuh anggota Brimob yang diperiksa di ruang Biro Paminal Divisi Propam Polri antara lain Bripka Rohmat (kanan), Kompol Kosmas K Gae (Kompol C), Aipda M Rohyani (Aipda R), Briptu Danang (Briptu D), Bripda Mardin (Bripda M), Bharaka Jana Edi (Bharaka J), dan Bharaka Yohanes David (Bharaka Y).

 

Satu di antara pelaku mengungkapkan kondisi jalanan saat itu penuh batu. Siapa anggota Brimob yang berbicara ini belum diketahui. Jalanan yang dimaksud juga tidak dijelaskan secara detail.

 

"Saya tidak mengerti posisi orang karena saya tidak, tidak memperhatikan orang kanan-kiri Pak," ujarnya.

 

Pelaku lainnya menyampaikan kondisi saat itu penuh pecahan kaca. Asap juga membubung tinggi.

 

Penyidik kemudian bertanya kepada pelaku, apakah bisa melihat orang atau tidak dari samping ketika di dalam mobil. Anggota Brimob lain menjawab, jika kaca rantis bewarna gelap karena telah dilapisi pelindung kaca. Kondisi juga kala itu, katanya, penuh asap bekas pembakaran. Untuk bisa melihat ke depan, mereka kerap menggunakan lampu tembak.

 

"Jadi saya hantam saja. Karena kalau nggak saya terobos, itu selesai Pak sudah, massa penuh," ujarnya. (era)


Mobil Barracuda tabrak ojol saat demo ricuh di Jakarta. (tangkap layar) 

 

JAKARTA — Kendaraan lapis baja Brigade Mobil (Brimob) melindas seorang pengemudi ojek online (ojol) di Jakarta Pusat. Seorang saksi mata sekaligus pengemudi ojol, Didin Indrianto, mengatakan insiden itu terjadi saat polisi sedang memukul mundur para pengunjuk rasa di gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) di Jakarta Pusat.

 

"Mungkin dia syok, panik juga, jadi (korban) jatuh, mungkin polisi yang di dalam mobil nggak tahu atau gimana, main lindes aja. Tapi sempet ditahan kok sama massa, bahwa itu ada Gojek di bawah itu, tapi tetep nggak digubris, dilindes abis sama dia sampai ban depan sampai ban belakang," kata Didin kepada wartawan, Kamis (28/8/2025).

 

Mobil rantis itu kemudian kabur. Sejumlah ojol dan pengemudi lain langsung mengejar rantis itu sampai ke daerah Kota Casablanca. "Sempat dikejar-dikejar sampai ke Kota Casablanca dikejar. Cuma karena ujan, jadi nggak banyak, dia tahu-tahu masuk ke tol," ungkapnya.

 

Didin mengaku merinding saat melihat kondisi korban usai dilindas. Bagian perut korban luka berat karena terlindas ban rantis tersebut. Korban dibawa ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). Namun nyawanya tak tertolong.

 

"Sempet ngelihat korban, orang saya sampai merinding, nggak bisa bergerak itu orang. Langsung dibawa ke atas motor, di bawa ke RSCM. Dan dapat kabar sudah nggak ada itu orang, meninggal dunia," imbuhnya.

 

Terpisah, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyampaikan permohonan maaf atas insiden mobil rantis Brimob melindas driver ojol ketika membubarkan massa pedemo ricuh. "Saya menyesali terhadap peristiwa yang terjadi dan mohon maaf sedalam-dalamnya," kata Listyo.

 

Mantan Kabareskrim Polri ini mengatakan pihaknya sedang mencari korban-korban yang dilindas sopir mobil rantis itu. Dia mengaku sudah memerintahkan jajarannya untuk mengusut kasus ini. "Sampai saat ini kami sedang minta Kapolda, Kadivpropam, dan Tim Pusdokkes untuk mencari keberadaan korban (dan penanganan lebih lanjut)," tuturnya. (era)

 

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Ade Ary Syam Indradi di di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis, 28 Agustus 2025. (Foto: RMOL/Faisal Aristama) 


JAKARTA — Aparat kepolisian mengendus adanya pihak-pihak yang berupaya memanaskan situasi saat demonstrasi mahasiswa di Gedung DPR-MPR-DPD, Senayan, Jakarta, Kamis sore, 28 Agustus 2025.

 

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Ade Ary Syam Indradi mengungkapkan, asal usul pihak-pihak tersebut tidak jelas karena tidak memiliki struktur maupun identitas saat menggelar aksi unjuk rasa.

 

“Ya ini masih terus dilakukan pendalaman dan identifikasi,” ungkap Ade Ary kepada wartawan di Kompleks Parlemen, Senayan.

 

Secara umum, ia menyebut bahwa demonstrasi buruh yang dilakukan siang tadi dan mahasiswa di sore harinya berlangsung aman terkendali.

 

Namun demikian, Ade Ary menyebut hingga saat ini pihaknya bersama stakeholder terkait terus melakukan pemantauan di sejumlah titik pasca-demonstrasi.

 

“Rekan-rekan kami masih melakukan patroli mobile, memberikan imbauan-imbauan kepada masyarakat dalam rangka tetap menjaga kondusifitas,” tukasnya.

 

Pada hari ini, ribuan buruh melakukan aksi unjuk rasa di depan gedung DPR RI. Mereka menggelar aksi sekitar 3,5 jam, dimulai pukul 10.00 WIB hingga 13.20 WIB.

 

Tak selang berapa lama, ratusan mahasiswa dari berbagai elemen kampus pun berunjuk rasa di gerbang Pancasila dan gerbang depan Gedung DPR. Tak berlangsung lama, aparat kepolisian memukul mundur massa aksi hingga berujung ricuh. (rmol)

 

Ricuh demo (Era.id/SA) 

 

JAKARTA — Jurnalis ERA, SA, nyaris menjadi korban perampasan ponsel saat sedang meliput kericuhan demo di Jalan Asia-Afrika, Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (28/8). Jurnalis ERA mengaku ponselnya sempat dirampas oleh polisi dan diminta menghapus video hasil laporan di tempat kericuhan.

 

Perampasan ponsel sekaligus permintaan untuk menghapus video itu dialami SA saat sedang memantau situasi demo yang berubah menjadi kericuhan di Jalan Asia-Afrika, Senayan. Ia mengaku kejadian ini bermula ketika dirinya merekam aksi saling serang antara polisi dan pedemo.

 

"Jadi tadi videoin ricuh, polisi saling serang sama massa di Jalan Asia-Afrika. Nggak lama di sisi sebelah kiri jalan, ada keramaian. Di lihat dari jauh, polisi nangkep satu massa. Massa itu digebukin," ujar SA.

 

Lalu, kata SA, ia yang berusaha mendekat dan ingin mengabadikan kejadian itu langsung dihampiri seorang polisi yang mengenakan pakaian preman. SA diminta tidak mendekat ke lokasi kejadian dan merekam insiden tersebut.

 

"Terus mau ngedeket, polisi pakaian preman langsung narik saya bilang ‘udah jangan video-video. Jangan ke sana (ngedekat)’," jelasnya sambil menirukan ucapan polisi tersebut.

 

Tidak berhenti sampai di situ saja, polisi berpakaian preman itu kemudian merangkul SA dan berusaha untuk merampas ponselnya. Namun SA berusaha melawan dengan menantang polisi itu untuk ikut bersamanya.

 

"Terus saya dirangkul, bilang ‘videonya hapus’. Hp saya dipegang mau diambil. Saya tahan terus bilang ‘kenapa nggak boleh? Itu yang lain videoin. Ayo ikut lihat siapa aja yang videoin’," tegasnya.

 

Pasca ditantang oleh SA, polisi berpakaian preman itu tidak berani melawan. Oknum itu memilih pergi dan melepaskan SA tanpa merampas ponsel miliknya.

 

"Abis itu dia pergi ngejauh tinggalin saya," pungkasnya.

 

Aksi saling serang ini diketahui terjadi di Jalan Asia-Afrika, Senayan, dekat dengan Mal Senayan City. Massa menyerang petugas dengan melempar batu, bambu, hingga molotov.

 

Tindakan itu melukai seorang polisi yang kemudian dibalas dengan lemparan batu dan bambu. Aksi saling serang yang berlangsung sebentar itu kemudian dilanjutkan dengan tembakkan kembang api ke arah polisi. 

 

Polisi lantas membalas tembakkan kembang api itu dengan water cannon dan gas air mata. ***

 

Ilustrasi massa demo terlibat bentrokan dengan petugas kepolisian di kawasan Palmerah, Jakarta. (Salman Toyibi/Jawa Pos) 


JAKARTA — Aksi protes ribuan orang di sekitar Gedung MPR/DPR di Senayan, Jakarta, semakin memanas. Bentrokan antara demonstran dan aparat keamanan dimulai pada Kamis sore (28 Agustus).

 

Setelah massa buruh membubarkan diri sejak siang hari, giliran mahasiswa dan pelajar yang mendatangi lokasi.

 

Pantauan situasi di Jalan Pejompongan, Tanah Abang, Jakarta Pusat, kembali memanas. Ribuan massa yang mayoritas remaja dan pelajar melakukan aksi perusakan dengan merobohkan kamera pengawas CCTV.

 

Tak berhenti di situ, mereka juga menutup jalur rel kereta menuju Tanah Abang dan Rangkasbitung. Aksi ini membuat arus transportasi semakin lumpuh.

 

Aparat kepolisian yang berjaga mencoba membubarkan massa dengan menembakkan gas air mata. Namun, tembakan itu tak membuat mereka mundur.

 

Sebaliknya, massa justru membalas dengan menyalakan petasan dan kembang api ke arah aparat. Kondisi ini membuat suasana semakin tegang.

 

Kericuhan berdampak langsung pada lalu lintas di ibu kota. Ruas jalan tol dalam kota ditutup. Selain itu, Jalan Gatot Subroto juga telah ditutup sejak sore hari, menambah kepadatan di sejumlah titik alternatif.

 

Diketahui, Ribuan massa yang sebelumnya terkendali mulai memadati kawasan hingga menyebabkan kepadatan lalu lintas di sekitar Jalan Tol Dalam Kota.

 

Kondisi ini berdampak pada akses keluar tol Senayan atau DPR/MPR. Akibatnya, pihak Jasa Marga bersama kepolisian terpaksa melakukan rekayasa lalu lintas untuk menjaga keamanan pengguna jalan.

 

Situasi mulai memanas sejak pukul 15.00 WIB. Massa aksi mulai memasuki area jalan tol, sehingga pengalihan arus lalu lintas langsung diberlakukan.

 

“Demi keselamatan dan keamanan pengguna jalan, atas diskresi Kepolisian, Jalan Tol Cawang-Tomang-Pluit untuk sementara kami lakukan pengalihan lalu lintas selama aksi unjuk rasa berlangsung. Pengguna jalan dari arah Cawang diarahkan untuk putar balik di KM 08+100 dan 09+600, sedangkan pengguna jalan dari arah Slipi, diarahkan putar balik di KM 12+400,” ujar Ginanjar Rakhmanto, Senior Manager Representative Office 2 Jasa Marga Metropolitan Tollroad (JMT).

 

Jasa Marga menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan ini. Untuk sementara, pengguna jalan diimbau menghindari Ruas Tol Dalam Kota, terutama kawasan Semanggi dan Senayan, hingga situasi kondusif. 

 

Pengendara juga diminta memantau perkembangan terkini melalui media sosial resmi Jasa Marga, aplikasi TRAVOY yang menampilkan live CCTV, serta call center 24 jam di 14080. (fajar)


Gas air mata kadaluarsa (Era.id/Sachril) 

 

JAKARTA — Polisi terus memukul mundur pengunjuk rasa yang berdemonstrasi di Gedung DPR, Jakarta Pusat, pada Kamis, 28 Agustus 2025. Polisi diduga menggunakan gas air mata kedaluwarsa untuk memukul mundur para pengunjuk rasa.

 

Pembubaran massa ini dilakukan oleh kepolisian dengan sesekali menembakkan pelontar gas air mata. Penggunaan gas air mata ini agar massa bergegas membubarkan diri.

 

Pantauan ERA, massa terlihat kocar-kacir ketika terkena gas air mata. Di sisi lain, Brimob dan pasukan huru-hara masih bersiaga di sekitar Simpang Jalan Patal Senayan dan Jalan Asia-Afrika dekat traffic light.

 

Sesekali, terlihat polisi lewat dengan sepeda motor sambil membawa pedemo yang telah ditangkapnya.

 

Petugas itu kemudian berhenti ke depan polisi yang berjaga di Simpang Patal Senayan. Pedemo yang ditangkap itu lalu dikeroyok. Setelah itu, dia dibawa diduga untuk diperiksa.

 

Terlihat juga ada banyak bungkusan putih berserakan di dekat Simpang Jalan Patal Senayan. Saat dicek, plastik itu diduga adalah bungkus pelontar gas air mata.

 

Bungkus gas air mata itu tidak dihiraukan aparat kepolisian. Pada bungkus gas air mata itu tertulis waktu kedaluwarsa jatuh pada April 2023.

 

"38 mm TEAR GAS SHELL. Mfg: April 2020. Exp: April 2023," demikian isi tulisan di bungkusan tersebut.

 

Hingga berita ini diturunkan, massa masih bertahan di sekitar lokasi. **

 

Akses jalan protokol dari Pejompongan menuju Jalan Palmerah Timur atau Stasiun Palmerah ditutup sementara pada Kamis petang, 28 Agustus 2025. (Foto: RMOL/Bonfilio Mahendra) 

 

JAKARTA — Akses jalan protokol dari Pejompongan menuju Jalan Palmerah Timur atau Stasiun Palmerah ditutup sementara pada Kamis petang, 28 Agustus 2025.

 

Hal ini dikarenakan aksi massa menyerang barikade polisi ke arah Stasiun Palmerah.

 

Mulai dari batu, bambu, sampat botol beling hingga petasan dilempar oleh massa ke arah polisi.

 

Awalnya, polisi hanya menahan namun beberapa saat kemudian, petugas Brimob menembakan gas air mata ke arah massa.

 

Massa pun mundur ke arah Pejompongan dan traffic light Slipi.

 

Beberapa saat setelah mundur, massa kembali menyerang petugas dan saling serang pun tak terhindarkan. Pengamatan redaksi, massa tidak satupun menyampaikan aspirasi.

 

Sementara itu, lalu lintas KAI Commuter dari Stasiun Tanah Abang ke Palmerah maupun sebaliknya juga lumpuh. (rmol)

 

Mobil Barracuda tabrak ojol saat demo ricuh di Jakarta. (tangkap layar) 


JAKARTA — Aksi unjuk rasa yang berlangsung di kawasan Gedung Dewan Perwakilan Rakyat RI (DPR RI) berujung ricuh antara demonstran dan aparat kepolisian, Kamis sore (28/8/2025).

 

Dalam kerusuhan itu yang terekam video, sebuah kendaraan taktis Barracuda Polri menabrak seorang pengemudi ojek online (ojol) yang berada di tengah kerumunan di Jalan Raya Pejompongan, Jakarta Pusat.

 

Sang ojol langsung tersungkur berada di dalam mobil tersebut. Massa aksi yang begitu banyak langsung menolong pengemudi itu. Tapi, mobil barakuda itu malah melanjutkan laju kendaraannya dan sengaja meninjak Ojol mulai dari ban depan hingga ban belakang.

 

Para pendemo langsung marah dan mengejar mobil barakuda yang terus kabur meninggalkan lokasi kejadi. "Ya Allah, ya Allah diinjak. Polisinya enggak mau berhenti, kasian abang Ojeknya. Bener kelindas dari situ, aku melihat banget," ujar wanita yang merekam kejadian itu.

 

Sebagian massa terus mengejar mobil itu, dan sebagian warga ada yang menolong Ojek dan langsung dibawa pakai motor untuk dibawa ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan.

 

Akhirnya, Ojol pun dibawa mobil ambulance dan mobil barakuda masih terus dikejar massa aksi hingga ada sebagain dari mereka bawa kayu agar mobil barakuda itu berhenti dan bertanggungjawab. (era)


Aparat kepolisian mengamankan aksi demonstrasi 'Revolusi Rakyat Indonesia' di Gedung DPR/MPR Jakarta, Senin 25 Agustus 2025. (Foto: RMOL/Bonfilo Mahendra)


JAKARTA — Wakil Menteri Investasi/BKPM Todotua Pasaribu meminta seluruh masyarakat Indonesia untuk menaruh kepercayaan yang besar kepada pemerintah dalam mengelola negara.

 

"Berikan kepercayaan sama pemerintah, karena pemerintah belum apa-apa," kata Wamen Todo dalam acara diskusi publik Berani Bicara #4 bertemakan ‘Akankah Realisasi Investasi 2025 Capai Target?’ di Rumah Besar Gatot Kaca, Selong, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu, 27 Agustus 2025.

 

Hal itu menyusul adanya aksi demonstrasi massa dalam menanggapi kebijakan pemerintah belakangan ini.

 

Ia mengaku pernah menjadi demonstran ketika menggulingkan Presiden Soeharto, namun kali ini Todo menjadi seorang pejabat tinggi negara. Ia meminta masyarakat untuk tidak menghabiskan energi dengan unjuk rasa.

 

"Dulu memang kita pelaku demo, dulu waktu masuk kuliah, saya ini pernah menjatuhkan presiden. Bukan cuma pelaku demo. Pernah menjatuhkan presiden, terus terang aja. Tetapi, kita mau apa lagi sekarang?" tegasnya.

 

Ia menambahkan masyarakat Indonesia perlu berkaca dari China dan Thailand yang memiliki pendapatan perkapitanya jauh melebihi Indonesia. Kedua negara itu dianggap sebagai tempat yang aman dalam berbisnis dan berinvestasi.

 

"Kita ini nanti akan cuma menjadi momok, ini yang namanya penjajahan ekonomi,” tandasnya. (rmol)

 

Dugaan Korupsi Kuota Haji, KPK Didesak Segera Tangkap Menag 

 

JAKARTA — Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengungkap praktik jual beli kuota haji khusus untuk musim haji 2024. Harga jualnya selangit. Kuota haji khusus mencapai Rp300 juta per orang, sementara kuota haji Furoda mencapai hampir Rp1 miliar. Kelebihan biaya tersebut dilaporkan dibayarkan oleh jemaah kepada pejabat di Kementerian Agama, yang jumlahnya mencapai ribuan dolar AS per kuota.

 

Menanggapi hal ini, pegiat media sosial Lia Amalia mengkritik para terduga pelaku. Ia menyebut insiden tersebut "sangat keterlaluan" melalui akunnya yang bertanda centang biru, @liaasister.

 

"Keterlaluan banget, kuota haji yang seharusnya diberikan kepada calon haji yang sudah menunggu lama malah diperjualbelikan oleh pejabat-pejabat kemenag. Keterlaluan banget, agama diperjualbelikan 🤦," ujar alumni UMS itu, dikutip Rabu (27/8/2025)

 

Sebelumnya, KPK menduga kuota tambahan dari Arab Saudi yang semestinya untuk memangkas antrean justru dijual ke pihak tertentu agar bisa langsung berangkat.

 

KPK menilai, perubahan pembagian kuota haji reguler dan khusus yang tak sesuai aturan diduga menjadi pintu masuk praktik ini.

Ada pun, skema jual beli kuota bermula dari pertemuan Presiden Jokowi dengan pemerintah Arab Saudi pada 2023 yang menghasilkan tambahan 20 ribu kuota. Diduga ada rapat yang menyepakati pembagian 50%-50% antara kuota reguler dan khusus, meski aturan membatasi kuota khusus maksimal 8 persen.

 

Setoran dari pihak travel ke oknum Kemenag diperkirakan mencapai USD 2.600-7.000 per kuota.

Akibat praktik ini, kerugian negara diperkirakan lebih dari Rp 1 triliun. KPK telah mencegah eks Menag Yaqut Cholil Qoumas, mantan stafsusnya Gus Alex, serta bos travel Maktour Fuad Hasan bepergian ke luar negeri.

 

Penggeledahan juga dilakukan KPK beberapa kali menyita mobil, aset, dokumen, dan barang bukti elektronik. (fajar)

 

Ilustarsi demo di DPR. (Antara) 

 

JAKARTA — Polisi mengatakan Lurah Manggarai Selatan, Muhammad Sidik melaporkan kejadian pemukulan yang dialaminya saat unjuk rasa yang berujung ricuh di sekitar gedung DPR/MPR/DPD RI, Senin (25/8).

 

"Sudah buat LP (laporan polisi) kemarin sore di Polsek," kata Kapolsek Palmerah, Kompol Gomos Simamora kepada wartawan, Rabu (27/8/2025).

 

Sidik membuat laporan penganiayaan yang dialaminya atau atas dugaan pelanggaran Pasal 170 KUHP.

 

Sebelumnya, Camat Tebet, Dyan Airlangga mengumpulkan bukti pendukung terkait pemukulan oleh massa terhadap Lurah Manggarai Selatan dan sopirnya, Asep Yudiana saat terjadi unjuk rasa di depan gedung DPR/MPR/DPD RI.

 

Pemukulan terjadi di Jalan KS Tubun, Slipi, Jakarta Barat, pada Senin (25/8) malam pukul 18.30 WIB.

 

"Kita saat ini sedang mengumpulkan bukti-bukti pendukung," kata Dyan saat dihubungi di Jakarta, Selasa. Dyan mengatakan, dari data pendukung tersebut nantinya pihaknya akan melaporkan kepada pimpinan.

 

Adapun terkait kronologi, Dyan mengatakan, saat kejadian lurah sedang dalam perjalanan pulang ke rumah.

 

Saat melintasi para pendemo hanya karena mobil tersebut berpelat merah sehingga akhirnya mobil itu dirusak oleh massa. Kejadiannya berlangsung cepat.

 

"Ketika di lokasi tersebut ternyata masih banyak pendemo dan kejadiannya cepat saja. Jadi langsung karena pelat merah jadi sasaran," katanya.

 

Dari kejadian tersebut, pihaknya bersama unsur terkait sudah mengambil mobil yang dirusak dan sudah dibawa ke tempat lebih aman. (era)

 

Aksi 25 Agustus 2025 memanas, polisi siaga ketat di sekitar Gedung DPR RI. Pintu DPR dilumuri oli hitam pekat.(Radar Bangkalan) 

 

JAKARTA — Gelombang protes terhadap sejumlah kebijakan pemerintah dan DPR belum mereda. Setelah demonstrasi besar-besaran pada hari Senin (25 Agustus 2025), para pengunjuk rasa berencana kembali turun ke jalan pada hari Kamis (28 Agustus 2025).

 

Informasi yang beredar menyebutkan, Forum AKSI akan bergabung dengan elemen mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPR RI, Jakarta.

 

Berdasarkan seruan aksi yang beredar, titik kumpul ditetapkan di depan pintu masuk DPR (Jl. Gatot Subroto) pukul 13.00 WIB. Berdasarkan ajakan aksi yang beredar, titik kumpul ditetapkan di depan pintu masuk DPR (Jl. Gatot Subroto) pada pukul 13.00 WIB.

 

Empat tuntutan utama yang akan disuarakan dalam aksi ini meliputi:

 

-Bubarkan Danantara

-Turunkan tunjangan anggota DPR

-Lengserkan Menkeu Sri Mulyani yang disebut sebagai maestro pemungut pajak rakyat

-Lengserkan Gibran

 

Seruan ini menegaskan bahwa aksi Kamis besok akan menjadi lanjutan dari protes sebelumnya yang menyoroti isu kenaikan tunjangan DPR dan berbagai kebijakan ekonomi.

 

Sebelumnya, Demonstrasi di depan Gedung DPR/MPR RI, Senayan, Jakarta diwarnai kericuhan, Senin (25/8/2025). Massa turut diikuti oleh banyak anak-anak sekolah.

 

Polisi kemudian memukul mundur aksi demo yang dinilai mulai tidak kondusif.

 

Sekitar pukul 12.30 WIB, massa yang berasal dari berbagai aliansi mulai berdatangan ke depan Gedung DPR RI.

 

Mereka terlihat melakukan pelemparan ke arah gedung wakil rakyat tersebut.

 

Bahkan, massa yang sempat berlari menuju Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) di depan Gedung DPR RI juga ikut dihalau dan dipukul mundur.

 

Tuntutan utama yang ramai beredar dalam seruan demo 25 Agustus adalah pembubaran Dewan Perwakilan Rakyat (DPR RI).

 

Beberapa seruan bahkan mendesak Presiden Prabowo Subianto untuk mengeluarkan dekrit guna membubarkan lembaga legislatif tersebut.

 

Tidak hanya itu, ada pula tuntutan untuk mengusut dugaan korupsi yang melibatkan keluarga Presiden ke-7 RI Joko Widodo.

 

Selain itu, seruan juga mencakup desakan untuk pemakzulan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, menambah daftar isu yang ingin diangkat oleh para pengunjuk rasa. (fajar)

 

SN

{picture#} YOUR_PROFILE_DESCRIPTION {facebook#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {twitter#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {google#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {pinterest#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {youtube#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {instagram#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL}
Diberdayakan oleh Blogger.